Sejarah Singkat Pahlawan Nasional Mohammad Hatta

Bung Hatta lahir pada 12 Agustus 1902 di Bukittinggi dan berasal dari keturunan ulama Muhammad Djamil dan diberi nama Muhammad Athar yang berarti ‘harum’. Beliau bersekolah di ELS hingga 1913 dan MULO hingga 1917.

Selain keluarga, perdagangan di Minangkabau sangat memberi perhatian bagi Hatta mengenai perekonomian. Beliau bahkan aktif sebagai Bendahara dalam Jong Sumatranen Bond, dan dilanjutkan sebagai Bendahara pula di Jakarta saat Beliau bersekolah di Prins Hendrik School.

Hatta mengenyam pendidikan di Handels Hogeschool (sekarang Universitas Erasmus Rotterdam, Belanda) dan aktif dalam perkumpulan pelajar tanah air Indische Vereeniging yang kemudian menjadi Perhimpunan bersama tiga tokoh Indische Partij, yaitu Ki Hadjar Dewantara, Cipto Mangunkusumo, dan Douwes Dekker.

Hatta menjadi ketua PI pada 1925 dan menjadi delegasi perdamaian internasional di Perancis pada 1926 dan mengenalkan Indonesia pada internasional dengan menentang imperialisme dan kolonialisme Belanda di Indonesia.

Karena hal itu, ia disebut menentang Belanda dan disidangkan di pengadilan bersama Ali Sastroamidjojo, Nazir Datuk Pamuntjak, dan Madjid Djojohadiningrat.

Mereka dituduh mengikuti partai terlarang yang dikaitkan dengan Semaun yang terlibat pemberontokan PKI yang menghasut supaya menentang Belanda. Dalam pembelaannya Hatta berpidato dengan judul Indonesia Free, semua tuduhan terhadapnya tidak dapat dibuktikan, sehingga Beliau dibebaskan.

Pada 1931 Hatta mengundurkan diri dari Perhimpunan Indonesia untuk menyelesaikan sarjananya. Namun demikian Beliau tetap membantu kegiatan PI. Tak lama setelah itu, PI mendapat pengaruh dari partai komunis Belanda dan Moskow yang anti dengan pandangan Hatta.

Sehingga kemudian Hatta dikeluarkan dari PI karena mengkritisi internal PI. Meskipun demikian, ada beberapa orang yang mendukung Hatta dan bersama membentuk Pendidikan Nasional Indonesia.

Pada 1932, Hatta bergabung dengan Partai Pendidikan Nasional Indonesia yang mengadakan kesadaran politik rakyat dengan pelatihan. Hal ini mendapat perhatian Belanda sehingga Hatta turut diasingkan ke Digul, Papua.

Pada 1935 Hatta dan Sjahrir diasingkan kembali ke Banda Neira dan kembali ke Sukabumi pada 1942. Pada saat itu, kekuasaan Belanda dilemahkan oleh Jepang, sehingga Hatta dibawa ke Jakarta.

Pada Agustus 1945, beliau bersama Soekarno menjadi bagian Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia untuk merumuskan proklamasi. Sehari setelah proklamasi, Hatta diangkat menjadi wakil presiden RI yang pertama. Hatta baru mulai membangun rumah tangga dengan Rahmi Hatta dan berkediaman di Yogyakarta. Mereka dikaruniai tiga anak perempuan.

Selama di Yogyakarta, pemerintahan Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta dan di sana pula lahir Perjanjian Linggarjati dan Perjanjian Renville yang kemudian berakhir karena kecurangan pihak Belanda.

Setelah itu, Hatta menemui Jawaharhal Nehru yang dikenalnya sejak turut dalam Kongres Demokrasi Internasional untuk membantu melaporkan kecurangan Belanda kepada PBB.

Pasca kemerdekaan, Hatta masih aktif menulis dan membimbing perkembangan koperasi di Indonesia. Pada 12 Juli 1951, Beliau memproklamirkan hari jadi Koperasi dan diangkat sebagai Bapak Koperasi Indonesia.

Pada 1 Desember 1956, Hatta mengundurkan diri dari jabatan wakil presiden. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan pendapat dengan presiden dan sikap DPR yang tidak juga menetapkannya sebagai wakil presiden.

Hatta wafat pada 14 Maret 1980 dan mendapatkan tanda kehormatan Bintang Republik Indonesia Kelas I dari presiden Soeharto.

Selain itu, Beliau juga diberikan gelar Pahlawan Proklamator bersamaan dengan Bung Karno pada 23 Oktober 1986, dan gelar Pahlawan Nasional dari presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 7 November 2012.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.