Profil Provinsi Maluku: Sejarah, Geografi, Seni dan Budaya

Maluku berasal dari bahasa Arab Al-Mulk yang berarti negeri para raja, yang mana pada jaman dahulu terdiri atas berbagai kerajaan kecil di masing-masing daerahnya.

Sejarah

Oleh penduduk asli, Maluku berasal dari bahasa Ternate Moloku, Moloko yang berarti tanah air, yang disebut sebagai Moloku Kie Raha atau Kesultanan Empat Gunung atau Tanah Air Empat Gunung. Keempat gunung tersebut ialah empat kerajaan besar di Maluku, yakni Kerajaan Ternate, Kerajaan Bacan, Kerajaan Tidore, dan Kerajaan Jailolo.

Geografi Provinsi Maluku

Banyak hal menarik yang dapat mewakili wajah Maluku sebagai provinsi berupa kepulauan di wilayah Indonesia bagian timur. Provinsi Maluku berada pada 2º 30′ – 9º Lintang Selatan dan 124º – 136º Bujur Timur.

Provinsi Maluku berbatasan langsung dengan Laut Seram di sebelah utara, dengan Laut Arafuru di sebelah selatan, dengan Pulau Irian di sebelah timur, dan dengan Pulau Sulawesi di sebelah barat.

Dengan luas sekitar 712.480 km2, Maluku terbagi atas 9 kabupaten dan 2 kota yang mana kota Ambon sebagai ibukota provinsi. Berdasarkan Stasiun Meteorologi dan Geofisika Provinsi Maluku, curah hujan di Maluku ialah 1000 hingga lebih dari 2000 mm/tahun.

Provinsi Maluku berada pada jalur lintas Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) yang menjadikan Maluku sebagai lokasi strategis untuk perdagangan. Mayoritas perekonomian masyarakat bersumber dari sektor perdagangan, dan sisanya berasal dari pertanian.

Jumlah penduduk di Maluku berdasarkan sensus penduduk pada 2010 ada hampir 1.500.000 jiwa dengan mayoritas penduduk memeluk agama Islam, Kristen Protestan dan Katolik, yang mana penduduk berusia produktif kurang lebih berjumlah 596.000 orang dengan angkatan kerja sebanyak 90% dari penduduk dengan usia produktif.

Sebagai lokasi strategis perdagangan, di Provinsi Maluku didukung dengan infrastruktur transportasi berupa pelabuhan umum, jalanan darat, bandar udara internasional; telekomunikasi; penyediaan tenaga listrik meskipun masih membutuhkan pengembangan, dan perbankan daerah maupun nasional.

Seni dan Budaya Provinsi Maluku

Kebudayaan di Provinsi Maluku sangat kaya, terlihat dari beragam suku dan bahasa yang hidup di dalamnya. Suku yang tinggal di Maluku antara lain suku Alifuru, suku Togitil, suku Furu Aru, dan lainnya dengan bahasa daerah Bahasa Togitil, Ahfuru, dan Furu Aru.

Rumah Adat

Adapun rumah adat provinsi Maluku dikenal dengan Baileo, sebutan ini sama dengan rumah adat provinsi Maluku Utara. Baileo merupakan rumah panggung yang memiliki teras berkeliling dengan atap rumbia yang besar dan tinggi, dan dinding yang terbuat dari tangkai rumbia. Baileo biasanya digunakan sebagai tempat melangsungkan upacara adat Saniri Negeri, pertemuan maupun musyawarah.

Tarian Adat

Dari segi kesenian, di Maluku dikenal tarian daerah antara lain tari Lenso sebagai tarian persatuan dalam pergaulan masyarakat, tari Cakalele sebagai tarian perang yang menunjukkan kepahlawanan, tari Cakaola yang dikombinasikan dari tari tradisional Orlapei dan Saureka-reka untuk penyambutan tamu terhormat maupun tarian di acara pesta.

Lagu

Adapun lagu tradisional Maluku antara lain Kole Kole, Mande Mande, dan Rasa Sayang Sayange, dengan alat musik tradisional berupa alat musik pukul tifa dan totobuang, alat musik petik ukulele, dan musik lainnya seperti Sawat yang juga dipengaruhi musik dari budaya Timur Tengah.

Potensi Wisata Alam

Di dunia internasional, Maluku dikenal dengan sebutan Moluccas, yang sejak tahun 1999 terpecah dengan Maluku Utara yang memisahkan diri menjadi provinsi baru. Berbentuk kepulauan, Maluku terdiri atas pulau-pulau yang menawarkan bentang alam yang indah dari kepulauan Banda dan Babar, kepulauan Tanimbar, Kai, dan Leti, Pulau Ambon, Pulau Saparua, Seram, Wetar, Kisar, dan Buru.

Potensi wisata alam di Maluku antara lain ada pada Taman Laut Manusela di Pulau Banda, Pantai Pasir Panjang di Tual Maluku Tenggara dengan pasir putih, Pantai Natsepa, Pintu Kota di ujung Pulau Ambon yang menjorok ke Laut Banda, Pantai Liang di Ambon, Pantai Pasir Panjang di Kai, Pantai Latulahat di Ambon, dan banyak pantai lainnya.

Selain itu juga terdapat situs sejarah seperti Benteng Duurstede di Saparua, Benteng Amsterdam di Ambon, Benteng Victoria di Ambon, Banda Neira di Banda, Benteng Belgica di Banda, Gua Ohoidertavun di Kai, dan Masjid Kuno Desa Kaitetu.

Sumber Daya Alam

Maluku juga terkenal dengan sumber daya alamnya yang melimpah, baik sumber daya hutan, pertambangan, maupun perikanan. Luas hutan di Maluku ada sekitar 54.000 km2 dengan hutan produksi sekitar 1.770.000 Ha dan hutan yang dapat dikonversi sekitar 1.600.000 Ha.

Hasil tambang yang pernah diperoleh di Maluku antara lain emas yang terdapat di Pulau Buru, Wetar, Ambon, Haruku, dan Romang; perak di Pulau Damar; kuarsa di Pulau Buru; logam dasar di Nusalaut dan Pulau Haruku, mangaan di Laut Banda; dan minyak bumi di Pulau Seram, Laut Banda, Kepulauan Aru, dan perikanan di daerah Kepulauan Banda, Kei, Aru, dan Maluku Tenggara serta Maluku Barat Daya.

Maluku juga pernah ditetapkan sebagai Lumbung Ikan Nasional sejak 2010 oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan. Adapun hasil perikanan yang terdapat di Maluku antara lain ikan pelagis besar dan kecil, ikan demersal, ikan karang, udang, lobster, dan cumi, dan potensi budidaya laut berupa udang windu dan ikan bandeng.

Gong Perdamaian Dunia

Pada tahun 2002, provinsi Maluku pernah mendapat penghargaan Gong Perdamaian Dunia yang sekarang ada di Ambon City Centre, sebagai penghargaan atas selesainya tragedi Ambon yang dikenal dengan konflik Basudara Salam Sarane yang memakan banyak korban jiwa. Kejadian ini sebagai penyebab pemisahan wilayah antara provinsi Maluku dengan provinsi Maluku Utara.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.