Kisah Singkat Sahabat Nabi: Tsa’labah Bin Hathib

Seringkali kita dengar mengenai kisah-kisah tentang nabi dan sahabat-sahabatnya. Kisah-kisah tersebut diceritakan agar kita semua selaku umat Allah SWT dapat mengambil hikmah dan pelajaran. Dengan demikian kita akan selalu berusaha untuk istiqomah dalam menjalankan aturan-aturan Allah dan menghindari larangan-larangan Allah.

Berikut adalah salah satu kisah mengenai Tsa’labah, salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW.

Kisah Tsa’labah bin Hatib

Kisah ini terjadi pada zaman Nabi Muhammad SAW. Pada saat itu tersebutlah seroang sahabat nabi bernama Tsa’labah bin Hatib. Ia adalah seorang yang sangat rajin mengerjakan sholat berjamaah di masjid bersama habi dan juga sahabat – sahabatnya yang lain. Namun Tsa’labah selalu terburu – buru untuk keluar dari masjid setiap selesai sholat, bahkan sebelum sempat berdoa. Hal tersebut tentu saja membuat Rasulullah heran.

Suatu hari Rasulullah pun bertanya kepada Tsa’labah, “Mengapa kau selalu terburu – buru keluar dari masjid wahai Tsa’labah?”

Tsa’labahpun menjelaskan, bahwa dirinya demikian miskin sampai – sampai selembar sarung yang ia gunakan untuk sholat harus bergantian dipakai oleh istrinya. Tsa’labah lalu meminta kepada Rasulullah agar mau memohon kepada Allah agar memberikan rizki kepadanya.

Mendengar permintaan Tsa’labah tersebut, Rasulullah pun mengatakan agar Tsa’labah mensyukuri apa yang telah dimilikinya. Karena selalu mensyukuri harta yang ada walaupun sedikit jauh lebih baik dibandingkan dengan harta yang banyak namun tidak dapat disyukuri. Rasulullah juga mengingatkan bahwa nabi – nabi Allah hidup dengan mensyukuri apa ynag dimiliki, seberapapun jumlahnya. Padahal jika saja Rasulullah mau memohon kepada Allah agar gunung – gunung dirubah menjadi emas dan diberikan kepadanya, pasti Allah akan memberi.

Namun Tsa’labah tetap meminta kepada Rasulullah agar mau mendoakan dirinya sehingga bisa diberi harta oleh Allah SWT. Tsa’labah berjanji jika Allah memberinya harta benda dan kekayaan, maka ia tak akan lupa bersedekah.

Akhirnya Rasulullah pun mendoakan Tsa’labah agar diberi rizki. Doa Rasulullah dikabulkan oleh Allah. Tsa’labah memiliki seekor biri – biri betina yang dirawat dengan baik, sampai kahirnya biri – biri itupun beranak pinak.Begitu seterusnya hingga biri – biri milik Tsa’labah mencapai ratusan ekor.

Tsa’labah sangat senang dengan kemajuan usahanya tersebut. Ia sampai – sampai harus pindah ke luar Madinah karena di tempat tinggalnya tak ada lagi lahan yang cukup. Namun sayangnya, kesibukan Tsa’labah untuk mengurus danmenggembalakn biri – birinya membuat Tsa’labah lupa mengerjakan sholat lima waktu. Ia hanya mengerjakan sholat di hari Jumat saja.

Suatu hari Rasulullah menanyakan kabar Tsa’labah kepada para pedagang yang mengenalnya. Betapa terkejut dan marahnya Rasulullah mendengar bagaimana kehidupan Tsa’labah sekarang. Pada saat itu turunlah perintah Allah untuk berzakat.

Rasulullah mengutus 2 orang sahabatnya untuk mendatangi Tsa’labah dan mengambil zakat atas hartanya. Ketika tiba di tempat Tsa’labah dan menyampaikan apa maksud kedatangan mereka, Tsa’labah meminta kedua orang utusan tersebut untuk terlebih dahulu meminta zakat kepada orang – orang lain baru kembali lagi padanya.

Namun setelah kedua orang utussan rasulullah kembali ke tempat Tsa’labah, masih saja Tsa’labah beralasan macam – macam agar tidak perlu bersedekah. Tsa’labah kemudian mengusir 2 orang tersebut.

Hukuman Untuk Tsa’labah yang Kikir

Setelah kedua utusan Rasulullah menyampaikan hal tersebut kepada Rasulullah, maka Rasulullah menjadi marah dan berdoa kepada Allah agar Tsa’labah mendapat hukuman yang setimpal. Tsa’labah pun mendengar mengenai kejadian itu. Iapun menjadi sangat ketakutan dan bergegas menemui Rasulullah untuk membayar zakat.Rasulullah menolak zakat dari Tsa’labah karena Allah melarangnya.

Tak perlu menunggu lama, hukuman Allah pun datang untuk Tsa’labah. Hewan ternaknya mati satu persatu hingga akhirnya tak ada lagi yang tersisa. Tsa’labah pun mengalami kebangkrutan dan kembali miskin.

Itulah peringatan Allah kepada orang – orang yang munafik. Berjanji namun tidak menepati janjinya. Kikir dan tidak mau membersihkan hartanya dengan berzakat.

Cerita tersebut memberikan peringatan kepada kita untuk selalu bersyukur atas apa yang telah kita miliki. Juga merupakn peringatan agar kita selalu berzakat dan bersedekah kepada mereka yang kurang mampu. Karena sesungguhnya harta kita hanyalah titipan, dan di dalam harta kekayaan tersebut ada hak dari kaum yang tidak berpunya.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.