5 Cerita Rakyat Indonesia Paling Populer | Legenda Nusantara
infoana.com

12 Cerita Rakyat Indonesia Paling Populer | Legenda Nusantara

Posted on

Kita semua tahu, Indonesia tak hanya kaya akan beragam bahasa, suku, makanan maupun tarian tapi juga memiliki warisan budaya. Salah satunya adalah cerita rakyat yang turun temurun disampaikan secara lisan oleh orang tua, kakek atau guru di sekolah.

Pada umumnya, cerita rakyat bersifat anonim atau pengarangnnya tidak dikenal. Cerita rakyat menjadi bagian yang tak terpisahkan dari budaya Indonesia. Hampir semua daerah di Indonesia memiliki cerita rakyat masing-masing.

Kumpulan Cerita Rakyat Indonesia yang Paling Populer

Nah, sebagai generasi muda Indonesia wajarlah bila seharusnya kita mempelajari atau paling tidak mengetahui Cerita Rakyat apa saja yang berasal dari indonesia.

Yuk, Simak beberapa cerita rakyat yang paling populer di Indonesia.

1. Cerita Rakyat: Bawang Merah dan Bawang Putih

Pernahkah Anda mendengar cerita rakyat bawang merah bawang putih? Pastinya hampir semuanya akan berkata sudah. Cerita rakyat yang satu ini memang sudah sangat terkenal di telinga anak-anak Indonesia. Cerita rakyat bawang merah bawang putih berasal dari daerah Yogyakarta.

Cerita rakyat ini menceritakan kisah seorang gadis cantik bernama bawang putih dengan saudari dan ibu tirinya. Cerita rakyat ini intinya berpesan, kebaikan akan medatangkan sesuatu yang baik, sedangkan keburukan akan mendatangkan sesuatu yang buruk.

Berikut kisah singkat Bawang Merah dan Bawang Putih.

Dikisahkan, hiduplah seorang anak gadis cantik nan baik bernama Bawang Putih. Bawang Putih tinggal berdua dengan ayahnya yang sangat dia cintai di sebuah desa di daerah Yogyakarta. Ibu kandung Bawang Putih sudah lama meninggal akibat sakit keras yang dideritanya. Bawang Putih hidup di keluarga yang sangat sederhana, ayahnya hanya pedagang kecil. Walupun begitu mereka selalu bersyukur atas nikmat yang dikaruniahkan oleh Tuhan tersebut.

Semenjak ditinggal oleh Ibunya, Bawang Putih merasa sangat kesepian. Apalagi jika ayahnya pergi ke pasar seharian untuk berdagang. Melihat kondisi Bawang Putih yang seperti itu, Ayahnya berniat untuk mempersunting Mbok Rondo, seorang janda dengan satu anak gadis yang hidup satu desa dengannya. Dengan harapan, Bawang Putih tidak lagi kesepian karena ada yang menemaninya di rumah. Namun, ayah Bawang Putih tidak serta merta langsung menikahinya. Sebagai ayah yang bijak, meminta pertimbangan Bawang Putih tentang rencananya tersebut.

Bawang Putih mengerti maksud ayahnya tersebut. Dia pun merasa kehadiran Mbok Rondo dalam keluarganya akan membuat suasana semakin ramai dan akan membuat dia tidak merasakan kesepian lagi. Apalagi, Mbok Rondo memilki seorang anak gadis yang bernama Bawang Merah, yang umurnya tidak jauh dari Bawang Putih. Dengan pertimbangan tersebut, Bawang Putih menyetujui permintaan ayahnya untuk menikah dengan Mbok Rondo.

Setelah menikah, Mbok Rondo dan anak gadisnya, Bawang Merah, tinggal bersama dengan Bawang Putih dan ayahnya. Awalnya, Mbok Rondo dan Bawagn Merah bersikap sangat baik dengan Bawang Putih. Namun, setelah beberapa lama, sifat asli mereka beruda mulai terlihat. Ketika ayah Bawang Putih sedang pergi berdagang, Mbok Rondo dan Bawang Merah kerap memarahi Bawang Putih dan menyuruhnya untuk melakukan pekerjaan berat dengan mengerjakan semua pekerjaan rumah dari mulai bersih-bersih, mencuci dan memasak. Sedangkan Mbok Rondo dan Bawang Merah hanya bermalas-malasan saja.

Bawang Putih tidak berani menceritakan apa yang dilakukan oleh ibu dan saudari tirinya tersebut ke ayahnya. Hal itu dikarenakan beberapa bulan terakhir ayahnya sering jatuh sakit. Bawang Putih tidak ingin membuat khawatir ayahnya yang akan membuat kondisinya semakin buruk. Apa yang dikhawatirkan Bawang Putih pun terjadi, ayah yang sangat dia cintai meninggal dunia karena sakit yang dia derita. Sejak saat itu, kehidupan Bawang Putih semakin menyedihkan. Ibu tiri dan saudara tirinya semakin berkuasa dan semena-mena terhadap Bawang Putih. Bahkan, Mbok Rondo tidak segan-segan menampar Bawang Putih jika dia lalay mengerjakan semua pekerjaan rumah yang dibebani kepadanya.

Suatu pagi, usai bersih-bersih rumah, Bawang Putih pergi ke sungai untuk mencuci satu keranjang penuh pakian kotor Mbok Rondo dan Bawang Merah. Satu per satu, pakain kontor tersebut dia cuci dengan bersih. Alangkah terkejutnya Bawang Putih ketika salah satu pakaian kotor tersebut hayut terbawa arus sungai. Pakain tersebut merupakan pakain kesukaan Mbok Rondo. Pakaian tersebut sudah hanyut terlalu jauh untuk di ambilnya. Dengan perasaan takut, Bawang Putih pun kembali ke rumah dan menceritakaan kepada ibu tirinya.

Jelas saja, Mbok Rondo murka mendengar pakaian kesukaanya hilang hanyut di sungai. Mbok Rondo tak segan menampar Bawang Putih atas kecerobohannya tersebut. Bawang Putih pun diancam diusir dari rumahnya jika tidak menemukan kembali pakaian kesukaan ibu tirinya tersebut. Bergegas, Bawang Putih langsung menyusuri sungai untuk mencari pakaian tersebut. Bawang Putih bertanya kepada setiap orang yang dia temui, namun mereka tidak melihat ada pakaian hayut di sungai. Hari semakin sore, Bawang Putih masih tetap berjalan menyusuri tepi sungai berharap dia menemukan pakaian tersebut.

Setelah beberapa jam berjalan, dia bertemu dengan seorang nenek yang sedang mencuci beras di pinggir sungai. Bawang Putih mulanya takut bertanya kepada nenek tersebut, karena penampilanya yang sangat menyeramkan. Namun Bawang Putih harus menemukan pakaian ibu tirinya tersebut. Jika tidak, dia akan diusir dari rumah yang dia tempati dari sejak kecil tersebut.

“Maaf nek, Apakah nenek melihat pakaian hayut di sungai ini”, Bawang Putih bertanya dengan takut.

“Mmmm.. Pakaian ya. Apakah pakaian yang kau cari berwarna merah dengan corak kembang-kembang?” Tanya nenek menyeramkan tersebut.

“Iya.. iya.. nek. Itu pakaian yang saya cari.” Jawab Bawang Putih bahagia.

“Tadi nenek temukan pakaian tersebut tersakut di batu. Mari ke rumah nenek, hari juga sudah mulai gelap. Menginaplah malam ini.” Nenek itu barkata.

Bawang putih pun menuruti perkataan Nenek tersebut untuk pergi dan menginap semalam di rumahnya yang tidak jauh dari sungai. Alangkah terkejutnya Bawang Putih melihat rumah nenek tersebut sangat kotor dan berantakan. Karena kasihan, Bawang Putih memutuskan untuk tinggal beberapa hari bersama Nenek tersebut dan membantunya melakukan pekerjaan sehari-hari. Dengan rajin, Bawang Putih memberihkan rumah, mencucikan baju, dan juga memasak. Nenek tersebut senang, masih ada orang baik yang mau membantunya. Setelah beberapa hari berlalu, Bawang Putih pun memutuskan untuk pulang karena takut Ibu tirinya marah karena tidak pulang beberapa hari.

“Nek, sebenarnya saya ingin tinggal lebih lama di sini. Namun, saya haru mengembalikan pakaian ini ke ibu saya. Saya takut di marah, Nek.” Kata Bawang Putih.

“Baiklah nak, nenek mengerti. Karena kamu sudah baik membantu Nenek di sini. Ambil lah salah satu dari ke dua labut kuning ini sebagai hadiah.” Pinta Nenek.

Awalnya, Bawang Putih ingin menolak pemberian Nenek tersebut karena ia pikir labu tersebut merupakan simpanan makanan nenek. Namun, pikir Bawang Putih, tidak lah baik menolak pemberian orang. Akirnya dia mengambil satu yang terkecil dari dua labu tersebut. Kemudian, Bawang Putih pun izin pergi dan kembali pulang ke rumahnya. Tidak lupa, dia juga membawa pakaian ibu tirinya tersebut.

Setibanya di rumah, Bawang Putih pun memberikan pakaian tersebut ke ibu tirinya. Ibu tirinya tetap saja marah. Mungkin karena Bawang Putih tidak kembali selama beberapa hari. Ibu tirinya tersebut pun langsung menyuruhnya untuk ke dapur untuk menyiapkan makanan. Teringat dengan labu yang diberikan oleh Nenek, Bawang Putih pun berencana untuk memasak sayur labu. Namun, alangkah terkejutnya Bawang Putih ketika membelah labu tersebut yang ternyata berisi perhiasan emas, berlian, dan permata. Mbok Rono dan Bawang Merah yang melihat kejadian itu langsung merebut paksa perhiasan di tangan Bawang Putih.

“Hey, Bawang Putih! Ceritakan dari mana kamu mendapatkan perhiasan sebanyak ini!” Tanya Mbok Rondo dengan nada memaksa.

Bawang putih menceritakan semuanya kepada Mbok Rondo dan Bawang Merah. Mendengar cerita tersebut, Mbok Rondo meminta Bawang Merah untuk melakukan hal yang sama dengan Bawang Putih. Ke esoak harinya, Bawang Merah pun pergi ke rumah nenek di pinggir sungai tersebut. Seperti bawang putih, bawang merah pun diminta untuk menemaninya selama seminggu. Tidak seperti bawang putih yang rajin, selama seminggu itu bawang merah hanya bermalas-malasan. Kalaupun ada yang dikerjakan maka hasilnya tidak pernah bagus karena selalu dikerjakan dengan asal-asalan. Akhirnya setelah beberapa hari, nenek itu membolehkan bawang merah untuk pergi.

“Bukankah seharusnya nenek memberiku labu sebagai hadiah karena membantu dan menemanimu selama beberapa hari?” tanya Bawang Merah.

Nenek itu terpaksa menyuruh bawang merah memilih salah satu dari dua labu yang ditawarkan. Dengan cepat bawang merah mengambil labu yang besar dan tanpa mengucapkan terima kasih dia melenggang pergi. Sesampainya di rumah bawang merah segera menemui ibunya dan dengan gembira memperlihatkan labu yang dibawanya. Karena takut bawang putih akan meminta bagian, mereka menyuruh bawang putih untuk pergi ke sungai. Lalu dengan tidak sabar mereka membelah labu tersebut. Tapi ternyata bukan emas permata yang keluar dari labu tersebut, melainkan binatang-binatang berbisa seperti ular, kalajengking, dan lain-lain. Binatang-binatang itu langsung menyerang bawang merah dan ibunya hingga tewas.

Akhirnya, Bawang Putih berhasil mendapatkan kembali semua perhiasan emas, berlian, dan permata yang telah di rampas oleh ibu tirinya tersebut. Bawang Putih kemudian menjualnya sedikit demi sedikit untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

2. Cerita Rakyat: Asal Usul Legenda Danau Toba (Lengkap dengan Video)

Dahulu kala, di daerah yang sekarang disebut Sumatera Utara hiduplah seorang pemuda bernama Toba. Pemuda ini hidup sebatang kara dan cukup miskin. Setiap hari dia bertani untuk memenuhi kebutuhanya. Dan ketika dia memiliki waktu senggang, dia pergi memancing untuk mencari lauk. Si Toba adalah seorang pemuda yang rajin, namun dia belum juga memiliki isteri karena kehidupanya yang serba kekurangan. Sehingga terkadang dia sering dijadikan bahan hinaan oleh tetangganya. Namun si Toba tetap bersabar.

Hingga pada suatu hari, si Toba berniat memancing di sungai untuk mencari lauk. Diapun pergi membawa kail menuju sungai. Namun sepertinya hari itu dia sedang kurang beruntung. Karena sudah lama dia menunggu, belum ada satu ikan yang memakan umpanya. Dia hamper saja putus asa dan akan pulang. Namun tiba-tiba dia merasakan tarikan yang kuat pada pancingnya, umpanya di sambar ikan.

Dengan hati senang si Toba menarik pancingnya, dan seekor ikan yang cukup besar akhirnya dia dapat. Ikan itu memiliki sisik yang indah, bahkan dia belum pernah melihat ikan seindah itu sebelumnya. Dengan hati senang si Toba pulang ke rumahnya, dia membayangkan betapa lezatnya ikan itu nanti ketika dipanggang. Setelah sampai rumah, si toba menaruh ikan itu di dapur. Namun karena kayu bakarnya habis, dia pergi mencari kayu bakar dulu di hutan di dekat rumahnya.

Namun si Toba menjadi terkejut sekembalinya dari mencari kayu bakar. Karena ikan yang tadi dia taruh di meja dapur kini sudah tak ada, berganti menjadi beberapa keeping uang emas. Tentu saja si Toba sangat terkejut sekaligus senang karena uang emas yang dia temukan. Dia berniat segera pergi ke kamar untuk menyimpan uang itu. Namun lagi-lagi hal yang aneh membuat si Toba terkejut. Karena ketika dia membuka pintu kamar, dia melihat ada seorang perempuan yang sangat cantik tengah duduk di tempat tidurnya.

Melihat si Toba yang kebingungan, si wanita itu lalu menghampirinya. Dia menceritakan bahwa sesungguhnya dia adalah jelmaan dari ikan yang dia tangkap. Dia aslinya adalah seorang dewi, tapi karena suatu kesalahan dia dihukum dan dikutuk menjadi seekor ikan di bumi. Singkat cerita, si Toba akhirnya jatuh hati pada wanita itu. Dia berniat mempersunting wanita itu seagai isterinya. Ternyata wanita itu tak keberatan, namun dia memberikan satu syarat yang harus dipatuhi oleh si Toba. Yaitu.. si Toba tidak boleh sekalipun mengungkit atau menceritakan asal mula wanita itu adalah ikan. Si Toba menyanggupinya. ( Terima kasih anda sedang membaca legenda danau toba )

Setelah menikah, kehidupan si Toba kini menjadi lebih baik. Kemampuan ekonominya meningkat, dia kini bukan lagi orang miskin. Setelah setahun berlalu, akhirnya mereka dikaruniai seorang anak yang mereka beri nama Samosir. Samosir sangat dimanja oleh ibunya, sehingga hal tersebut menjadikan Samosir anak yang manja dan cukup nakal. Berkali-kali si Toa dibuat marah oleh ulah samosir, namun setiap kali dia ingat janjinya pada isterinya, dia berusaha menahan emosinya. Bahkan Samosir menjadi anak yang sangat malas dan sukanya hanya bermain-main saja. Setiap kali dia disuruh ibunya untuk mengantar nasi untuk ayahnya di sawah, dia selalu menolak. Hingga ibunya sendiri yang harus mengantarnya.

Namun pada suatu hari, samosir di suruh ibunya mengantar nasi untuk ayahnya ke sawah. Karena suatu alas an membuat ibunya tidak bisa mengantarnya. Karena terus dipaksa, dengan setengah hati Samosir mengantar makanan itu. Namun di tengah jalan dia melihat teman-temanya yang asik bermain. Karena tertarik, samosir akhirnya ikut dan lupa bahwa ayahnya sedang menunggu nasi yang dia bawa. Setelah capek bermain, dia merasa lapar. Lalu memakan bekal yang seharusnya dia bawa untuk ayahnya hingga tersisa sedikit.

Namun setelah dia kenyang, dia baru ingat bahwa bekal yang dia bawa adalah untuk ayahnya. Dia langsung pergi menemui ayahnya. Namun betapa terkejutnya si Toba, karena bekal yang diberikan padanya hanya berupa sisa. Karena merasa sangat lapar sebab bekal yang dia tunggu telat dating, ditambah rasa capek dan ulah samosir yang sudah keterlaluan, membuat Toba tak lagi bisa menahan emosi. Dia memarahi samosir habis-habisan, dan memukulnya dengan ranting. “Dasar anak nakal, anak bandel..!! Dasar anak ikan..!”. bentak Toba.

Mendengar itu, Samosir langsung menangis dan lari menemui ibunya di rumah. Si Toba sadar secara tak sengaja dia telah melanggar janji, dia berusaha mengejar Samosir. Sedangkan Samosir sudah sampai di rumah dan menceritakan semua yang dikatakan ayahnya pada ibunya. Mendengar penjelasan anaknya, ibunya merasa kecewa karena ternyata janji yang dibuat telah dilanggar. Dia segera menyuruh anaknya untuk pergi ke bukit dan memanjat pohon tertinggi di puncak bukit.

Samosirpun berlari hingga tiba di atas bukit, dan mendaki pohon tertinggi seperti perintah ibunya. Setelah itu, wanita itu pergi ke tepi sungai, dan terjun ke dalam sungai. Seketika itu, dia kembali berubah menjadi ikan yang sangat besar. Secara tiba-tiba, hujan lebat turun disertai angin dan Guntur. Air sungai juga meluap, banjir dimana-mana. Banyak orang yang tidak bisa menyelamatkan diri, termasuk si Toba. Kawasan itu berubah menjadi genangan air yang cukup luas, dan semua tenggelam di dalamnya. Kecuali sebuah bukit yang kini hanya terlihat sedikit bagian puncaknya.

Akhirnya, daerah itu menjadi sebuah danau yang cukup luas, yang kini kita kenal dengan nama Danau Toba yang berada di Sumatera Utara. Dan bukit kecil yang didaki oleh Samosir, kini menjadi sebuah pulau yang terletak di tengah-tengah danau, dan dikenal oleh penduduk sekitar dengan nama Pulau Samosir (Sumber: dongengterbaru.blogspot.co.id)

Video Cerita Rakyat Danau Toba

Demikian kisah cerita rakyat legenda Danau Toba, terima kasih dan semoga bermanfaat.

3. Cerita Rakyat: Sangkuriang dan Asal Usul Tangkuban Perahu (Lengkap dengan Video)

Zaman dahulu, disebuah kerajaan tinggal seorang puteri yang sangat cantik, Dayang Sumbi namanya. Karena kecantikanya, banyak raja dan pangeran yang ingin mempersuntingnya, sehingga mereka saling berperang memperebutkan dayang sumbi. Untuk menghindari peperangan dan mencegah jatuhnya banyak korban, dayang sumbi mengasingkan diri di hutan ditemani seekor anjing jantan yang bernama si Tumang.

Pada suatu hari ketika dayang sumbi tengah menenun kain, tempat tenun yang dia gunakan terjatuh. Karena gubuknya berada di atas pohon, dayang sumbi malas untuk mengambilnya. Lalu secara tak sengaja terlontar sumpah dari mulutnya. Siapapun yang mengambilkan tempat tenun itu dan membawanya padanya, maka jika dia lelaki akan dijadikan suami, dan jika perempuan akan dijadikan saudara. Tak disangka, ternyata si tumang yang mengambilkanya. Maka dayang sumbi harus menepati sumpah yang telah diucapkanya. Karena malu, sang raja mengasingkan dayang sumbi di tengah hutan bersama si tomang. Namun tanpa diketahui oleh dayang sumbi, si tomang sebenarnya adalah seorang dewa yang sangat tampan. Karena suatu kesalahan, dia diusir dari kahyangan dan dikutuk menjadi seekor anjing. Ketika bulan purnama, maka si tomang akan mampu berubah menjadi pemuda yang gagah dan tampan.

Singkat cerita, akhirnya dayang sumbi mengandung dan lahirlah seorang anak lelaki yang kuat dan cerdas, dia diberi nama Sangkuriang. Karena memiliki keturunan dewa, sangkuriang memiliki wajah yang tampan dan juga gagah. Tiap hari dia berburu di hutan ditemani oleh si tomang, ayahnya. Namun sang kuriang tidak tahu bahwa si tomang adalah ayah kandungnya.

Hingga pada suatu hari, dayang sumbi ingin memakan hati menjangan. Sangkuriang pun pergi ke hutan untuk berburu. Namun sudah lama dia mengitari hutan, tak satupun dia temukan. Akhirnya Sang kuriang melihat seekor babi hutan, dia berniat menangkap babi itu untuk diambil hatinya, dan berbohong pada ibunya bahwa itu adalah hati menjangan. Lalu sangkuriang memerintahkan si tomang untuk mengejar babi itu, namun si tomang tidak mau dan hanya duduk diam. Sang kuriang lalu mencoba menakuti si tomang dengan panahnya, berharap si tomang menurut. Namun tanpa disengaja, anak panah itu terlepas mengenai si tomang, dan mati.

Karena merasa bingung, akhirnya sang kuring mengambil hati si tomang dan membawanya pada ibunya, dia berkata bahwa itu adalah hati menjangan. Namun betapa terkejutnya dayang sumbi setelah tahu bahwa itu hati si tomang, suaminya. Dayang sumbi marah dan.memukul kepala sangkuriang dengan gayung dari batok kelapa hingga terluka. Karena ketakutan, sang kuriang akhirnya lari pergi dari rumah.

Dayang sumbi merasa menyesal setelah kejadian itu, dan dia bertapa meminta pada yang kuasa agar suatu saat bisa bertemu lagi dengan anaknya. Sementara itu, sang kuriang mengembara berkeliling ke seluruh negeri. Dia berguru pada banyak pertapa sakti, hingga kini dia menjadi pemuda yang gagah, tampan, dan sakti mandra guna.

Hingga beberapa tahun berlalu, pengembaraan sang kuriang membawanya kembali ke tempat dayang sumbi bertapa. Tak sengaja mereka bertemu di sungai. Dayang sumbi yang tak tahu bahwa itu adalah anaknya, akhirnya jatuh cinta, begitupun sangkuriang yang tak tahu bahwa wanita cantik itu adalah ibu kandungnya. Mereka berdua akhirnya saling jatuh cinta.

Namun ketika tengah membelai rambut sangkuriang yang bersandar dipangkuannya, dayang sumbi melihat bekas luka yang dimiliki sangkuriang. Begitu sadar bahwa pemuda di depannya adalah anaknya sendiri, dayang sumbi langsung menolak sangkuriang dan berkata bahwa dia adalah ibunya.

Sang kuriang yang sudah dibutakan cinta, tak percaya dan tak mau perduli. Dia tetap memaksa agar dayang sumbi mau menikah dengannya. Akhirnya, dayang sumbi mencoba menolak dengan halus. Dia mau menikah dengan sebuah syarat. Yaitu, sangkuriang harus mampu membuat sebuah perahu besar dan membendung sungai citarum dalam waktu satu malam. Karena kesaktian yang dimiliki, sang kuriang menyanggupi. ( story oleh dongengterbaru.blogspot.com ) Dia meminta bantuan pada makhluk-makhluk halus yang menjadi anak buahnya berkat kesaktianya. Bendungan dan perahu hampir selesai kurang dari satu malam.

Melihat hal itu, dayang sumbi menjadi gelisah. Dia berdo’a pada Sang Maha Kuasa agar bendungan itu tidak bisa selesai. Dayang sumbi lalu melemparkan kain putih yang ditenunnya. Secara ajaib, kain itu bercahaya sangat terang seperti cahaya fajar. Sehingga para makhluk halus yang membantu sangkuriang ketakutan lalu menghilang. Menyadari pekerjaanya gagal, sang kuriang menjadi marah. Dia menendang perahu yang dibuatnya ke angkasa, dan jatuh tertelungkup di tanah. Dan konon katanya, perahu yang ditendang itu kini berubah menjadi gunung Tangkuban perahu. Sedangkan dayang sumbi agar bebas daru kejaran anaknya, berubah menjadi sebuah bunga.

Video Cerita Rakyat Sangkuriang dan Asal usul Tangkuban Perahu

Demikian lah dongeng sangkuriang cerita terjadinya gunung tangkuban perahu. Semoga bermanfaat.

4. Cerita Rakyat: Legenda Malin Kundang (Lengkap dengan Video)

Di suatu tempat, tinggalah sebuah keluarga nelayan di pesisir pantai wilayah Sumatra. Keluarga tersebut terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak laki-laki yang diberi nama Malin Kundang. Kehidupan mereka sangat memperihatinkan, penuh dengan kesulitan dan jauh dari kata mapan. melihat kondisi kehidupan keluarga yang serba sulit ini, sang ayah memutuskan untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan mengarungi lautan yang luas, berharap akan bisa merubah nasib kehidupan keluarganya. Maka tinggallah si Malin dan ibunya di gubug kecil mereka.

Seminggu, dua minggu, sebulan, dua bulan bahkan sudah 1 tahun lebih lamanya, ayah Malin tidak juga kembali ke kampung halamannya. Bahkan kabar keberadaannya pun sudah tidak terdengar lagi. Sang ibu hanya bisa pasrah menerima kenyataan bahwa sang suami sudah tidak ada disampingnya lagi, entah beada dimana dia sekarang.

Hari-harinya kini dilalui berdua, ibunya yang harus menggantikan posisi ayah Malin sebagai tulang punggung keluarga untuk mencari nafkah. Semua pekerjaan seberat apapun selama itu halal, dikerjakan sang ibu demi menghidupi anak semata wayangnya malin kundang.

Malin termasuk anak yang cerdas tetapi sedikit nakal. Ia sering mengejar ayam dan memukulnya dengan sapu. Suatu hari ketika Malin sedang mengejar ayam, ia tersandung batu dan lengan kanannya luka terkena batu. Luka tersebut menjadi berbekas dilengannya dan tidak bisa hilang.

Setelah beranjak remaja, Malin sudah mulai berfikir tentang kehidupan keluarganya, Malin merasa kasihan dengan ibunya yang banting tulang mencari nafkah untuk mengidupi dan membesarkan dirinya. Ia berpikir untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan harapan nantinya ketika kembali ke kampung halaman, ia sudah menjadi seorang yang kaya raya dan bisa membalas jasa ibunya, membahagiakan dan membanggakan keluarganya.

Saat Malin berada di pantai, Malin memperhatikan seorang nahkoda yang tidak lain adalah tetangganya, malin melihat bagaimana nahkoda tersebut menjadi orang kaya dan hidup dengan kesenangan. Malin dengan ragu mendekat dan bertanya seputar keberhasilannya. Dan sang nahkoda pun menceritakan bagaimana kisah hidupnya di mulai. Malin sangat tertarik dan ingin seperti nahkoda tersebut. Nahkoda pun menawarkan malin untuk ikut berlayar dengannya. Malin tertarik dengan ajakan nakhoda kapal dagang yang dulunya miskin sekarang sudah menjadi seorang yang kaya raya. Malin pun pulang hendak mengutarakan niatnya kepada sang ibu.

Malam hari Malin mulai berbincang dengan ibunya. dalam perbincangannya Malin pun mengutarakan niatnya. Saat Malin mengutarakan niatnya kepada sang ibu, dengan serta merta ibunya kebaratan, karena malin adalah anak satu-satunya dan harta paling berharga dalam hidupnya. namun karena Malin terus mendesak, Ibu Malin Kundang akhirnya menyetujuinya walau dengan berat hati.

Setelah mempersiapkan bekal dan perlengkapan secukupnya, Malin segera menuju ke dermaga dengan diantar oleh ibunya.

“Anakku, jika engkau sudah berhasil dan menjadi orang yang berkecukupan, jangan kau lupa dengan ibumu dan kampung halamannu ini, nak”, ujar sang ibu sambil berlinang air mata.

Kapalpun mulai berlayar dan semakin lama semakin jauh dengan diiringi lambaian tangan Ibu Malin yang terus terisak sedih karna ditinggal anaknya. Kini sang ibu hidup hanya sebatangkara. Hanya harapan yang kini dia miliki untuk bertahan hidup, harapan untuk bertemu kembali dengan anak kesayangannya kelak.

Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman. Di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang di serang oleh bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut.

Malin Kundang sangat beruntung dirinya tidak dibunuh oleh para bajak laut, karena ketika peristiwa itu terjadi, Malin segera bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu. Malin Kundang terkatung-katung ditengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah pantai.

Dengan sisa tenaga yang ada, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Sesampainya di desa tersebut, Malin Kundang ditolong oleh masyarakat di desa tersebut setelah sebelumnya menceritakan kejadian yang menimpanya.

Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur. Di sanalah malin mulai merintis kehidupannya. Bertahun-tahun malin bekerja keras, siang malam, hingga akhirnya, dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, Malin berhasil menjadi seorang yang sukses dan kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang.

Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya. Gadis tersebut adalah anak dari seorang saudagar kaya raya, Malin pun mendapatkan restu dari ayah si gadis dan dinikahkan.

Berita Malin Kundang yang telah menjadi kaya raya dan telah menikah sampai juga kepada ibu Malin Kundang. Ibu Malin Kundang merasa bersyukur dan sangat gembira anaknya telah berhasil. Sejak saat itu, ibu Malin Kundang setiap hari pergi ke dermaga, menantikan anaknya yang mungkin pulang ke kampung halamannya.

Setelah beberapa lama menikah, Malin dan istrinya melakukan pelayaran dengan kapal yang besar dan indah disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak. Sampai akhirnya kapal malin berlabuh di sebuah dermaga yang mana dermaga itu adalah tidak lain tempat dimana malin kecil sering bermain.

Saat kapal Malin berlabuh di dermaga, salah seorang penduduk yang merupakan kerabat dekat malin melihat dan mengenali malin. maka dengan tergesa-gesa orang tersebut berlari menuju tempat dimana Ibu Malin Kundang berada, langsung sang ibu di kabarkan dan saat itu juga sang ibu langsung bergegas menuju dermaga.

Sang ibu melihat kapal yang sangat indah itu, masuk ke pelabuhan. Ia melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya Malin Kundang beserta istrinya. Malin Kundang pun turun dari kapal. Ia disambut oleh ibunya. Setelah cukup dekat, ibunya melihat belas luka dilengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah Malin Kundang.

“Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?”, katanya sambil memeluk Malin Kundang.

Tapi apa yang terjadi kemudian? Malin Kundang segera melepaskan pelukan ibunya dan mendorongnya hingga terjatuh.

“Wanita tak tahu diri, sembarangan saja mengaku sebagai ibuku”, kata Malin Kundang pada ibunya.
Malin Kundang pura-pura tidak mengenali ibunya, karena malu dengan ibunya yang sudah tua dan mengenakan baju compang-camping.

“Wanita itu ibumu?”, Tanya istri Malin Kundang.

“Tidak, ia hanya seorang pengemis yang pura-pura mengaku sebagai ibuku agar mendapatkan harta ku”, sahut Malin kepada istrinya.

Malin kundang pun memerintahkan kepada awak kapal nya untuk kembali naik dan berlayar kembali meninggalkan dermaga.

Mendengar pernyataan dan diperlakukan semena-mena oleh anaknya, ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Karena kemarahannya yang memuncak, ibu Malin menengadahkan tangannya sambil berkata “Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu”.

Tidak berapa lama kemudian angin bergemuruh kencang dan badai dahsyat datang menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang. Menyadari keadaannya kini Malin sadar dan menyesali atas kesalahannya kepada sang ibu, malin serasa ingin berteriak memohon ampun pada sang ibu, namun semuanya sudah terlambat, dia hanya bisa menangis dan meneteskan air mata penyesalan dalam kebekuannya.

Hikmah dari Kisah Malin Kundang

Walaupun cerita ini hanyalah cerita rakyat yang beredar dari mulut ke mulut dan terkesan tidak masuk akal. Namun, tetap ada hikmah yang bisa kita petik. Pesan dari cerita ini, intinya sih agar kita tidak durhaka kepada orangtua, terutama ibu.

Apapun posisi kita sekarang dan sesukses apapun kita, namun posisi ibu tidak akan pernah berubah. Dialah yang dengan jutaan pengorbanannya, menjadikan kita ada di dunia ini.

Jangankan untuk tidak mengakui ibu, menghardik dan berkata kasar kepada ibu saja sangat dilarang oleh Allah. Karena dengan kita berbuat baik saja, kita tidak akan mampu membalas semua pengorbanan ibu.

Selain ajakan untuk berbakti kepada ibu, cerita ini pun mengajarkan kepada kita untuk tidak sombong saat memiliki banyak harta. Jadilah seperti padi yang semakin banyak bulirnya, namun ia semakin menunduk.

Video Cerita Rakyat Malin Kundang

Semoga bermanfaat.

5. Cerita Rakyat: Lutung Kasarung dan Putri Purbasari (Lengkap dengan Video)

Dahulu ada seorang raja yang adil dan bijaksana Prabu Tapa Agung namanya. Beliau dianugrahi tujuh orang putri. Berturut-turut mereka itu adalah Purbararang, Purbadewata, Purbaendah, Purbakancana, Purbamanik, Purbaleuih, dan si bungsu Purbasari. Ketujuh putri itu sudah menikah remaja dan semuanya cantik-cantik. Yang paling cantik dan paling manis budinya adalah Purbasari. Ia menjadi buah hati seluruh rakyat Kerajaan Pasir Batang.

Putri sulung Purbararang sudah bertunangan dengan Raden Indrajaya, putra salah seorang mentri kerajaan. Kepada Purbararang dan Indrajayalah seharusnya Prabu Tapa Agung dapat mempercayakan kerajaan. Akan tetapi, walaupun beliau sudah lanjut usia dan sudah waktunya turun tahta, beliau belum leluasa untuk menyerahkan mahkota. Karena, baik Purbararang maupun Indrajaya belum dapat beliau percaya sepenuhnya.

Sang Prabu merasa sebagai putri sulung, Perangai Purbararang tidak sesuai dengan yang diharapkan dari seorang pemimpin kerajaan. Purbararang mempunyai sifat angkuh dan kejam, sedangkan Indrajaya adalah seorang pesolek. Bangsawan muda itu akan lebih banyak memikirkan pakaian dan perhiasan dirinya daripada mengurus keamanan dan kesejahteraan rakyat kerajaan.

Menghadapi masalah seperti itu, Prabu Tapa Agung sering bermuram durja. Demikian pula permaisurinya, ibunda ketujuh putri itu. Mereka sering membicarakan masalah itu, tetapi tidak ada jalan keluar yang ditemukan.

Namun, kiranya kerisauan dan kebingungan raja yang baik itu diketahui oleh Sunan Ambu yang bersemayam di kahyangan atau Buana Pada. Pada suatu malam, ketika Prabu Tapa Agung tidur, beliau bermimpi. Di dalam mimpinya itu Sunan Ambu berkata, “Wahai Raja yang baik, janganlah risau. Sudah saatnya kamu beristirahat. Tinggalkanlah istana. Tinggalkanlah tahta kepada putri bungsu Purbasari. Laksanakanlah keinginanmu untuk jadi pertapa.”

Setelah beliau bangun, hilanglah kerisauan beliau. Petunjuk dari khayangan itu benar-benar melegakan hati beliau dan permaisuri.

Keesokan harinya sang Prabu mengumpulkan ketujuh putri beliau, pembantu, penasehat beliau yang setia, yaitu Uwak Batara Lengser, patih, para menteri dan pembesar-pembesar kerajaan lainnya.

Beliau menyampaikan perintah Sunan Ambu dari Kahyangan bahwa sudah saatnya beliau turun tahta dan menyerahkan kerajaan kepada Putri Purbasari.

Berita itu diterima dengan gembira oleh kebanyakan isi istana, kecuali oeh Purbararang dan Indrajaya. Mereka pura-pura setuju, walaupun didalam hati mereka marah dan mulai mencari akal bagaimana merebut tahta dari Purbasari.

Akal itu segera mereka dapatkan. Sehari setelah ayah bunda mereka tidak berada di istana, Purbararang dengan bantuan Indrajaya menyemburkan boreh, yaitu zat berwara hitam yang dibuat dari tumbuh-tumbuhan, ke wajah dan badan Purbasari.

Akibatnya Purbasari menjadi hitam kelam dan orang Pasir Batang tidak mengenalinya lagi. Itulah sebabnya putri bungsu itu tidak ada yang menolong ketika diusir dari istana.

Tak ada yang percaya ketika dia mengatakan bahwa ia Purbasari, Ratu Pasir Batang yang baru. Di samping itu, mereka yang tahu dan menduga bahwa gadis hitam kelam itu adalah Purbasari, tidak berani pula menolong.

Mereka takut akan Purbararang yang terkenal kejam. Bahkan Uwak Batara Lengser tidak berdaya mencegah tindakan Purbararang itu.

Ketika ia disuruh membawa Purbasari ke hutan, ia menurut. Akan tetapi setiba di hutan, Uwak Batara Lengser membuatkan gubuk yang kuat bagi putri bungsu itu. Ia pun menasehatinya dengan kata-kata lembut, “Tuan Putri bersabarlah. Jadikanlah pembuangan ini sebagai kesempatan bertapa untuk memohon perlindungan dan kasih sayang para penghuni kahyangan. “Nasehat Uwak Batara Lengser itu mengurangi kesedihan Putri Purbasari. Ia setuju bahwa ia akan melakukan tapa. “Bagus, Tuan Putri. Janganlah khawatir, Uwak akan sering datang kesini menengok dan mengirim persediaan.”

Selagi didunia atau Buana Panca Ttengah terjadi peristiwa pengusiran dan pembuangan Purbasari kedalam hutan, di Kahyangan atau Buana Pada terjadi peristiwa lain.

Berhari-hari Sunan Ambu gelisah karena putranya Guruminda tidak muncul. Maka Sunan Ambu pun meminta para penghuni kahyangan baik pria maupun wanita untuk mencarinya.

Tidak lama kemudian seorang pujangga datang dan memberitakan bahwa Guruminda berada ditaman Kahyangan. Ditambahkan bahwa Guruminda tampak bermuram durja. Sunan Ambu meminta kepada pelayan kahyangan agar Guruminda dipanggil, diminta menghadap.

Agak lama Guruminda tidak memenuhi panggilan itu sehingga ia dipanggil kembali. Akhirnya dia muncul dihadapan ibundanya, Sunan Ambu.

Akan tetapi, ia bertingkah laku lain dari pada biasanya. Ia terus menunduk seakan-akan malu memandang wajah ibunya sendiri. Namun, kalau Sunan Ambu sedang tidak melihat, ia mencuri-curi pandang.

“Guruminda, anakku, apakah yang kau sedihkan?Ceritalah kepada Ibu,” ujar Sunan Ambu dengan lembut dan penuh kasih sayang. Guruminda tidak menjawab. Demikian pula ketika Sunan Ambu mengulang pertanyaan beliau. Karena Sunan Ambu seorang wanita yang arif, beliau segera menyadari apa yang terjadi dengan putranya.

Beliau berkata, “Ibu sadar, sekarang kau sudah remaja. Usiamu tujuh belas tahun. Adakah bidadari yang menarik hatimu. Katakanlah pada Ibu siapa dia. Nanti Ibu akan memperkenalkanmu kepadanya.” Untuk beberapa lama Guruminda diam saja. “Guruminda, berkatalah, “ujar Sunan Ambu.

Guruminda pun berkata, walaupun perlahan-lahan sekali, “Saya tidak ingin diperkenalkan dengan bidadari manapun, kecuali yang secantik Ibunda,” katanya.

Mendengar perkataan putranya itu Sunan Ambu terkejut. Akan tetapi, sebagai wanita yang arif beliau tidak kehilangan akal apalagi marah. Beliau arif bahwa putranya sedang menghadapi persoalan. Beliau pun berkata, “Guruminda, gadis yang serupa dengan Ibunda tidak ada di Buana Pada ini. Ia berada di Buana Panca Tengah. Pergilah kamu ke sana. Akan tetapi tidak sebagai Guruminda. Kamu harus menyamar sebagai seekor kera atau lutung.”

Setelah Sunan Ambu berkata begitu, berubahlah Guruminda menjadi seekor kera atau lutung. “Pergilah anakku, ke Buana Panca Tengah, kasih sayangku akan selalu bersamamu. Kini namamu Lutung Kasarung.”

Guruminda sangat terkejut dan sedih ketika menyadari bahwa dia sudah menjadi lutung. Ia beranggapan bahwa ia telah dihukum oleh Ibunda Sunan Ambu karena kelancangannya. Ia cuma menunduk. “Pergilah, Anakku. Gadis, itu menunggu disana dan memerlukan bantuanmu.” ujar Sunan Ambu pula.

Guruminda sadar bahwa menjadi lutung adalah sudah nasibnya dan ia pun mengundurkan diri dari hadapan ibundanya. Dengan harapan akan bertemu gadis yang serupa dengan ibundanya, ia meninggalkan Buana Pada. Ia melompat dari awan ke awan hingga akhirnya tiba di bumi. Guruminda mencari tempat yang cocok untuk turun. Ketika melihat sebuah hutan, ia pun melompat ke bumi. Ia melompat dari pohon ke pohon. Lutung-lutung dan monyet-monyet mengelilinginya. Karena mereka menyadari bahwa Guruminda, yang berganti nama menjadi Lutung Kasarung, lebih besar dan cerdas, mereka menerimanya sebagai pemimpin. Demikianlah Lutung Kasarung mengembara di dalam hutan belantara, mencari gadis yang sama cantiknya dengan ibunda Sunan Ambu.

Tersebutlah di kerajaan Pasir Batang, Ratu Purbararang hendak melaksanakan upacara. Dalam upacara itu diperlukan kurban binatang. Ratu Purbararang memanggil Aki Panyumpit. “Aki!” katanya, “Tangkaplah seekor hewan untuk dijadikan kurban dalam upacara. Kalau kamu tidak mendapatkannya nanti siang, kamu sendiri jadi gantinya.”

Dengan ketakutan yang luar biasa Aki Panyumpit tergesa-gesa masuk hutan belantara. Akan tetapi, tidak seekor bajingpun ia temukan. Binatang-binatang sudah diberi tahu oleh Lutung Kasarung agar bersembunyi. Lalu, berjalanlah Aki Panyumpit kian kemari di dalam hutan itu hingga kelelahan.

Ia pun duduk dibawah pohon dan menangis karena putus asa. Pada saat itulah Lutung Kasarung turun dari pohon dan duduk dihadapan Aki Panyumpit. Aki Panyumpit segera mengambil sumpitnya dan membidik kearah Lutung Kasarung.

Namun Lutung Kasarung berkata, “Janganlah menyumpit saya karena saya tidak akan mengganggumu. Saya datang kesini karena melihat kakek bersedih.”

Aki Panyumpit terkejut mendengar lutung dapat berbicara. “Mengapa kakek bersedih?” tanya Lutung Kasarung.

Ditanya demikian, Aki Panyumpit menceritakan apa yang dialaminya. “Kalau begitu bawalah saya ke istana,kakek,” ujar Lutung Kasarung.

“Tetapi kamu akan dijadikan kurban!” kata Aki Panyumpit yang menyukai Lutung Kasarung.

“Saya tidak rela kamu dijadikan kurban,” lanjut Aki Pannyumpit.

“Tetapi kalau kakek tidak berhasil membawa hewan, kakek sendiri yang akan disembelih sebagai kurban,” jawab Lutung Kasarung.

Aki Panyumpit tidak dapat berkata-kata lagi karena bingung.

“Oleh karena itu, bawalah saya ke istana. Janganlah khawatir,” Kata Lutung Kasarung.

“Baiklah, kalau begitu”, kata Aki Panyumpit. Mereka pun keluar dari hutan menuju kerajaan Pasir Batang.

Setiba di alun-alun kerajaan, beberapa prajurit memegang dan mengikat Lutung Kasarung. Prajurit lain mengasah pisau untuk menyembelihnya.

Lutung Kasarung yang sudah di ikat dibawa ketengah alun-alun. Di sana Purbararang dan Indrajaya serta para pembesar kerajaan sudah hadir. Demikian pula lima putri adik-adik Purbararang.

Saat itu segala perlengkapaan upacara sudah disiapkan. Seorang pendeta sudah mulai menyalakan kemenyan dan berdoa. Seorang prajurit dengan pisau yang sangat tajam berjalan akan melaksanakan tugasnya. Ia memegang kepala Lutung Kasarung. Akan tetapi, tiba-tiba Lutung Kasarung menggeliat.

Tambang-tambang ijuk yang mengikat tubuhnya satu persatu mulai putus dan kemudian Ia pun bebas. Ia lalu memporak-porandakan perlengkapan upacara. Para putri dan wanita-wanita bangsawan menjerit ketakutan. Para prajurit mencabut senjata dan berusaha membunuh Lutung Kasarung. Namun, tidak seorang pun sanggup mendekatinya.

Lutung Kasarung sangat lincah dan tangkas. Ia melompat- lompat kesana kemari, di tengah-tengah hadirin yang berlari menyelamatkan diri.

Lutung Kasarung sengaja merusak barang-barang dan perlengkapan. Di melompat ke panggung tempat para putri menenun dan merusak perlengkapan tenun.

Setelah hadirin melarikan diri dan prajurit-prajurit kelelahan, Lutung Kasarung duduk di atas benteng yang mengelilingi halaman dalam istana .

Dari dalam istana, Purbararang dan adik-adiknya memandanginya dengan keheranan dan ketakutan. Indrajaya ada pula disana, ikut sembunyi dengan putri-putri dan para wanita.

Purbararang kemudian menjadi marah, “Bunuh! Ayo bunuh lutung itu!” teriaknya. Beberapa orang prajurit maju akan mengepung Lutung Kasarung lagi. Akan tetapi, Lutung Kasarung segera menyerang mereka dan membuat mereka lari ketakutan ke berbagai arah.

Uwak Batara Lengser adalah orang tua yang bijaksana, walaupun sudah tua tetap gagah berani. Ia berjalan menuju Lutung Kasarung dan berdiri di dekatnya. Ternyata, Lutung Kasarung tidak memperlihatkan sikap permusuhan kepadanya. “Kemarilah Lutung, janganlah kamu nakal dan menakut-nakuti orang, kamu anak yang baik.”

Pada saat itu beberapa orang prajurit mencoba menyergap Lutung Kasarung. Namun, Lutung Kasarung selalu waspada. Ia menyerang balik, mencakar, dan menggigit mereka. Mereka tunggang langgang melarikan diri dan tidak berani muncul kembali. Setelah itu Lutung Kasarung kembali kepada Uwak Batara Lengser dan seperti seorang anak yang baik, duduk didekat kaki orang tua itu.

Purbararang yang melihat pemandangan itu dari jauh, timbul niat jahatnya. Lutung yang besar dan jahat itu sebaiknya dikirim kehutan tempat Purbasari berada, pikirnya. Kalau Purbasari tewas diterkam lutung itu, maka ia akan tenang menduduki tahta Kerajaan Pasir Batang. Cara mengirim lutung itu tampaknya dapat dilaksanakan melalui Uwak Batara Lengser karena lutung itu tidak memperlihatkan sikap permusuhan terhadap Uwak Batara Lengser.

Berkatalah Purbararang kepada Uwak Batara Lengser, meminta orang tua itu mendekat. Orang tua itu menurut, “Uwak Batara Lengser, singkirkan lutung galak itu kehutan. Tempatkan bersama Purbasari. Kalau sudah jinak, kita kurbankan nanti.” Uwak Batara Lengser tahu maksud Purbararang, tetapi ia menurut saja. Ia pun tidak yakin apakah lutung itu akan mencederai Purbasaari. Ia melihat sesuatu yang aneh pada lutung itu. Itulah sebabnya ia mengulurkan tangan pada lutung itu sambil berkata, “Marilah kita pergi, lutung. Kamu saya bawa ketempat yang lebih cocok bagimu.” Lutung itu menurut. Uwak Batara Lengser pun menuntunnya meninggalkan tempat itu dan menuju ke hutan.

Sampai di hutan, Uwak Batara Lengser berseru kepada Purbasari memberitahukan kedatangannya. Purbasari keluar dari gubuk dengan gembira. Lutung Kasarung melihat seorang gadis yang kulitnya hitam kelam di celup boreh. Ia tertegun sejenak sehingga Uwak Batara Lengser berkata kepadanya, “Itu Putri Purbasari. Ia gadis yang manis dan baik hati. Kamu harus menjaganya.”

“Ya,” kata Lutung Kasarung.

Uwak Batara Lengser dan Purbasari keheranan. Akan tetapi, Uwak Batara Lengser berkata, “Semoga kedatanganmu ke Pasir Batang dikirim Kahyangan untuk kebaikan semua.”

Setelah Uwak Batara Lengser pergi, Lutung Kasarung meminta bantuan kawan-kawannya untuk mengumpulkan buah-buahan dan bunga-bungaan untuk Purbasari. Putri itu benar-benar terhibur dalam kesedihannya. Ia pun tidak kesunyian lagi. Bukan saja Lutung Kasarung selalu ada didekatnya, tetapi binatang-binatang lain seperti rusa, bajing, dan burung-burung berbagai jenis, berkumpul dekat gubuknya.

Ketika malam tiba, Lutung Kasarung berdoa, memohon kepada Ibunda Sunan Ambu agar membantunya. Sunan Ambu mendengar doanya dan memerintahkan kepada beberapa orang pujangga dan pohaci agar turun ke bumi untuk membantu Lutung Kasarung.

Ketika para pujangga tiba dihutan itu, Lutung Kasarung meminta kepada mereka agar dibuatkan tempat mandi bagi Purbasari. Para pujangga yang sakti itu membantu Lutung Kasarung membuat jamban salaka, tempat mandi dengan pancuran emas dan lantai serta dinding pualam. Airnya dialirkan dari mata air yang jernih yang ditampung dulu dalam telaga kecil. Ke dalam telaga kecil itu ditaburkan berbagai bunga-bungaan yang wangi. Sementara itu para pohaci menyiapkan pakaian bagi Purbasari. Pakaian itu bahannya dari awan dan warnanya dari pelangi. Tak ada pakaian seindah itu di bumi.

Keesokan harinya Purbasari sangat terkejut melihat Jamban Salaka itu. Akan tetapi, Lutung Kasarung mengatakan kapadanya bahwa ia tidak perlu heran. Kabaikan hati Purbasari telah menimbulkan kasih sayang Kahyangan kepadanya.

“Jamban Salaka dan pakaian yang tersedia di dalamnya adalah hadiah dari Buana Pada bagi Tuan Putri,” kata Lutung Kasarung

“Kau sendiri adalah hadiah dari Buana Pada bagiku, Lutung,” kata Purbasari, lalu memasuki Jamban Salaka. Ternyata, air di Jamban Salaka memiliki khasiat yang tidak ada pada air biasa dipergunakan Purbasari.

Ketika air itu dibilaskan, hanyutlah boreh dari kulit Purbasari. Kulitnya yang kuning langsat muncul kembali bahkan lebih cemerlang. Dalam kegembiraannya, Purbasari tidak putus-putusnya mengucapkan syukur kepada Kahyangan yang telah mengasihinya.

Selesai mandi, ia mengambil pakaian buatan para pohaci. Ia terpesona oleh keindahan pakaian yang dilengkapi perhiasan-perhiasan yang indah. Ia pun segera mengenakannya, lalu keluar dari Jamban Salaka. ‘Lutung lihatlah!. Apakah pakaian ini cocok bagiku?”

Lutung Kasarung sendiri terpesona. Dalam hatinya ia berkata, “Putri Purbasari, engkau seperti kembaran Ibunda Sunan Ambu, hanya jauh lebih muda.”

“Lutung, pantaskah pakaian ini bagiku?” tanya Purbasari pula.

“Para pohaci mencocokkannya bagi tuan putri,” jawab Lutung Kasarung seraya bersyukur dalam hatinya dan memuji kebijaksanaan Ibunda Sunan Ambu.

Peristiwa didalam hutan itu akhirnya terdengar oleh Purbararang. Rakyat Kerajaan Pasir Batang yang biasa mencari buah-buahan atau berburu kehutan membawa kabar aneh. Mereka bercerita tentang hutan yang berubah menjadi taman, tentang gubuk gadis hitam yang berubah menjadi istana kecil, tentang tempat mandi yang sangat indah, dan pimpinan seekor lutung yang sangat besar. Seekor lutung besar menyebabkan mereka tidak berani memasuki taman itu.

Kabar aneh itu sampai juga ke telinga Purbararang. Ia menduga ada bangsawan-bangsawan Pasir Batang yang diam-diam membantu Purbasari. Ia pun menjadi marah dan berpikir mencari jalan untuk mencelakakan Purbasari. Ia segera menemukan jalan untuk mecelakakan adik bungsunya itu.

Purbararang berpendapat bahwa para bangsawan Pasir Batang yang berpihak pada Purbasari tidak akan berani membantu adiknya itu secara terang-terangan. Oleh karena itu, Purbasari harus ditantang dalam pertandingan terbuka.

Para bangsawan dapat membuatkan Purbasari taman, istana kecil, dan Jamban Salaka. Itu mereka lakukan sembunyi-sembunyi dalam waktu yang lama, pikir Purbararang. Kalau Purbasari diharuskan membuat huma dalam satu hari seluas lima ratus depa, tak ada yang berani atau dapat membantunya. Ia sendiri dengan mudah akan dapat membuka huma ribuan depa dengan bantuan para prajurit.

Maka ia pun memanggil Uwak Batara Lengser dan berkata, “Uwak, berangkatlah ke hutan. Sampaikan pada Purbasari bahwa saya menantangnya berlomba membuat huma. Purbasari harus membuat huma seluas lima ratus depa dan harus selesai sebelum fajar besok. Kalau tidak dapat menyelesaikannya, atau tidak dapat mendahului saya maka ia akan dihukum pancung.”

Uwak Batara Lengser segera pergi kehutan. Ia disambut oleh Purbasari dan Lutung Kasarung. Ketika mendengar berita yang menakutkan itu, Purbasari pun menangis. ‘Kalau nasib saya harus mati muda, saya rela. Yang menyebabkan saya menangis adalah tindakan kakanda Purbararang. Begitu besarkah kebenciannya kepada saya?”

Lutung Kasarung berkata, “Jangan khawatir Tuan Putri, Kahiangan tidak akan melupakan orang yang tidak bersalah.”

Sementara ketiga sahabat itu sedang berbicara didalam hutan, Purbararang tidak menyia-nyiakan waktu. Ia memanggil seratus orang prajurit dan memerintahkan agar mereka membuka hutan untuk huma didekat tempat tinggal Purbasari. Huma harus selesai keesokan harinya. Kalau tidak selesai, para prajurit itu akan dihukum pancung. Para prajurit yang ketakutan segera berangkat ke hutan dan langsung bekerja keras membuka hutan. Mereka terus bekerja walaupun malam turun dan mulai gelap. Mereka terpaksa menggunakan obor yang banyak jumlahnya.

Sementara itu Lutung Kasarung mempersilahkan Purbasari masuk kedalam istana kcilnya untuk beristirahat. “Serahkanlah pekerjaan membuat huma itu kepada saya, Tuan Putri,’ katanya.

Ketika Purbasari sudah masuk kedalam istana kecilnya, Lutung Kasarung segera berdoa, memohon bantuan Ibunda Sunan Ambu dari Buana Pada. Doanya didengar dan Sunan Ambu mengutus empat puluh orang pujangga untuk membuat huma. Lahan yang dipilih adalah sebidang huma yag sudah terbuka dan cocok untuk ditanami padi. Huma itu letaknya tidak jauh dari hutan yang sedang dibuka oleh prajurit-prajurit Pasir Batang.

Keesokan harinya ketika matahari terbit, berangkatlah rombongan dari istana Pasir Batang menuju hutan. Purbararang duduk diatas tandu yang dihiasi sutra dan permata yang gemerlapan. Sementara itu tunangannya, Indrajaya, menunggang kuda di sampingnya. Lima orang putri bersaudara ada pula dalam rombongan bersama sejumlah bangsawan. Ratusan prajurit mengawal. Tak ketinggalan seorang algojo dengan kapak besarnya. Purbararang yakin bahwa hari itu ia akan dapat menghukum pancung adiknya, Purbasari. Akan tetapi, ia dan rombongan terkejut sebab disamping huma yang dibuka para prajurit telah ada pula huma lain yang lebih bagus.

Di tengah huma itu berdiri Uwak Batara Lengser dan Lutung Kasarung. “Gusti Ratu,” kata Uwak Batara Lengser, “Inilah huma Putri Purbasari.”

Purbararang benar-benar kecewa, malu,dan marah. Ia berteriak, “Baik, tetapi sekarang saya menantang Purbasari bertanding kecantikan denganku. Kalian yang menilai,” katanya seraya berpaling pada khalayak.

Purbararang menyangka Purbasari masih hitam kelam karena boreh. “Uwak, suruh dia keluar dari rumahnya!”

Uwak Batara Lengser mempersilahkan Purbasari keluar dari istana kecilnya. Purbasari muncul dan orang-orang memadangnya dengan takjub. Banyak yang lupa bernapas dan berkedip. Banyak pula yang lupa menutup mulutnya.

Begitu cantiknya Purbasari sehingga seorang bangsawan berkata, “Saya seakan-akan melihat Sunan Ambu turun ke Bumi.”

Melihat hal itu mula-mula Purbararang kecut. Akan tetapi dia ingat, bahwa dia masih punya harapan untuk menang. Ia berteriak, “Purbasari, marilah kita bertanding rambut. Siapa yang lebih panjang, dia menang. Lepas sanggulmu!” Sambil berkata begitu Purbararang berdiri dan melepas sanggulnya. Rambutnya yang hitam dan lebat terurai hingga kepertengahan betisnya.

Purbasari terpaksa menurut. Ia pun melepas sanggulnya. Rambutnya yang hitam berkilat dan halus bagai sutra bergelombang bagaikan air terjun hingga ketumitnya. Purbararang terpukul kembali. Akan tetapi, dia tidak kehabisan akal. Ia ingat bahwa ia mempunyai pinggang yang sangat ramping.. Ia berkata, “Lihat semua. Ikat pinggang yang kupakai ini bersisa lima lubang. Kalau Purbasari menyisakan kurang dari lima lubang, ia dihukum pancung.” Seraya berkata begitu ia melepas ikat pinggang emas bertahta permata dan melemparkannya kepada Purbasari. Purbasari memakainya dan ternyata tersisa tujuh lubang
.
Sekarang Purbararang menjadi kalap. Ia berteriak, “Hai orang-orang Pasir Batang, masih ada satu pertandingan yang tidak mungkin dimenangkan oleh Purbasari. Pertandingan apa itu? Coba tebak!” katanya seraya melihat wajah-wajah bangsawan Pasir Batang yang berdiri didekatnya. Ia tertawa karena yakin ia akan menang dalam pertandingan terakhir ini.

“Pertandingan apa, Kakanda?” kata salah seorang di antara adiknya.

Purbararang tersenyum. “Dengarkan!” katanya pula, “Dalam pertandingan ini kalian harus membandingkan siapa di antara calon suami kami yang lebih tampan. Lihat kepada tunangan saya, Indrajaya. Bagaimana pendapat kalian? Tampankah ia?”

Untuk beberapa lama tidak ada yang menjawab. Mereka bingung dan terkejut. Purbararang membentak, “Jawab! Tampankah dia?” Orang-orang menjawab, “Tampan, Gusti Ratu!” Purbararang tidak puas, “Lebih nyaring!”

“Tampan Gusti Ratu!”

Sambil tersenyum Purbararang melihat kearah Purbasari yang berdiri dekat Uwak Batara Lengser dan Lutung Kasarung. “Dengarkanlah, Purbasari. Sekarang kamu tidak bisa lolos. Kita akan bertanding membandingkan ketampanan calon suami. Calon suamiku adalah Indrajaya yang tampan dan gagah itu. Siapakah calon suamimu itu?” Purbasari kebingungan. “Siapa lagi calon suamimu kecuali lutung besar itu?” teriak Purbararang seraya menunjuk ke arah Lutung Kasarung. Lalu ia tertawa.

Purbasari terdiam. Ia memandang ke arah Lutung Kasarung. Semuanya terdiam. Algojo melangkah ke arah Purbasari seraya memutar-mutar kapaknya yang lebar dan tebal. Seraya memandang ke arah Lutung Kasarung dan sambil tersenyum sayu Purbasari berkata, “Memang seharusnya kamu menjadi calon suamiku, Lutung.”

Mendengar apa yang diucapkan Purbasari itu gembiralah Purbararang. Sekarang ia dapat membinasakan Purbasari. Akan tetapi, sesuatu terjadi. Mendengar perkataan Purbasari itu, Lutung Kasarung berubah, kembali ke asalnya sebagai Guruminda yang gagah dan tampan. Semua terheran-heran dan terpesona oleh ketampanan Guruminda. Guruminda sendiri memegang tangan Purbasari dan berkata, “Ratu kalian yang sebenarnya, Purbasari, telah mengatakan bahwa saya sudah seharusnya menjadi calon suaminya. Sebagai calon suaminya, saya harus melindungi dan membantunya. Tahtanya telah direbut oleh Purbararang. Sebagai tunangan Purbararang, Anda harus berada di pihaknya, Indrajaya. Oleh karena itu, marilah kita berperang tanding.”

Indrajaya bukannya siap berperang tanding, tetapi malah berlutut dan menyembah kepada Guruminda, mohon ampun dan dikasihani. Purbararang menangis dan minta maaf kepada Purbasari. Sementara itu para bangsawan dan prajurit serta rakyat justru bergembira. Mereka akan bebas dari ketakutan dan tekanan para pendukung Purbararang.

Pada hari itu juga Ratu purbasari kembali ke Kerajaan didampingi oleh suaminya, Guruminda. Purbararang dan Indrajaya dihukum dan dipekerjakan sebagai tukang sapu di taman istana. Rakyat merasa lega. Mereka kembali bekerja dengan rajin seperti di jaman pemerintahan Prabu Tapa Agung. Berkat bantuan Guruminda, Purbasari memerintah dengan cakap dan sangat bijaksana. Rakyat Kerajaan Pasir Batang merasa terlindungi, suasana aman dan tentram sehingga mereka bisa bekerja dengan tenang pada akhirnya kemakmuran dapat mereka peroleh secara nyata dan merata.

Video Cerita Rakyat Lutung Kasarung dan Putri Purbasari

Demikian Cerita Rakyat Lutung Kasarung dan Putri Purbasari. Semoga Bermanfaat.

6. Cerita Rakyat: Legenda Timun Mas dan Raksasa Hijau (Lengkap dengan Video)

Mbok (panggilan untuk perempuan tua di Jawa Tengah) Srini adalah seorang janda tua yang memiliki anak bernama Timun Mas. Timun Mas yang merupakan anak kesayangan dari mbok srini merupakan gadis yang pemberani, pintar dan cerdik. Suatu ketika ada raksasa jahat yang ingin memakan timun mas. Namun bersama ibunya mbok srini, timun mas berhasil mengalahkan raksasa tersebut. Bagaimanakah cerita lengkapnya? Apa alasan mbok srini menamai anaknya timun mas? Dan mengapa sang raksasa ingin memakan timun mas? Simak cerita lengkap dari Legenda Timun mas berikut ini.

Pada zaman dahulu, disuatu daerah wilayah Jawa Tengah tinggallah seorang perempuan tua yang bernama mbok srini. Suami mbok srini sudah lama meninggal, dan selama itu pula mbok srini belum mempunyai anak. Sehingga mbok srini tinggal sendirian dirumahnya, Mbok Srini yang sangat menginginkan seorang anak berharap datang seorang anak yang akan menemani kesepiannya. Namun tiada harapan lagi, karena suaminya telah lama meninggal. Siang malam dia berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar suatu ketika datang keajaiban kepadanya. Semoga harapannya untuk memiliki seorang anak bisa terwujud.

Pada suatu malam mbok srini bermimpi didatangi oleh sesosok makhluk raksasa yang menyuruhnya untuk pergi kehutan tempat biasa dia mencari kayu bakar. Raksasa tersebut meminta mbok srini mencari sebuah bungkusan dibawah pohon besar. Kemudian mbok srini terbangun, terkejut dengan mimpi yang barusan dia alami.

“Mungkinkah ini sebuah keajaiban dari semua doaku?, tanya mbok srini dalam hati.

Dengan keyakinan dan menyingkirkan keragu – raguan, mbok srini bergegas pergi ketempat yang disuruh raksasa tersebut didalam mimpi. Setibanya di tempat dia biasa mencari kayu bakar, mbok srini berkeliling untuk mencari pohon besar yang dimaksud oleh sang raksasa. Mbok srini sangat terkejut ketika melihat dibawah pohon besar yang dimaksud oleh sang raksasa terdapat bungkusan. Ketika bungkusan itu dibuka, mbok srini sangat terheran bukan seorang bayi yang ada didalam bungkusan tersebut melainkan sebutir biji mentimun.

“Kenapa sang raksasa memberikanku biji mentimun, bukankah doaku meminta seorang anak?, tanya mbok srini dalam hati dan kebingungan.

“HA…HA..HA…”, sang raksasa tertawa keras dan terbahak – bahak.

Sontak Mbok Srini yang masih kebingungan kaget mendengar suara besar tersebut, dilihatnya sesosok raksasa besar tengah berdiri dibelakangnya. Mbok srinipun gemetar ketakutan.

“Ampun, tuan raksasa. Tolong jangan makan saya”, pinta mbok srini dengan muka pucat.

“Hai, manusia jangan takut. Aku bukan ingin memakanmu. Bukankah kamu menginginkan seorang anak?”, tanya sang raksasa.

“Be..benar, tuan raksasa”, jawab mbok srini.

“Bagus, segera sampai dirumah tanamlah biji timun itu! Nantinya kau akan mendapatkan seorang anak perempuan. Tapi ketika dia sudah dewasa, kau harus menyerahkannya kepadaku sebagai sanntapanku. Ingat itu!” ujar sang raksasa.

“Baiklah, akan kuserahkan anakku kepadamu ketika dia sudah dewasa”, jawab mbok srini tanpa berfikir panjang.

Setelah mendengar kesanggupan mbok srini untuk menyerahkan anaknya, sang raksasa akhirnya menghilang. Segera mbok Srini pergi keladang untuk menanam biji itu. Setiap hari mbok srini memelihara tanaman tersebut dengan penuh harapan. Dua bulan kemudian tanaman itupun mulai berbuah, tidak seperti tanaman timun yang ditanam. Tanaman ini hanya berbuah satu buah saja. Semakin hari buah timun tersebut semakin membesar, ukurannya pun tidak seperti buah timun biasanya. Warnanya pun sangat berbeda, buah timun itu berwarna kuning keemasan. Dan ketika buah timun itu sudah masak, mbok srini membawa pulang buah tersebut. Dengan susah payah mbok srini mengangkat buah timun yang besar itu. Segera setelah sampai dirumah mbok srini membuka buah tersebut dengan hati – hati. Betapa terkejutnya ia ketika melihat isi dari buah timun tersebut seorang bayi perempuan yang amat cantik dan lucu.

“Oee..oee..oe”, tangis bayi lucu itu, sesaat setelah mbok srini menggendongnya.

Alangkah bahagianya mbok srini, mendapatkan bayi yang selama ini diinginkannya. Dia memberi nama bayi tersebut Timun Mas.

“Cup..cup.., sudah jangan menangis anakku”, hibur mbok srini.

Mbok srini yang sangat bahagia dengan kedatangan timun mas. Tak sadar telah melupakan janjinya kepada sang raksasa. Ia mendidik dan merawat timun mas dengan penuh kasih sayang, hingga timun mas tumbuh menjadi gadis yang cerdas dan cantik jelita.

Suatu malam mbok srini bermimpi didatangi oleh sang raksasa yang menagih janji mbok srini untuk menyerahkan timun mas ketika dia dewasa. Sang raksasa berpesan, seminggu kedepan dia akan datang untuk menjemput timun mas. Setiap hari mbok sri termenung akan ucapan sang raksasa, yang akan menjemput timun mas dan menjadikannya santapannya.

Suatu sore, timun mas yang melihat ibunya duduk terdiam dan terlihat sedih memberanikan diri untuk bertanya.

“Kenapa beberapa hari ini ibu terlihat sangat sedih?”, tanya timun mas.

Sebenarnya mbok srini tak ingin menceritakan, penyebab kesedihan hatinya. Namun karena timun mas terus mendesak, akhirnya beliau pun bercerita.

“Maafkan ibu yang merahasiakan ini kepadamu, timun mas. Sebenarnya engkau bukanlah anak kandung ibu”, kata mbok srini perlahan.

“Apa maksud ibu?”, tanya timun mas bingung.

Mbok srini kemudian menceritakan kisahnya kepada timun mas sampai dengan mimpinya beberapa hari yang lalu tentang sang raksasa. Timun mas yang kaget mendengar ceritan tersebut memeluk ibunya.

“Aku tak ingin menjadi santapan raksasa, ibu. Aku ingin tinggal bersama ibu”, kata timun mas.

Mendengar jawaban dari timun mas tersebut, mbok srini bingung mencari cara bagaimana timun mas selamat dari sang raksasa. Sampai dihari sang raksasa menagih janjinya, mbok srini belum juga mendapatkan cara untuk mengelabuhi sang raksasa. Tiba – tiba mbok srini mendapatkan akal, ia meminta timun mas untuk berpura – pura sakit. Sore harinya sang raksasa datang untuk mengambil timun mas.

“Hai..perempuan tua, serahkan anakmu sekarang!”, pinta si raksasa.

“Maaf tuan, anak saya sedang sakit. Jika kau memakannya, tentu rasanya tidak enak. Tiga hari lagi datanglah kemari, aku akan menyembuhkannya terlebih dahulu.”, kata mbok srini.

“Baiklah, tetapi kamu harus berjanji untuk menyerahkan anak itu kepadaku”, kata sang raksasa.

Kemudian sang raksasa menghilang, dan mbok srini kembali bingung mencari cara lain. Kemudian dia teringat ada seorang petapa tua yang tinggal digunung. Petapa tua itu dulunya adalah teman dari suaminya yang telah meninggal.

“Anakku timun mas, besok pagi – pagi sekali ibu akan pergi menemui seorang petapa digunung. untuk meminta pertolongannya agar terhindar dari sang raksasa.” ungkap mbok srini.

Keesokan harinya mbok srini pergi ke gunung untuk meminta bantuan dari sang petapa. Ia mencertitakan apa yang dialaminya dengan ibunya kepada sang petapa.

“Tunggu sebentar, akan ku ambilkan sesuatu untukmu”, jawab sang petapa sambil masuk kedalam ruang rahasianya.

Tak berapa lama kemudian sang petapa keluar dari ruang rahasianya dan memberikan nungkusan kecil kepada mbok srini.

“Berikan bungkusan ini kepada anakmu. Didalam bungkusan ini terdapat biji timun, jarum, garam dan terasi. Jika raksasa mengejarnya, sebarkan nungkusan ini”, kata sang petapa.

Setelah sampai dirumah, mbok sri memberikan bungkusan tersebut kepada timun mas. Kini, mbok srini bisa sedikit tenang karena timun mas sudah punya senjata untuk melawan sang raksasa.

Dua hari kemudian sang raksasa pun datang untuk menagih janji mbok srini. Ia meminta mbok srini menyerahkan timun mas, jika tidak ia pun akan menyantap mbok srini. Mbok srini yang melihat kedatangan sang raksasa menyuruh timun mas untuk keluar menemui sang raksasa. Melihat timun mas yang sudah sembuh dan sudah dewasa, sang raksasa pun tak sabar untuk menyantap timun mas. Ketika akan memakannya, timun mas berlari sekencang – kencangnya melarikan diri dari kejaran sang raksasa.

Setelah berlari jauh, timun mas merasa sangat kelelahan. Akhirnya diapun mengeluarkan bungkusan pertama dari sang pertapa. Timun mas mengeluarkan bungkusan yang berisi biji timun, tiba – tiba sekelilingnya berubah menjadi ladang timun. Dengan sekejap batang timun menjalar dan melilit tubuh sang raksasa. Namun sang raksasa dapat meloloskan diri dari lilitan batang timun tersebut dan kembali mengejar timun mas.

Timun mas segera melemparkan bungkusan kedua yang isinya jarum, seketika itu juga jarum tersebut berubah menjadi rimbunan bambu yang sangat lebat, tinggi dan sangat runcing. Namun sang raksasa tetap mampu melewatinya dan terus mengejar timun mas, dengan kaki yang berdarah karena tertusuk bambu runcing tersebut.

Melihat kedua usahanya melempar bungkusan tersebut belum berhasil, timun mas pun melempar bungkusan ketiga yang berisi garam. Sontak taburan garam tersebut berubah menjadi lautan luas yang dalam, namun sang raksasa tetap berhasil memaluinya dengan mudah. Inilah bungkusan terkahir timun mas, jika bungkusan ini tak berhasil. Maka ia akan menjadi santapan sang raksasa. Timun mas melemparkan bungkusan terakhir yang berisi terasi dengan penuh keyakinan bahwa sang raksasa akan kalah. Seketika itu pula, tempat jatuhnya terasi tersebut berubah menjadi lumpur hitam pekat yang sangat panas. Sang raksasa yang tercebur didalamnya tidak dapat melarikan diri dan tenggelam didalamnya.

Dengan sekuat tenaga timun mas berlari pulang menemui ibunya. Melihat timun mas yang pulang dengan selamat Mbok srini langsung berucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Sejak saat itu Timun mas dan Mbok srini hidup damai bahagia.

Cerita ini menggambarkan bahwa, ketika kita berniat jahat kepada orang lain, pada akhirnya diapun akan celaka. Sedangkan untuk menghadapi segala tantangan atau masalah, kita harus melewatinya dengan kerja keras dan semangat, serta keyakinan bahwa tantangan tersebut bisa diselesaikan. Demikianlah akhir Cerita Rakyat Indonesia tentang Legenda Timun Mas, semoga beberapa pelajaran dan hikmah dapat kita petik dari cerita diatas.

Video Cerita Rakyat: Legenda Timun Mas dan Raksasa Hijau

Demikian Cerita Rakyat: Legenda Timun Mas dan Raksasa Hijau. Semoga bermanfaat.

7. Cerita Rakyat Nusantara: Legenda Keong Mas (Lengkap dengan Video)

Di Kerajaan Daha, hiduplah dua orang putri yang sangat cantik jelita. Putri nan cantik jelita tersebut bernama Candra Kirana dan Dewi Galuh. Kedua putri Raja tersebut hidup sangat bahagia dan serba kecukupan.

Hingga suatu malam datanglah seorang pangeran yang sangat tampan dari Kerajaan Kahuripan ke Kerajaan Daha. Pangeran tersebut bernama Raden Inu Kertapati. Maksud kedatangannya ke Kerajaan Daha adalah untuk melamar Candra Kirana. Kedatangan Raden Inu Kertapati sangat disambut gembira oleh Raja Kertamarta, dan akhirnya Candra Kirana ditunangkan dengan Raden Inu Kertapati.

Pertunangan itu ternyata membuat Dewi Galuh merasa iri. Kerena dia merasa kalau Raden Inu Kertapati lebih cocok untuk dirinya. Oleh karena itu Dewi Galuh lalu pergi ke rumah Nenek Sihir. Dia meminta agar nenek sihir itu menyihir Candra Kirana menjadi sesuatu yang menjijikkan dan dijauhkan dari Raden Inu. Nenek Sihir pun menyetujui permintaan Dewi Galuh, dan menyihir Candra Kirana menjadi Keong Emas, lalu membuangnya ke sungai pada pagi hari.

Suatu hari seorang nenek sedang mencari ikan dengan jala, da nkeong emas terangkut dalam jalanya tersebut. Keong Emas itu lalu dibawanya pulang dan ditaruh di tempayan. Besoknya nenek itu mencari ikan lagi di sungai, tetapi tak mendapat ikan seekor pun. Kemudian Nenek tersebut memutuskan untuk pulang saja, sesampainya di rumah ia sangat kaget sekali, karena di meja sudah tersedia masakan yang sangat enak-enak.

Si nenek bertanya-tanya pada dirinya sendiri, siapa yang mengirim masakan ini.Begitu pula hari-hari berikutnya si nenek menjalani kejadian serupa, keesokan paginya nenek ingin mengintip apa yang terjadi pada saat dia pergi mencari ikan. Nenek itu lalu berpura-pura pergi ke sungai untuk mencari ikan seperti biasanya, lalu pergi ke belakang rumah untuk mengintipnya. Setelah beberapa saat, si nenek sangat terkejut. Karena keong emas yang ada di tempayan berubah wujud menjadi gadis cantik. Gadis tersebut lalu memasak dan menyiapkan masakan tersebut di meja.

Karena merasa penasaran, lalu nenek tersebut memberanikan diri untuk menegur putri nan cantik itu. “Siapakah kamu ini putri cantik, dan darimana asalmu?”, tanya si nenek. “Aku adalah putri kerajaan Daha yang disihir menjadi keong emas oleh nenek sihir utusan saudaraku karena merasa iri kepadaku”, kata keong emas dengan sedih.

Setelah menjawab pertanyaan dari nenek, Candra Kirana berubah lagi menjadi Keong Emas,dan nenek sangat terheran-heran. Sementara pangeran Inu Kertapati khawatir tak mau diam saja ketika tahu candra kirana menghilang. Iapun mencarinya dengan cara menyamar menjadi rakyat biasa. Nenek sihir pun akhirnya tahu dan mengubah dirinya menjadi gagak untuk mencelakakan Raden Inu Kertapati.

Raden Inu Kertapati kaget sekali melihat burung gagak yang bisa berbicara dan mengetahui tujuannya. Ia menganggap burung gagak itu sakti dan menurutinya padahal raden Inu diberikan arah yang salah yaitu menuju kedalam sebuah hutan.

Di perjalanan Raden Inu bertemu dengan seorang kakek yang sedang kelaparan, diberinya kakek itu makan. Ternyata kakek adalah orang sakti yang baik Ia menolong Raden Inu dari burung gagak itu. Kakek itu memukul burung gagak dengan tongkatnya, dan burung itu menjadi asap. Akhirnya Raden Inu diberitahu dimana Candra Kirana berada, disuruhnya raden itu pergi ke desa Dadapan.

Setelah berjalan berhari-hari sampailah ia kedesa Dadapan Ia menghampiri sebuah gubuk yang dilihatnya untuk meminta seteguk air karena perbekalannya sudah habis. Di gubuk itu ia sangat terkejut, karena dari balik jendela ia melihat Candra Kirana sedang memasak. Akhirnya sihir dari nenek sihir pun hilang karena perjumpaan itu. Akhirnya pada sore hari Raden Inu memboyong tunangannya beserta nenek yang baik hati tersebut ke istana, dan Candra Kirana menceritakan perbuatan Dewi Galuh pada Baginda Kertamarta.

Baginda minta maaf kepada Candra Kirana dan sebaliknya. Dewi Galuh lalu mendapat hukuman yang setimpal. Karena Dewi Galuh merasa takut, maka dia melarikan diri ke hutan dan ketika lari ke hutan Dewi Galuh jatuh terperosok masuk kedalam jurang dan mati seketika.

Akhirnya pernikahan Candra kirana dan Raden Inu Kertapati pun berlangsung, dan pesta tersebut sangat meriah. Akhirnya mereka hidup bahagia.

Video Cerita Rakyat Keong Mas

Semoga Bermanfaat.

8. Roro Jonggrang dan Asal Usul Candi Prambanan (Lengkap dengan Video)

RARA JONGGRANG (ejaan alternatif: Loro Jonggrang; Lara Jonggrang) adalah sebuah legenda atau cerita rakyat populer yang berasal dari Jawa Tengah dan Yogyakarta di Indonesia. Roro Jonggrang adalah putri dari Prabu Baka dari Kerajaan Prambanan, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Roro Jonggrang memiliki paras yang cantik jelita. Cerita ini mengisahkan cinta seorang pangeran kepada seorang putri yang berakhir dengan dikutuknya sang putri akibat tipu muslihat yang dilakukannya.

Suatu ketika, ia dilamar oleh seorang kesatria yang bernama BONDOWOSO dari Kerajaan Pengging. Roro Jonggrang bersedia menerima lamaran itu, asalkan Bondowoso mampu membuatkan seribu candi dan dua buah sumur dalam waktu semalam. Dongeng ini juga menjelaskan asal mula yang ajaib dari Candi Sewu, Candi Prambanan, Keraton Ratu Baka, dan arca Dewi Durga yang ditemukan di dalam candi Prambanan. Rara Jonggrang artinya adalah “dara (gadis) langsing”.

Konon di Jawa Tengah terdapat dua kerajaan yang bertetangga, KERAJAAN PENGGING DAN KERAJAAN BAKA. Pengging adalah kerajaan yang subur dan makmur, dipimpin oleh PRABU DAMAR MAYA. Ia berputra RADEN BONDOWOSO (BANDAWASA) yang gagah perkasa dan sakti. Kesaktian Bondowoso terletak pada senjatanya yang bernama BANDUNG. Selain itu, Bondowoso juga mempunyai balatentara berupa makhluk-makhluk halus. Jika membutuhkan bantuan, Bondowoso mampu mendatangkan makhluk-makhluk halus tersebut dalam waktu sekejap.

Sedangkan kerajaan Baka dipimpin oleh raksasa pemakan manusia bernama PRABU BAKA. Ia seorang raksasa yang menakutkan dan memiliki kesaktian yang tinggi. Ia dibantu oleh seorang patih bernama GUPALA. Wilayah kekuasaannya sangat luas. Kerajaan-kerajaan kecil di sekitar wilayahnya semua takluk di bawah kekuasaannya. Meskipun seorang raksasa, Prabu Baka mempunyai seorang putri cantik yang berwujud manusia bernama RORO JONGGRANG. Prabu Baka sangat menyayangi putri tunggalnya itu. Sebagai wujud kasih sayangnya kepada putrinya, ia mewariskan seluruh kesaktian dan kepandaian yang dimilikinya. Maka jadilah Roro Jonggrang seorang putri yang cantik jelita dan sakti mandraguna.

Untuk memperluas kerajaan, Prabu Baka menyerukan perang kepada kerajaan Pengging. Pertempuran meletus di kerajaan Pengging. Akibatnya, banyak rakyat Pengging tewas, menderita kelaparan, dan kehilangan harta benda. Demi mengakhiri perang, Prabu Damar Maya mengirimkan putranya untuk menghadapi Prabu Baka.

“Hai, Bondowoso! Siapkan pasukanmu untuk pergi menyerang Prambanan!” perintah Raja Pengging.

“Baik, Gusti! Perintah segera hamba laksanakan!” jawab Bondowoso sambil memberi hormat.

Keesokan harinya, berangkatlah Bondowoso bersama pasukannya ke kerajaan Baka. Setibanya di kerajaan Baka, mereka langsung menyerbu masuk ke dalam istana. Prabu Baka pun tidak tinggal diam. Ia segera memerintahkan pasukannya untuk menahan serangan pasukan Bondowoso yang datang secara tiba-tiba.

Pertempuran sengit pun tak terelakkan lagi. Namun karena pasukan Prabu Baka kurang persiapan dalam pertempuran itu, akhirnya pasukan Bondowoso berhasil menaklukkan mereka. Prabu Baka sendiri tewas terkena senjata sakti Bandowoso yang bernama Bandung.

SEJAK ITU, BONDOWOSO PUN DIKENAL DENGAN NAMA BANDUNG BONDOWOSO. Ketika Patih Gupala mendengar kabar kematian junjungannya, ia segera melaporkan kabar kematian Prabu Baka kepada Putri Rara Jonggrang. Sang putri pun meratapi kematian ayahnya.

Setelah Bandung Bondowoso dan pasukannya memenangkan pertempuran itu, Raja Pengging pun mengamanatkan Bandung Bondowoso untuk menempati istana Prambanan.

“Wahai, Bandung Bondowoso! Sebagai ucapan terima kasihku atas keberhasilanmu mengalahkan Prabu Baka, aku memberimu amanat untuk mengurus Kerajaan Prambanan dan segala isinya, termasuk keluarga Prabu Baka,” kata Raja Pengging.

“Terima kasih, Gusti! Hamba berjanji untuk menjaga amanat Gusti,” jawab Bandung Bondowoso.

Setelah itu, Bandung Bondowoso pun segera menempati istana Prambanan. Pada saat hari pertama menempati istana Pramabanan, ia langsung terpesona melihat kecantikan Roro Jonggrang dan berniat untuk menjadikannya sebagai permaisuri.

Pada suatu hari, Bandung Bondowoso menyatakan maksud hatinya kepada Raja Jonggrang.

“Wahai, putri Roro Jonggrang! Bersediakah engkau menjadi permaisuriku?” tanya Bandung Bondowoso.

Roro Jonggrang tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Ia hanya terdiam dan kebingungan. Sebenarnya, ia amat membenci Bandung Bondowoso karena telah membunuh ayahnya. Namun, ia takut menolak lamarannya karena bagaimana pun juga ia tidak akan sanggup mengalahkan kesaktian Bondowoso. Setelah berpikir sejenak, Roro Jonggrang pun menemukan satu cara untuk menolak lamaran itu dengan cara yang halus.

“Baiklah, Bandung Bondowoso! Aku bersedia menerima lamaranmu, tapi kamu harus memenuhi satu syaratku,” jawab Roro Jonggrang.

“Apakah syaratmu itu, Roro Jonggrang?” tanya Bandung Bondowoso.

“Buatkan aku seribu candi dan dua buah sumur dalam waktu semalam,” jawab Roro Jonggrang.

Tanpa berpikir panjang, Bandung Bondowoso pun menyanggupinya, karena ia yakin mampu memenuhi syarat itu dengan bantuan balantentaranya. Pada malam harinya, Bandung Bondowoso mengundang balatentaranya yang berupa makhluk halus tersebut.

Dalam waktu sekejap, balatentaranya pun datang dan segera membangun candi dan sumur sebagaimana permintaan Roro Jonggrang. Mereka bekerja dengan sangat cepat. Sang pangeran berhasil menyelesaikan SUMUR JALATUNDA berkat kesaktiannya. Setelah sumur sumur selesai, Rara Jonggrang berusaha memperdaya sang pangeran agar bersedia turun ke dalam sumur dan memeriksanya. Setelah Bandung Bondowoso turun, sang putri memerintahkan Gupala untuk menutup dan menimbun sumur dengan batu. Akan tetapi, Bandung Bondowoso berhasil keluar dengan cara mendobrak timbunan batu berkat kesaktiannya. Bondowoso sempat marah, namun segera tenang karena kecantikan dan bujuk rayu sang putri.

Pada dua pertiga malam, mereka hampir menyelesaikan seribu candi. Hanya tinggal tiga buah candi dan sebuah sumur yang belum mereka selesaikan. Roro Jonggrang yang ikut menyaksikan pembuatan candi itu mulai khawatir. Ia pun segera memberitahukan hal itu kepada salah seorang dayang kepercayaannya.

“Dayang! Pembangunan seribu candi dan penggalian dua buah sumur tersebut hampir selesai. Apa yang harus kita lakukan?” tanya Roro Jonggrang kepada dayang itu.

“Tenanglah, Gusti! Pasti ada jalan keluarnya,” hibur dayang itu.

Roro Jonggrang kembali berpikir keras dan ia pun menemukan jalan keluarnya. Ia akan membuat suasana menjadi seperti pagi, sehingga para makhluk halus tersebut menghentikan pekerjaannya sebelum menyelesaikan seribu candi.

“Dayang! Segera bangunkan teman-temanmu! Suruh mereka membakar jerami dan menumbuk padi di lesung, serta menaburkan bunga-bunga yang harum baunya!” perintah Roro Jonggrang.

“Baik, Gusti!” jawab dayang itu seraya bergegas masuk ke dalam istana membangunkan dayang-dayang lainnya.

Dayang-dayang pun bangun dan segera melaksanakan perintah Roro Jonggrang. Tak berapa lama, tampaklah cahaya kemerah-merahan dari arah timur akibat dari pemakaran jeramih. Suara lesung pun terdengar bertalu-talu. Bau harum bunga-bungaan mulai tercium. Beberapa saat kemudian, suara ayam jantan berkokok mulai terdengar. Para balatentara Bandung Bondowoso pun segera menghentikan pekerjaannya, karena mengira hari sudah pagi. Mereka pergi meninggalkan tempat pembuatan candi tersebut, padahal kurang sebuah candi lagi yang belum mereka selesaikan. Batu-batu berukuran besar masih berserakan di tempat itu.

Melihat balatentaranya akan kembali ke alamnya, Bandung Bondowoso berteriak dengan suara keras.

“Teman-teman, kembalilah! Hari belum pagi. Genapkan seribu candi. Tinggal sebuah candi lagi!” teriak Bandung Bondowoso.

Para makhluk halus tersebut tidak menghiraukan teriakannya. Akhirnya, Bandung Bondowoso berniat meneruskan pembangunan candi itu untuk menggenapi seribu candi. Namun belum selesai candi itu ia buat, pagi sudah menjelang. Ia pun gagal memenuhi permintaan Roro Jonggrang.

Mengetahui kegagalan Bondowoso tersebut, Roro Jonggrang segera menemuinya di tempat pembuatan candi itu.
“Bagaimana Bandung Bondowoso? Apakah candiku sudah selesai?” tanya Roro Jonggrang sambil tersenyum.

Betapa marahnya Bandung Bondowoso melihat sikap Roro Jonggrang itu. Apalagi setelah ia mengetahui bahwa Roro Jonggranglah yang telah menggagalkan usahanya. Ia pun melampiaskan kemarahannya dengan mengutuk Roro Jonggrang menjadi arca.

“Hai, Roro Jonggrang! Kamu telah menggagalkan usahaku untuk mewujudkan seribu candi yang kurang satu lagi. Jadilah kau arca dalam candi yang keseribu!” teriak Bandung Bondowoso.

Berkat kesaktian Bandung Bondowoso, seketika itu pula Roro Jonggrang berubah menjadi arca batu. Wujud arca itu sangat cantik, secantik Roro Jonggrang. Hingga kini, arca itu dapat disaksikan di dalam ruang candi besar yang bernama Candi Roro Jonggrang yang berada dalam kompleks Candi Prambanan. Sementara candi-candi yang ada di sekitarnya disebut dengan Candi Sewu. Sewu dalam bahasa Jawa berarti seribu.

Menurut kisah ini, situs Ratu Baka di dekat Prambanan adalah istana Prabu Baka, sedangkan 999 candi yang tidak rampung kini dikenal sebagai Candi Sewu, dan arca Durga di ruang utara candi utama di Prambanan adalah perwujudan sang putri yang dikutuk menjadi batu dan tetap dikenang sebagai LARA JONGGRANG YANG BERARTI “GADIS YANG RAMPING”.

Legenda ini adalah dongeng atau cerita rakyat yang menjelaskan asal mula yang ajaib dari situs-situs bersejarah di Jawa, yaitu Keraton Ratu Baka, Candi Sewu, dan arca Durga di ruang utara candi utama Prambanan. Meskipun candi-candi ini berasal dari abad ke-9, akan tetapi diduga dongeng ini disusun pada zaman yang kemudian yaitu zaman Kesultanan Mataram.

Tafsiran lainnya menyebutkan bahwa legenda ini mungkin merupakan ingatan kolektif samar-samar masyarakat setempat mengenai peristiwa bersejarah yang pernah terjadi di kawasan ini. Yaitu peristiwa perebutan kekuasaan antara wangsa Sailendra dan wangsa Sanjaya untuk berkuasa di Jawa Tengah.

Prabu Baka mungkin dimaksudkan sebagai Raja Samaratungga dari wangsa Sailendra, Rakai Pikatan sebagai Bandung Bondowoso, dan Pramodhawardhani, putri Samaratungga sekaligus istri Rakai Pikatan, sebagai Rara Jonggrang. Peristiwa bersejarah sebenarnya adalah pertempuran antara Balaputradewa melawan Pramodawardhani yang dibantu suaminya Rakai Pikatan yang akhirnya dimenangi Rakai Pikatan dan mengakhiri dominasi wangsa Sailendra di Jawa Tengah.

Demikian LEGENDA CERITA RAKYAT RORO JONGGRANG, dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Kisah ini termasuk kategori legenda yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita atas adalah akibat yang ditimbulkan dari sifat curang dan licik. Sifat ini tampak pada kelicikan Roro Jonggrang dalam menggagalkan usaha Bandung Bondowoso membangun seribu candi agar tidak menikahinya. Akibatnya, ia pun dikutuk menjadi arca oleh Bandung Bondowoso.

Video Roro Jonggrang dan Asal Mula Terciptanya Candi Prambanan

Demikian cerita rakyat Roro Jonggrang dan Asal Mula Terciptanya Candi Prambanan. Semoga bermanfaat.

9. Cerita Rakyat Nusantara: Legenda Ande Ande Lumut (Lengkap dengan Video)

Dewi Candra Kirana adalah sosok perempuan sangat Gantik wajahnya Ia telah bersuami. Suaminya adalah putra mahkota Kerajaan Jenggala. Raden Putra namanya. Karena Raden Putra menolak menjadi raja menggantikan ayahandanya, Dia pun diusir dari istana Kerajaan Jenggala. Raden Putra lantas pergi tanpa mengajak Dewi Candra Kirana. Tidak diketahui dimana keberadaan Raden Putra kemudian.

Dewi Candra Kirana lantas mencari keberadaan suami tercintanya itu. Untuk menutupi jati dirinya Dewi Candra Kirana menyamar laksana perempuan desa biasa. Dalam pengembaraannya, Dewi Kirana Bertemu seorang janda kaya bernama Mbok Randa Karangwulusan. Ia pun diangkat anak oleh janda kaya itu dan dIberi nama Kleting Kuning.

Mbok Randa Karangwulusan telah mempunyai tiga anak perempuan. Kleting Abang, Kleting Wungu, dan Kleting Biru nama mereka. Oleh Mbok Randa Karangwulusan, Kleting Kuning dipersaudarakan dengan ketiga anaknya dan dianggap sebagai anak bungsu.

Dalam kehidupan sehari-hari, tiga anak Mbok Randa Karangwulusan sangat jahat perilakunya pada Kleting Kuning. Mereka iri dengan kecantikan wajah Kleting Kuning. Karena perasaan irinya, mereka sengaja meminta Kleting Kuning mengenakan pakaian yang jelek dan kumal hingga Kleting Kuning tampak seperti pembantu yang telah kehilangan kewarasan. Mereka juga meminta KLeting Kuning rnengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Dari mulai mencuci, memasak dan membersihkan rumah harus di kerjakan Kleting Kuning sendirian. Kadang mereka juga meminta Kleting Kuning untuk mengerjaakan pekerjaan yang sangat sukar, seperti mencuci periuk tembaga yang telah lama digunakan hingga menjadi kembali bersih dan baru Tubuh Kleting Kuning berbau karena seperti tidak ada kesempatan baginya guna membersihkan diri. Semua itu diterima Kleting Kuning dengan sabar dan ikhlas. Kleting Kuning yakin, kesabaran dan keikhlasannya akan rnembuahkan hasil yang baik baginya di kemudian hari.

Syandan Mbok Randa Karangwutusan mendengar berita yang bersumber dan desa Dadapan kabar itu menyebutkan jika Mbok Randa Dadapan mempunyai anak angkat, seorang permuda yang sangat tampan wajahnya_ Ande-ande Lumut namanya. Ketampanan Ande-ande Lumut sangat terkenal menjadi buah bibir dimana-rnana. Banyak gadis yang datang ke desa Dadapan untuk melamar anak angkat Mbok Randa Dadapan itu. Banyak pula orangtua yang datang menemui Mbok Randa Dadapan guna menjodohkan anak gadis mereka dengan Ande-ande Lumut

Mbok Randa Karangwulusan juga berkehendak agar salah satu dari anak-anaknya dapat menjadi istri Ande-ande Lumut Diperintahkannya tiga anak gadisnya itu menuju desa Dadapan, sementara Kieting Kuning diperintahkannya untuk tetap tinggal di rumah.

Kleting Abang, Kleting Wungu, dan Kleting Biru segera berangkat menuju desa Dadapan. Mereka mengenakan pakaian terbaik yang mereka miiiki sesuai mama ketiganyra, Kleting Abang rnengenakan pakaian berwama merah. Kleting Wungu mengenakan pakaian berwama ungu dan Kleting Biru mengenakan pakaian berwarna bru. Sebelum ketiga anak Mbok Randa Karangwulusan itu tiba di desa Dadapan, mereka kebingungan karena harus menyeberangi sungai yang lebar lagi berair dalam. Tidak ada yang bisa mereka tumpangi untuk menyebrang. Di tengah kebingungan itu mendadak muncul kepiting raksasa. Yayu Kangkang namanya. Dia bersedia menolong menyebrangkan tiga gadis itu dengan diberikan imbalan.

“Apa imbalan yang engkau inginkan agar kami bisa menyebrangi sungai ini?” tanya Kleting Abang.

“Jika engkau bersedia aku cium serta menciumku maka aku akan menyeberangkanmu,” Jawab Yayu Kangkang.

Kleting Abang, Kleting Wungu, dan Kleting Biru tidak berkeberatan mencium dan dicium Yayu Kangkang bagi mereka yang terpenting adalah dapat menyebrangi sungai lebar itu guna meneruskan perjalanan menuju desa dadapan.

Kleting Kuning pun juga berniat datang ke desa Dadapan Untuk bertemuu dengan Ande-ande Lumut. Keinginan itu disarnpaikannya kepada Mbok Randa Karangwulusan

“Apa? Engkau ingin juga melamar Ande-ande Lumut yang amat tampan itu?” Mbok Randa Karangwulusan benar-benar melecehkan Kleting Kuning. ‘Bercerminlah dahulu dirimu hei Kleting Kuning jangan sampai Ande-ande Lumut yang tampan itu menjadi muak ketika melihat wujudmu yang menyedihkan itu. ”

Namun, Kleting Kuning tetap bersikeras. Mbok Randa Karangwulusan akhirnya mengijinkan.
kepiting raksasa bersedia menyebrangkan dengan imbalan ciuman

kepiting raksasa bersedia menyebrangkan dengan imbalan ciuman

Dengan tetap mengenakan pakaian kumal hingga tubuhnya berbau, Kleting Kuning menuju desa Dadapan. Seperti halnya tiga saudara angkatnya. Kleting Kuningpun kesulitan untuk menyeberangi sungai lebar berair dalam. Muncul kemudian Yuyu Kangkang. Kepiting raksasa itu sebenarnya tidak mau menyeberangkan Kleting Kuning karena tubuh Kleting Kuning yang bau itu. Namun dia tetap juga bersedia menyeberangkan asalkan Kleting Kuning mau dicium dan menciumnya.

“Apa katamu? engkau akan menciumku dan aku harus bersedia menciummu? aku tidak sudi!” Tegas Kleting Kuning.

“Jika engkau tak sudi, silakan menyeberang sendiri!”

Kleting Kuning lantas mengeluarkan senjata yang selama itu disimpannya rapat-rapat. Senjata itu berupa lidi sakti. Seketika lidi sakti itu dipukulkan pada sungai, air sungai itu pun surut. Yuyu Kangkang menjerit-jerit meminta tolong. Ia tidak bisa hidup di luar air. Ia memohon kepada Kleting Kuning agar mengembalikan air sungai itu lagi. Untuk itu ia akan menyeberangkan Kleting Kuning hingga sampai ke daratan seberang.

Kleting Kuning menyatakan kesediaannya. Ia pun diseberangkan Yuyu Kangkang tanpa harus dicium dan mencium kepiting raksasa itu.

Tibalah kemudian Kieting Kuning di desa Dadapan. Kleting Kuning mendapati tiga kakak angkatnya telah ditolak Ande-ande Lumut. Penyebabnya, Ande-ande Lumut mengetahui jika tiga anak Mbok Randa Karangwulusan itu telah dicium dan mencium Yuyu Kangkang. Sangat mengejutkan, ketika Ande-ande Lumut mengetahui kedatangan Kleting Kuning, ia bergegas menyambutnya.

Mbok Randa Dadapan benar-benar terheran-heran mendapati sikap anak angkatnya itu. Begitu banyaknya gadis-gadis berwajah cantik dan menarik yang datang kepadanya senantiasa ditolaknya, namun ketika melihat Kleting Kuning yang herpakaian kumal lagi bau badannya anak angkatnya itu malah menyamhutnya dengan wajah berseri-seri.

“Ibu jangan melihat penampilan luarnya” kata Ande-ande Lumut, “Sesungguhriya gadis ini mampu menjaga kehormatan dirinya. Tidak seperti gadis-gadis lainnya. la tidak sudi dijamah Yuyu Kangkang. Dialah calon istri yang terbaik untukku”

Di hadapan sekalian orang, Kleting Kuning lantas mengubah diri menjadi Dewi Candra Kirana. Tak terkirakan keterkejutan orang-orang ketika melihat sosoknya yang sangat cantik. Kleting Abang, Kleting Wungu, dan Kleting Biru benar-benar terperangah ketika mengetahui jika sosok yang selama itu mereka perlakukan dengan tidak baik itu ternyata Dewi Candra Kirana adanya.

Kegemparan pun kian menjadi-jadi saat Ande-ande Lumut juga membuka jati dirinya. Ia tak lain Raden Putra yang tengah menyamar. Tak terperikan kegembiraan Dewi Candra Kirana ketika bertemu kembali dengan suami tercintanya. Keduanya lantas hidup sebagai suami istri kembali seperti yang mereka lakukan dahulu di istana Kerajaan Jenggala.

Video Legenda Ande Ande Lumut

Demikian tadi sedikit cerita pengantar tidur yang berjudul Ande-ande Lumut. Terimakasih dan semoga bermanfaat.

10. Cerita Rakyat Nusantara: Legenda Batu Menangis (Lengkap dengan Video)

Suatu ketika, tersebutlah seorang janda tua yang tinggal di sebuah rumah kecil di atas bukit bersama dengan anak perempuannya yang cantik. Si janda tua tersebut sangatlah miskin sehingga dia harus bekerja keras setiap hari. Dia mengumpulkan kayu kering di hutan dan menjualnya di pasar seminggu sekali. Dia sangat ingin melihat anaknya perempuannya bahagia untuk itu dia bekerja lebih keras dan lebih keras setiap hari.

Si gadis, anak perempuan si janda tua, adalah gadis yang benar-benar cantik. Setiap lelaki dapat dengan mudah jatuh cinta jika mereka melihat wajahnya. Sayangnya dia memiliki sifat yang sangat buruk. Si gadis tersebut sangat malas dan tidak pernah mau membantu ibunya. Setiap hari kerjanya hanya bersolek diri dan bercermin untuk mengagumi kecantikannya sendiri. Dia juga anak yang sangat manja. Semua permintaanya harus dikabulkan meskipun ibunya adalah wanita tua yang miskin.

Seperti biasa, di setiap akhir pecan, si janda tua akan pergi ke pasar untuk untuk menjual kayu kering yang dia sudah kumpulkan. Kali ini, anak perempuanya ingin ikut pergi bersamanya juga. Dia ingin membli pakaian baru. Si janda tua sangat bahagia melihat anaknya ingin pergi bersama-sama dengannya ke pasar. Si janda tua juga berencana menggunakan uang yang dia terima dari hasil menjual kayu kering untuk membeli baju baru untuk anaknya. Dia benar-benar ingin melihat anak perempuannya bahagia.

Letak pasarnya sangat jauh dari rumah mereka. Meraka harus menuruni bukit dan melewati sebuah desa. Si gadis memakai baju yang sangat bagus dan juga berdandan supaya orang-orang yang melihatnya akan terpesona akan kecantikanya. Sebaliknya, ibunya hanya memakai baju lamga yang kotor dengan keranjang penuh kayu kering dipunggungnya. Dia ingin ibunya berjalan dibelakangnya sehingga orang-orang akan mengira bahwa dia bukan ibunya. Si gadis tidak bisa terima jika orang-oran di desa mengetahui bawah si janda tua tersebut adalah ibunya. Memang, tak seorang pun tahu bahwa si gadis dan si janda tua adalah anak dan ibu karena mereka tinggal sendiri di atas bukit.

Ketika mereka memasuki desa, semua orang yang lewat menatap mereka. Mereka begitu terpesonda akan kecantikan si gadis itu. Mereka tidak bisa menolak untuk tetap menatap wajahnya yang cantik. Namun, ketika orang-orang tersebut melihat wanita tua yang berjalan dibelakangnya, mereka merasa sangat berbeda. Hal itu membuat mereka bertanya-tanya siapa sebenarnya wanita tua kontor dibelakangnya. Diantara orang-orang tersebu, seorang lelaki muda menghampirinya dan bertanya, “Hey, gadis cantik. Apakah itu ibu mu dibelakang mu?”

“Bukan,” si gadis berkata dengan angkuh. “Dia adalah pembantuku!”

Janda tua itu masih bisa memahami mengapa anak perempuanya berkata seperti itu. Dia hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri karena dia tidak bisa menjadi ibu seperti yang diinginkan anaknya. Si janda tua tersebut tetap diam dan melanjutkan perjalananya. Tidak jauh dari situ, pria muda yang lain mengampiri dan bertanya pada si gadis pertanyaan yang sama.

“Hi, sayang. Apakah dia adalah ibu mu?”

Lagi, si gadi itu menolak fakta dengan berkata tidak bawah si jada tua tersebut adalah ibunya. “Bukan, bukan, dia bukan ibu ku,” kata si gadis. “Dia adalah budak ku!”

Pertanyaan yang sama berlanjut berualng-ulang beberapa kali. Dan si gadis selalu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan memberitahu bawah si janda tua tersebut bukanlah ibunya. Yang pertama, yang kedua, ya ketiga, si janda tua masih bisa menerimanya. Akan tetapi, ketika hal tersebut terus berlanjut, hal itu membuat si janda tua sedih. Apa yang dilakukan anaknya sangat menyakiti hati si janda tua tersebut dengan tidak mengakui bahwa dia adalah ibunya. Diam berganti kesedihan. Kesedihan berganti kemarahan. Dan ketika seorang ibu marah, hal buruk akan mengikuti. Akhirnya, si janda malang tersebut tidak dapat menahanya lagi.

“Ya Tuhan ku, hamba tidak kuta menahan hinaan ini lagi. Bagaiman mungkin anak hamba sendiri memperlakukan ibunya seperti itu. Ya, Tuhan tolong hukum anak durhaka ini! Hukumlah dia…”

Dengan kekuatan Tuhan yang kuasa, secara berlahan tubuhnya berubah menjadi batu. Perubahan tersebut dimulai dari kaki. Ketika perubahan tersebut mencapai setengah tubunya, si gadis tersebut menaing dan meminta ampunan pada ibunya.

“Oh, ibu ku, mohon ampunilah aku Ampuni apa yang telah aku berbuat pada mu. Ku mohon, ibu. Aku akan berubah, ibu. Ku mohon ampunilah anak mu ini, anak perempuan ibu satu-satunya,” tangis si gadis.

Anak gadis itu terus meratap dan menangis memohon kepada ibunya. Akan tetapi, semuanya telah terlambat. Seluruh tubuh gadis itu akhirnya berubah menjadi batu. Sekalipun menjadi batu, namun orang dapat melihat ari matanya. Batu tersebut menaing. Oleh karena itu,orang-orang kemudian memenyebutnya “Batu Menangis”.

Video Cerita Rakyat Batu Menangis

Demikian Cerita Rakyat Batu Menangis. Semoga bermanfaat.

11. Cerita Rakyat: Cindelaras dan Ayam Jago Ajaib (Lengkap dengan Video)

Zaman dahulu kala ada sebuah Kerajaan yang bernama Kerajaan Jenggala, raja dari Kerajaan itu bernama Raden Putra. Raden Putra tersebut memiliki seorang permaisuri yang begitu baik dan seorang selir yang cantik. Namun Selir tersebut merasa iri kepada sang Permaisuri dan ia merencanakan hal buruk kepada Permaisuri.

“Harusnya yang menjadi Permaisuri itu adalah aku, dan aku harus mencari cara supaya dapat menyingkirkan Permaisuri”. Ucap selir tersebut.

Selir itu memiliki cara untuk menyingkirkan Permaisuri dengan cara bekerjasama dengan tabib istana. Selir berpura-pura sakit dan segera memanggil tabib istana. Sang tabib pun mengatakan bahwa ada yang meracuni minuman tuan putri (selir).

“Orang itu tak lain adalah Permaisuri Baginda sendiri”. Ucap sang tabib.

Bagindapun marah ketika tabib mengatakan hal seperti itu dan langsung memerintahkan seorang patih untuk membuang permaisuri ke hutan.

Perintah itu langsung dilaksanakan dan dengan segera juga sang patih itu membuang permaisuri yang sedang hamil ke hutan. Namun sang patih tidak mau membunuhnya karena ia tahu bahwa semua ini merupakan niat buruk selir.

“Tuan Putri jangan khawatir, hamba akan mengabarkan kepada Baginda kalau tuan Putri sudah hamba bunuh”. Ucap sang patih.

Sang patihpun akhirnya membunuh seekor kelinci untuk melumuri pedangnya supaya Raja tidak mencurigainya. Raja pun puas ketika mendengar permaisuri sudah di bunuh.

Ketika sudah beberapa bulan, lahirlah seorang anak laki-laki yang begitu tampan dan cerdas bernamaCindelaras. Dari kecil ia bermain bersama hewan-hewan yang berada di hutan. Sutau hari ketika ia bermain seekor Rajawali menjatuhkan sebuah telur.

“Hemmm.. Rajawali itu sangat baik, dia sengaja memberikan telurnya padaku”. Ucapnya.

Setelahnya 3 minggu, telur itu akhirnya menetas, dan Cindelaraspun merawat anak ayamnya dengan baik dan rajin. Ayam itu tumbuh dengan bagus dan sangat kuat. Namun ada satu keanehan pada ayam jantan tersebut yang begitu menakjubkan.

“Kukuruyuuuuk… Tuanku Cindelaras, Rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra”. Ucap sang ayam.

Cindelaraspun merasa takjub dengan ayam tersebut dan dengan segera ia memelihara ayamnya dengan lebih baik lagi dn memperlihatkannya kepada ibunya. Setelah itu, kemudian ibu Cindelarasmenceritakan bagaimana ia bisa sampai dan tinggal di hutan. Setelahnya ia mengetahui cerita ibunya,Cindelaras bertekad untuk menceritakan semua kejahatan selir bagindanya itu dengan datang ke istana.

Setelahnya sng Ibu mengijinkan Cindelaras pergi, iapun akhirnya pergi dengan di temani ayam jantannya itu, namun di tengah perjalanan ada orang yang sedang mengadu ayam dan iapun di tantang untuk beradu.

“Hei, kalau kau berani ayo adukanlah ayam jantanmu itu dengan ayamku”. Ucap mereka

“Baiklah“. Jawab Cindelaras.

Namun ternyata ayam Cindelaras begitu tangguh dan ia bisa mengalahkan semua ayam-ayam yang ada. Dan berita tentang ayam Cindelaras yang tangguh itu sampai ke telinganya sang Raden putra dan iapun menyuruh hulubalangnya untuk mengundang Cindelaras.

“Hamba menghadap paduka”. Ucap Cindelaras dengan santun.

“Anak ini begitu tampan juga cerdas, sepertinya dia bukan keturunan rakyat biasa”. Pikir sang Raja.

Sang Raja meminta ayamnya untuk bertarung bersama ayam jantan milik sang raden dengan syarat, jika ayam jantannya Cindelaras kalah maka kepala Cindelaras harus bersedia untuk di pancung, namun jika ayamnya menang maka setengah dri kekayaan sang Raja akan menjadi milik Cindelaras.

Kedua ayam jantan itupun saling berkelahi dengan gagahnya, namun dalam waktu yang singkat ternyata ayam sang Raja kalah. Para penontonpun bersorak dan mengelu-elukan Cindelaras juga ayamnya.

“Baiklah, aku mengaku kalah. Dan aku akan menepati janjiku padamu. Tapi siapakah gerangan kau ini anka muda?” tanya sang Raja.

Cindelaraspun langsung membisikan sesuatu pada ayamnya itu dan ayamnya pun langsung mengucapkan.

“Kukuruyuuuuk… Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra”. Sang ayam berulang-ulang mengucapkannya.

“Benarkah itu?”. Ucap sang Raden.

“Benar Baginda, nama hamba Cindelaras, ibu hamba adalah Permaisuri baginda”. Ucap Cindelaras.

Kemudian sang patih menghampiri dan menceritakan semuanya kepada sang Raja apa yang terjadi pada permaisuri.

“Aku sudah melakukan kesalahan”, dan aku akan memberkan hukuman setimpal kepada selirku”. Ucap sang Raden.

Sang Raden pun akhirnya murka dan membuang selirnya itu ke hutan, dengan demikian sang Raden meminta maaf sambil memeluk Cindelaras atas semua kesalahannya itu. Raden Putra dan hulubalang akhirnya menjemput permaisuri ke hutan dan akhirnya raden Putra, Permaisuri juga Cindelaras hidup bahagia bersama. Dan ketika Raden Putra meninggal, Cindelaras lah yang menjadi pengganti raja. Ia memerintah negerinya dengan adil juga bijaksana.

Video Cerita Rakyat Cindelaras dan Ayam Jago Ajaib

Demikian Cerita rakyat Cindelaras. Semoga bermanfaat.

12. Cerita Rakyat: Legenda Jaka Tarub dan 7 Bidadari

Pada jaman dahulu hidup seorang pemuda bernama Jaka Tarub di sebuah desa di daerah Jawa Tengah. Ia tinggal bersama ibunya yang biasa dipanggil Mbok Milah. Ayahnya sudah lama meninggal. Sehari hari Jaka Tarub dan Mbok Milah bertani padi di sawah.

Pada suatu malam, ditengah tidurnya yang lelap, Jaka Tarub bermimpi mendapat istri seorang bidadari nan cantik jelita dari kayangan. Begitu terbangun dan menyadari bahwa itu semua hanya mimpi, Jaka Tarub tersenyum sendiri. Walaupun demikian, mimpi indah barusan masih terbayang dalam ingatannya. Jaka Tarub tidak dapat tidur lagi. Ia keluar dan duduk di ambengan depan rumahnya sambil menatap bintang bintang di langit. Tak terasa ayam jantan berkokok tanda hari sudah pagi.

Mbok Milah yang baru terjaga menyadari kalau Jaka Tarub tidak ada di rumah. Begitu ia melihat keluar jendela, dilihatnya anak semata wayangnya sedang melamun. “Apa yang dilamunkan anakku itu”, pikir Mbok Milah. Ia menebak mungkin Jaka Tarub sedang memikirkan untuk segera berumah tangga. Usianya sudah lebih dari cukup. Teman teman sebayanyapun rata rata telah menikah. Pikirannya itu membuat Mbok Milah berniat untuk membantu Jaka Tarub menemukan istri.

Siang hari ketika Mbok Milah sedang berada di sawah, tiba tiba datang Pak Ranu pemilik sawah sebelah menghampirinya. “Mbok Milah, mengapa anakmu sampai saat ini belum menikah juga ?”, tanya Pak Ranu membuka percakapan. “Entahlah”, kata Mbok Milah sambil mengingat kejadian tadi pagi. “Ada apa kau menanyakan itu Pak Ranu ?”, tanya Mbok Milah. Ia sedikit heran kenapa Pak Ranu tertarik dengan kehidupan pribadi anaknya. “Tidak apa apa Mbok Milah. Aku bermaksud menjodohkan anakmu dengan anakku Laraswati”, jawab Pak Ranu.

Mbok Milah terkejut mendengar niat Pak Ranu yang baru saja diutarakan. Ia sangat senang. Laraswati adalah seorang gadis perparas cantik yang tutur katanya lemah lembut. Ia yakin kalau Jaka Tarub mau menjadikan Laraswati sebagai istrinya. Walaupun demikian Mbok Milah tidak ingin mendahului anaknya untuk mengambil keputusan. Biar bagaimanapun ia menyadari kalau Jaka Tarub sudah dewasa dan mempunyai keinginan sendiri. “Aku setuju Pak Ranu. Tapi sebaiknya kita bertanya dulu pada anak kita masing masing”, kata Mbok Milah bijak. Pak Ranu mengangguk angguk. Ia pikir apa yang dikatakan Mbok Milah benar adanya.

Hari berganti hari. Mbok Milah belum juga menemukan waktu yang tepat untuk membicarakan rencana perjodohan Jaka Tarub dan Laraswati. Ia takut Jaka Tarub tersinggung. Mungkin juga Jaka Tarub telah memiliki calon istri yang belum dikenalkan padanya. Lama kelamaan Mbok Milah lupa akan niatnya semula.

Jaka Tarub adalah seorang pemuda yang sangat senang berburu. Ia juga seorang pemburu yang handal. Keahliannya itu diperolehnya dari mendiang ayahnya. Jaka Tarub seringkali diajak berburu oleh ayahnya sedari kecil. Pagi itu Jaka Tarub telah siap berburu ke hutan. Busur, panah, pisau dan pedang telah disiapkannya. Iapun pamit pada ibunya.

Mbok Milah terlihat biasa biasa saja melepaskan kepergian Jaka Tarub. Ia berharap anaknya itu akan membawa pulang seekor menjangan besar yang bisa mereka makan beberapa hari ke depan. Tak lama kemudian Mbok Milah masuk ke kamarnya. Ia bermaksud beristrihat sejenak sebelum berangkat ke sawah. Maklumlah, Mbok Milah sudah tua.

Tak memakan waktu lama di tengah hutan, Jaka tarub berhasil memanah seekor menjangan. Hatinya senang. Segera saja ia memanggul menjangan itu dan bermaksud segera pulang. Nasib sial rupanya datang menghampiri. Tengah asyik berjalan, tiba tiba muncul seekor macan tutul di hadapan Jaka Tarub. Macan itu mengambil ancang ancang untuk menyerang. Jaka tarub panik. Ia segera melepaskan menjangan yang dipanggulnya dan mencabut pedang dari pinggangnya. Sang macan bergerak sangat cepat. Ia segera menggigit menjangan itu dan membawanya pergi.

Jaka Tarub terduduk lemas. Bukan hanya kaget atas peristiwa yang baru dialaminya, iapun merasa heran. Baru kali ini nasibnya sesial ini. Hewan buruan sudah ditangan malah dimangsa binatang buas. “Pertanda apa ini ?”, pikirnya. Jaka Tarub segera menepis pikiran buruk yang melintas di benaknya. Setelah beristirahat sejenak, ia segera berjalan lagi.

Nasib sial belum mau meninggalkan Jaka tarub. Setelah berjalan dan menunggu beberapa kali, tak seekor hewan buruanpun yang melintas. Matahari makin meninggi. Jaka Tarub merasa lapar. Tak ada bekal yang dibawanya karena ia memang yakin tak akan selama ini berada di hutan. Akhirnya Jaka Tarub memutuskan untuk pulang walau dengan tangan hampa.

Ketika Jaka Tarub mulai memasuki desanya, ia heran melihat banyak orang yang berjalan tergesa gesa menuju ke arah yang sama. Bahkan ada beberapa orang yang berpapasan dengannya terlihat terkejut. Walaupun merasa heran Jaka Tarub enggan untuk bertanya. Rasa lapar yang menderanya membuat Jaka Tarub ingin cepat cepat sampai di rumah.

Jaka Tarub tertegun memandang rumahnya yang sudah nampak dari kejauhan. Banyak orang berkerumun di depan rumahnya. Bahkan orang orang yang tadi dilihatnya berjalan tergesa gesa ternyata menuju ke rumahnya juga. “Ada apa ya ?”, pikirnya. Jaka Tarub mulai tidak enak hati. Ia segera berlari menuju rumahnya.

“Ada apa ini ?”, tanya Jaka Tarub setengah berteriak. Orang orang terkejut dan menoleh kearahnya. Pak Ranu yang memang menunggu kedatangan Jaka Tarub sedari tadi langsung menghampiri dan menepuk nepuk bahu Jaka Tarub. “Sabar nak..”, katanya sambil membimbing Jaka Tarub memasuki rumah.

Mata Jaka Tarub langsung tertuju pada sesosok tubuh yang terbujur kaku diatas dipan di ruang tengah. Beberapa detik kemudian Jaka Tarub menyadari kalau ibunya telah meninggal. Jaka Tarub tak sanggup menahan air mata. Inilah bukti atas firasat buruk yang kurasakan sejak pagi, pikirnya.

Jaka Tarub tak sanggup berbuat apa apa. Ia hanya termenung memandang wajah Mbok Milah. Cerita Pak Ranu bahwa istrinya yang menemukan Mbok Milah telah meninggal dunia dalam tidurnya tadi pagi tak dihiraukannya. Ia merenungi nasibnya yang kini sebatang kara. Jaka Tarub juga menyesal belum memenuhi keinginan ibunya melihat ia berumah tangga dan menimang cucu. Tapi semua tinggal kenangan. Kini ibunya telah beristirahat dengan tenang.

Sepeninggal ibunya, Jaka Tarub mengisi hari harinya dengan berburu. Hampir setiap hari ia berburu ke hutan. Hasil buruannya selalu ia bagi bagikan ke tetangga. Hanya dengan berburu, Jaka Tarub bisa melupakan kesedihannya.

Seperti pagi itu, Jaka Tarub telah bersiap siap untuk berangkat berburu. Dengan santai ia berjalan menuju Hutan Wanawasa karena hari masih pagi. Ketika sampai di hutanpun Jaka tarub hanya menunggu hewan buruan lewat di depannya. Tak terasa hari sudah siang. Tak satupun hewan buruan yang didapat Jaka Tarub. Ia justru lebih banyak melamun.

Karena rasa haus yang baru dirasakannya, Jaka Tarub melangkahkan kakinya kea rah danau. Danau yang terletak di tengah Hutan Wanawasa itu dikenal masyarakat sebagai Danau Toyawening. Ketika hampir sampai di danau itu, Jaka Tarub menghentikan langkah kakinya. Telinganya menangkap suara gadis gadis yang sedang bersenda gurau. “Mungkin ini hanya hayalanku saja”, pikirnya heran.”Mana mungkin ada gadis gadis bermain main di tengah hutan belantara begini ?”.

Dengan mengendap endap Jaka Tarub melangkahkan kakinya lagi menuju Danau Toyawening. Suara tawa gadis gadis itu makin jelas terdengar. Jaka Tarub mengintip dari balik pohon besar kearah danau. Alangkah terkejutnya Jaka Tarub menyaksikan tujuh orang gadis cantik sedang mandi di Danau Toyawening. Jantungnya berdegub makin kencang.

Jaka Tarub memperhatikan satu satu gadis di danau itu. Semuanya berparas sangat cantik. Dari percakapan mereka, Jaka Tarub tahu kalau tujuh orang gadis itu adalah bidadari yang turun dari kayangan. “Apakah ini arti mimpiku waktu itu ?”, pikirnya senang.

Mata Jaka Tarub melihat tumpukan pakaian bidadari di atas sebuah batu besar di pinggir danau. Semua pakaian itu memiliki warna yang berbeda. “Jika aku mengambil salah satu pakaian bidadari ini, tentu yang punya tidak akan dapat kembali ke kayangan”, gumam Jaka Tarub. Wajahnya dihiasi senyum manakala membayangkan sang bidadari yang bajunya ia curi akan bersedia menjadi istrinya.

Dengan hati hati Jaka Tarub berjalan menghampiri tumpukan baju itu. Ia berjalan sangat perlahan. Jika para bidadari itu menyadari kehadirannya, tentu semua rencananya akan buyar. Jaka Tarub memilih baju berwarna merah. Setelah berhasil, Jaka Tarub buru buru menyelinap ke balik semak semak.

Tiba tiba seorang dari bidadari itu berkata “, Ayo kita pulang sekarang. Hari sudah sore”. “Ya benar. Sebaiknya kita pulang sekarang sebelum matahari terbenam”, tambah yang lain. Para bidadari itu keluar dari danau dan mengenakan pakaian mereka masing masing.

“Dimana bajuku ?”, teriak salah seorang bidadari. “Siapa yang mengambil bajuku ?”, tanyanya dengan suara bergetar menahan tangis. “Dimana kau taruh bajumu Nawangwulan ?”, tanya seorang bidadari kepadanya. “Disini. Sama dengan baju kalian..”, Nawangwulan menjawab sambil menangis. Ia terlihat sangat panik. Tanpa bajunya, mana mungkin ia bisa pulang ke Kayangan. Apalagi selendang yang dipakainya untuk terbang ikut raib juga.

Karena Nawangwulan tidak menemukan bajunya, ia segera masuk kembali ke Danau Toyawening. Teman temannya yang lain membantu mencari baju Nawangwulan. Usaha mereka sia sia karena baju Nawangwulan sudah dibawa pulang Jaka Tarub ke rumahnya.

Akhirnya seorang bidadari berkata “Nawangwulan, maafkan kami. Kami harus segera pulang ke kayangan dan meninggalkanmu disini. Hari sudah menjelang sore”. Nawangwulan tidak dapat berbuat apa apa. Ia hanya bisa mengangguk dan melambaikan tangan kepada keenam temannya yang terbang perlahan meninggalkan Danau Toyawening. “Mungkin memang nasibku untuk menjadi penghuni bumi”, pikir Nawangwulan sambil mencucurkan air mata.

Nawangwulan kelihatan putus asa. Tiba tiba tanpa sadar ia berucap “Barangsiapa yang bisa memberiku pakaian akan kujadikan saudara bila ia perempuan, tapi bila ia laki laki akan kujadikan suamiku”. Jaka Tarub yang sedari tadi memperhatikan gerak gerik Nawangwulan dari balik pohon tersenyum senang. “Akhirnya mimpiku menjadi kenyataan”, pikirnya.

Jaka Tarub keluar dari persembunyiannya dan berjalan kearah danau. Ia membawa baju mendiang ibunya yang diambilnya ketika pulang tadi. Jaka Tarub segera meletakkan baju yang dibawanya diatas sebuah batu besar seraya berkata “Aku Jaka Tarub. Aku membawakan pakaian yang kau butuhkan. Ambillah dan pakailah segera. Hari sudah hampir malam”.

Jaka Tarub meninggalkan Nawangwulan dan menunggu di balik pohon besar tempatnya bersembunyi. Tak lama kemudian Nawangwulan datang menemuinya. “Aku Nawangwulan. Aku bidadari dari kayangan yang tidak bisa kembali kesana karena bajuku hilang”, kata Nawangwulan memperkenalkan diri. Ia memenuhi kata kata yang diucapkannya tadi. Tanpa ragu Nawangwulan bersedia menerima Jaka Tarub sebagai suaminya.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tak terasa rumah tangga Jaka Tarub dan Nawangwulan telah dikaruniai seorang putri yang diberi nama Nawangsih. Tak seorangpun penduduk desa yang mencurigai siapa sebenarnya Nawangwulan. Jaka Tarub mengakui istrinya itu sebagai gadis yang berasal dari sebuah desa yang jauh dari kampungnya.

Sejak menikah dengan Nawangwulan, Jaka Tarub merasa sangat bahagia. Namun ada satu hal yang mengganggu pikirannya selama ini. Jaka Tarub merasa heran mengapa padi di lumbung mereka kelihatannya tidak berkurang walau dimasak setiap hari. Lama lama tumpukan padi itu semakin meninggi. Panen yang diperoleh secara teratur membuat lumbung mereka hampir tak muat lagi menampungnya.

Pada suatu pagi, Nawangwulan hendak mencuci ke sungai. Ia menitipkan Nawangsih pada Jaka Tarub. Nawangwulan juga mengingatkan suaminya itu untuk tidak membuka tutup kukusan nasi yang sedang dimasaknya.

Ketika sedang asyik bermain dengan Nawangsih yang saat itu berumur satu tahun, Jaka Tarub teringat akan nasi yang sedang dimasak istrinya. Karena terasa sudah lama, Jaka Tarub hendak melihat apakah nasi itu sudah matang. Tanpa sadar Jaka Tarub membuka kukusan nasi itu. Ia lupa akan pesan Nawangwulan.

Betapa terkejutnya Jaka Tarub demi melihat isi kukusan itu. Nawangwulan hanya memasak setangkai padi. Ia langsung teringat akan persediaan padi mereka yang semakin lama semakin banyak. Terjawab sudah pertanyaannya selama ini.

Nawangwulan yang rupanya telah sampai di rumah menatap marah kepada suaminya di pintu dapur. “Kenapa kau melanggar pesanku Mas ?”, tanyanya berang. Jaka Tarub tidak bisa menjawab. Ia hanya terdiam. “Hilanglah sudah kesaktianku untuk merubah setangkai padi menjadi sebakul nasi”, lanjut Nawangwulan. “Mulai sekarang aku harus menumbuk padi untuk kita masak. Karena itu Mas harus menyediakan lesung untukku”.

Jaka Tarub menyesali perbuatannya. Tapi apa mau dikata, semua sudah terlambat. Mulai hari itu Nawangwulan selalu menumbuk padi untuk dimasak. Mulailah terlihat persediaan padi mereka semakin lama semakin menipis. Bahkan sekarang padi itu sudah tinggal tersisa di dasar lumbung.

Seperti biasa pagi itu Nawangwulan ke lumbung yang terletak di halaman belakang untuk mengambil padi. Ketika sedang menarik batang batang padi yang tersisa sedikit itu, Nawangwulan merasa tangannya memegang sesuatu yang lembut. Karena penasaran, Nawangwulan terus menarik benda itu. Wajah Nawangwulan seketika pucat pasi menatap benda yang baru saja berhasil diraihnya. Baju bidadari dan selendangnya yang berwarna merah.. !!

Bermacam perasaan berkecamuk di hatinya. Nawangwulan merasa dirinya ditipu oleh Jaka Tarub yang sekarang telah menjadi suaminya. Ia sama sekali tidak menyangka ternyata orang yang tega mencuri bajunya adalah Jaka Tarub. Segera saja keinginan yang tidak pernah hilang dari hatinya menjadi begitu kuat. Nawangwulan ingin pulang ke asalnya, kayangan.

Sore hari ketika Jaka Tarub kembali ke rumahnya, ia tidak mendapati Nawangwulan dan anak mereka Nawangsih. Jaka Tarub mencari sambil berteriak memanggil Nawangwulan, yang dicari tak jua menjawab. Saat itu matahari sudah mulai tenggelam. Tiba tiba Jaka Tarub yang sedang berdiri di halaman rumah melihat sesuatu melayang menuju ke arahnya. Dia mengamatinya sesaat.

Jaka Tarub terpana. Beberapa saat kemudian ia mengenali ternyata yang dilihatnya adalah Nawangwulan yang menggendong Nawangsih. Nawangwulan terlihat sangat cantik dengan baju bidadari lengkap dengan selendangnya. Jaka Tarub merasa dirinya gemetar. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Nawangwulan berhasil menemukan kembali baju bidadarinya. Hal ini berarti rahasianya telah terbongkar.

“Kenapa kau tega melakukan ini padaku Jaka Tarub ?”, tanya Nawangwulan dengan nada sedih. “Maafkan aku Nawangwulan”, hanya itu kata kata yang sanggup diucapkan Jaka Tarub. Ia terlihat sangat menyesal. Nawangwulan dapat merasakan betapa Jaka Tarub tidak berdaya di hadapannya.

“Sekarang kau harus menanggung akibat perbuatanmu Jaka Tarub”, kata Nawangwulan. “Aku akan kembali ke kayangan karena sesungguhnya aku ini seorang bidadari. Tempatku bukan disini”, lanjutnya. Jaka Tarub tidak menjawab. Ia pasrah akan keputusan Nawangwulan.

“Kau harus mengasuh Nawangsih sendiri. Mulai saat ini kita bukan suami istri lagi”, kata Nawangwulan tegas. Ia menyerahkan Nawangsih ke pelukan Jaka Tarub. Anak kecil itu masih tertidur lelap. Ia tidak sadar bahwa sebentar lagi ibunya akan meninggalkan dirinya.

“Betapapun salahmu padaku Jaka Tarub, Nawangsih tetaplah anakku. Jika ia ingin bertemu denganku suatu saat nanti, bakarlah batang padi, maka aku akan turun menemuinya”, tutur Nawangwulan sambil menatap wajah Nawangsih. “Hanya satu syaratnya, kau tidak boleh bersama Nawangsih ketika aku menemuinya. Biarkan ia seorang diri di dekat batang padi yang dibakar”, lanjut Nawangwulan.

Jaka Tarub menahan kesedihannya dengan sangat. Ia ingin terlihat tegar. Setelah Jaka Tarub menyatakan kesanggupannya untuk tidak bertemu lagi dengan Nawangwulan, sang bidadaripun terbang meninggalkan dirinya dan Nawangsih. Jaka Tarub hanya sanggup menatap kepergian Nawangwulan sambil mendekap Nawangsih. Sungguh kesalahannya tidak termaafkan. Tiada hal lain yang dapat dilakukannya saat ini selain merawat Nawangsih dengan baik seperti pesan Nawangwulan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *