2 Cerita Rakyat dari Yogyakarta | Cerita Rakyat Nusantara

Halo Kawan, dalam artikel kali ini kami akan menyampaikan 2 cerita rakyat dari Yogyakarta yang mungkin Anda belum pernah mendengarnya. Yuk simak selengkapnya.

1. Cerita Rakyat Ki Bodho

Dahulu kala di tanah Jawa ada suatu kerajaan besar yang bernama Mataram. Kerajaan Mataran waktu itu diperintah oleh seorang raja yang sangat sakti, bergelar Sultan Agung. Suatu hari di sela-sela tapa bratanya, Kanjeng Sultan Agung mendapat wisik (petunjuk gaib) berupa suara yang membisikkan agar ia mempekerjakan seorang abdi yang bernama Ki Bodho. Apabila ia telah mempekerjaan Ki Bodho, maka Kerajaan Mataram akan tenteram, damai, dan segenap rakyatnya dapat hidup sejahtera. Setelah mendapat wisik tersebut segeralah Kanjeng Sultan Agung menyebar para abdinya ke seluruh wilayah Kerajaan Mataram untuk mencari seseorang yang bernama Ki Bodho.

Setelah orang yang bernama Ki Bodho itu diketemukan dan dihadapkan pada raja, Sultan pun segera berkata, “Ki, aku ingin minta bantuanmu untuk mengusahakan agar ketenteraman seluruh negeri dan kesejahteraan hidup seluruh rakyat dapat terjamin.”

“Ampun, baginda,” kata Ki Bodho. “Hamba ini hanyalah orang bodho (bodoh) dan tidak tahu apa-apa. Bagaimana hamba dapat membantu baginda membuat negeri menjadi tenteram dan sekaligus mensejahterakan rakyat.”

“Jangan begitu, Ki,” kata baginda lagi. “Aku tahu, bahwa Ki Bodho memiliki kelebihan. Maukah Ki Bodho menyumbang sesuatu untuk kepentingan negara dan rakyat?”

“Kalau baginda yang memerintahkan, apapun yang harus hamba lakukan, hamba tidak akan mengelak,” kata Ki Bodho.

“Bagaimana kalau tugas berat?” tanya baginda.

“Bagaimana pun beratnya, hamba selalu sendika melaksanakannya,” kata Ki Bodho.

“Jadi, Ki Bodho bersedia menjadi abdiku?” tanya baginda.

“Kalau Kanjeng Sultan menghendaki, hamba siap untuk menjadi abdi bagi Kanjeng Sultan,” kata Ki Bodho.

“Setelah kamu menyatakan kesanggupan sebagai abdiku, maka sekarang aku minta agar kamu memberi saran untuk meningkatkan ketenteraman negeri dan kesejahteraan segenap rakyat,” kata baginda.

Setelah berpikir sejenak, Ki Bodho pun berkata, “Sebaiknya baginda memelihara seekor kuda Sembrani.”

Kanjeng Sultan segera saja menerima saran dari Ki Bodho, padahal kuda sembrani (kuda yang mempunyai sayap dan dapat terbang) konon hanya terdapat di Mekkah saja. Namun, bagi Kanjeng Sultan Agung pergi ke Mekkah untuk mengambil kuda sembrani bukanlah hal yang mustahil, sebab kabarnya setiap hari Jumat ia selalu pergi ke Mekkah untuk menunaikan sholat Jumat.

Singkat cerita, Kanjeng Sultan Agung segera pergi ke Mekkah untuk membeli kuda sembrani. Sesampainya kembali ke Mataram, kuda tersebut lalu diserahkan kepada Ki Bodho yang diserahi tugas sebagai pekathik (abdi dalem yang bertugas memelihara dan mencari rumput untuk makan kuda istana).

Ternyata Ki Bodho juga memiliki kemampuan yang luar biasa, sebab rupanya sang kuda sembrani itu lebih senang makan rumput dari tanah Arab daripada rumput yang ada di Kerajaan Mataram. Oleh karena itu, untuk memberi makan kuda sembrani peliharaan Sultan, ia setiap hari harus pergi ke Mekkah untuk mencari rumput.

Kelakuan Ki Bodho yang setiap hari pergi ke Mekkah ini secara tidak sengaja beberapa kali terlihat oleh Kanjeng Sultan. Hal ini terjadi ketika Kanjeng Sultan tengah menunaikan sholat Jumat di Mekkah. Sebelum masuk ke masjid ia selalu melihat sebuah keranjang dan caping (tudung kepala sejenis topi yang terbuat dari babu) khas Kerajaan Mataram yang teronggok di pagar samping masjid.

Karena penasaran, pada suatu hari seusai bersembahyang Jumat, Kanjeng Sultan langsung mendekati caping dan keranjang itu lalu mencoretinya dengan injet (kapur sirih). Selesai memberi tanda pada keranjang dan caping itu dengan injet. Kanjeng Sultan Agung segera pulang ke Mataram.

Sesampai di Keraton Mataram, ternyata Ki Bodho sudah asyik memberi makan Kuda Sembrani. Baginda lalu mendekat sambil mengamati keranjang dan caping Ki Bodho. Ternyata keranjang dan caping itu ada tandanya ijet. Jelaslah, kerancang dan caping itu adalah keranjang dan caping yang tadi dicoretnya di depan Masjid Mekkah. Dengan peristiwa itu, tahulah baginda bahwa Ki Bodho adalah seorang sakti yang memiliki kemampuan luar biasa.

Suatu hari, ternyata Kuda Sembrani itu dapat lolos dari kandangnya, padahal palang-palang pintu kandang itu sudah ditutup kokoh. Rupanya mereka lupa, bahwa Kuda Sembrani itu dapat terbang sehingga dapat dengan mudah melarkan diri melalui tutup keyong[1] pada kandang itu.

Lolosnya Kuda Sembrani itu, membuat sedih hati Gusti Ratu Puteri, permaisuri Kanjeng Sultan Agung. Cepat-cepat Gusti Ratu Puteri berlari, maksudnya akan mengejar Kuda Sembrani. Namun, karena waktu itu Gusti Ratu sedang mengandung, maka larinya pun menjadi tersendat-sendat.

Melihat hal itu Ki Bodho segera berkata, “Jangan, Gusti. Jangan berlari mengejar kuda itu,” kata Ki Bodho kepada Gusti Ratu Puteri. “Kuda itu dapat terbang. Tak mungkin Gusti dapat mengejarnya.”

“Kuda itu adalah klangenanku. Bagaimanapun, aku harus mengejarnya,” jawab Gusti Ratu Puteri

“Serahkan saja tugas itu kepada hamba,” kata Ki Bodho. “Hamba sanggup membawa kembali kuda itu ke keraton.”

“Tidak, Ki. Aku harus menangkap kuda itu,” kata Gusti Puteri sambil terus berlari

Sementara itu, Kuda Sembrani yang lolos dari kandang itu terus terbang ke arah selatan, dan Gusti Ratu Puteri lari sekencang-kencangnya mengejar kuda itu. Karena dipergunakan untuk berlari kencang mengejar Kuda Sembrani itu, maka gugurlah kandungan Gusti Ratu Puteri. Tempat gugurnya kandungan Gusti Ratu Puteri itu, lalu dinamakan Banyu Tetes (terletak di Gunung Permoni, sebelah selatan Plered, wilayah Kota Gede). Di tempat itu kemudian dibuatkan sebuah cungkup. Jadi, cungkup yang terletak di Gunung Permoni itu, bukanlah makan seseorang, melainkan tempat untuk menguburkan kandungan Gusti Ratu Puteri yang gugur.

Saat Gusti Puteri menyesali perbuatannya, tiba-tiba muncullah dihadapannya seorang wanita yang canti jelita. Terkejutlah Gusti Ratu Puteri, menyaksikan kehadiran wanita yang sangat tiba-tiba itu. “Hai, siapakah kamu?” bertanya Gusti Ratu Puteri dengan sangat terkejut.

“Hamba mengetahui, bahwa Gusti Ratu Puteri mengejar-ngejar kuda sembrani itu,” kata wanita yang berdiri di depan Gusti Ratu Puteri.

“Siapakah kau?” tanya Gusti Ratu Puteri lagi.

“Hamba sanggup menangkapnya dan mengembalikannya ke keraton, asal Gusti Ratu Puteri bersedia mengabulkan permohonan hamba,” kata wanita itu lagi.

“Apapun yang kau minta akan kuberikan, asal kuda kesayanganku itu dapat kembali,” kata Gusti Ratu Puteri.

“Baiklah kalau begitu,” kata wanita itu.

“Siapakau kau?” tanya Gusti Ratu Puteri.

“Hamba itu Ratu Permoni[2],” jawab wanita itu. “Sekarang saya harap Gusti Ratu Puteri pulang ke keraton. Hamba akan mengantarkan kuda itu ke keraton.”

“Apakah yang kau minta, untuk imbalan jerih payahmu itu?” tanya Gusti Ratu Puteri.

“Hamba ingin diperisteri oleh Kanjeng Sultan Agung,” jawab Ratu Permoni. Mendengar jawaban itu, tertegunlah Gusti Ratu Puteri. Tetapi sudah terlanjur. Beliau sudah menyanggupi.

Pada waktu Gusti Ratu Puteri kembali ke keraton, Kuda Sembrani klangenan baginda dan Gusti Ratu Puteri, ternyata telah sampai di Keraton.

Sejak itu, maka Ratu Permoni atau Kanjeng Ratu Kidul, menjadi isteri Kanjeng Sultan Agung.

2. Cerita Rakyat Legenda Gunung Genthong

Pada zaman dahulu, di tanah Jawa ada sebuah kerajaan besar yang bernama Majapahit. Salah seorang diantara raja-raja yang pernah memerintah kerajaan Majapahit itu bernama Prabu Brawijaya V. Sang Prabu Brawijaya V atau Brawijaya Pungkasan (terakhir), mempunyai seorang permaisuri dan beberapa orang selir. Salah seorang diantara para selir sang Prabu ialah Ratu Mayangsari. Suatu hari, pada saat Ratu Mayangsari mulai menampakkan gejala-gejala mengandung, sang Prabu Brawijaya menitipkannya kepada salah seorang saudaranya yang tinggal di desa dan hidup sebagai petani. Nama saudara sang Prabu yang diserahi tugas untuk menjaga Ratu Mayangsari itu ialah Ki Juru Sawah. Beberapa bulan kemudian, tibalah saatnya Ratu Mayangsari melahirkan seorang putera yang diberinya nama Raden Patah.

Suatu ketika, saat Raden Patah sudah mulai beranjak remaja, ia melihat Ki Juru Sawah akan pergi ke kerajaan untuk posok glondong pangareng-areng atau mempersembahkan upeti berupa sebagian dari hasil sawahnya kepada Raja. Saat Ki Juru Sawah berangkat ke kerajaan, Raden Patah mengikutinya secara sembunyi-sembunyi.

Sesampai di istana, Ki Juru Sawah langsung menghadap raja untuk menghaturkan upeti. Sementara Raden Patah yang mengikutinya dari belakang, mulai berkeliling untuk melihat istana raja. Ia yang sekali pun belum pernah ke istana, merasa kagum melihat barang-barang serba indah yang ada di sana. Dan, tanpa menghiraukan tata-krama yang berlaku di istana, Raden Patah langsung masuk ke sebuah gedung tempat menyimpan pusaka keraton. Setelah masuk ke dalam gedung, dengan tanpa ragu-ragu, Raden Patah memukul sebuah gong pusaka hingga menimbulkan suara yang menggelegar.

Mendengar suara gong pusaka yang menggelegar itu, Sang Prabu Brawijaya terkejut. Ia lalu memerintahkan Mahapatihnya, untuk melihat siapa orang yang telah berani memukul pusaka itu tanpa seizinnya.

Setelah mendapat perintah tersebut, sang Mahapatih lalu bergegas menuju gedung pusaka. Di sana ia melihat seorang anak muda yang di tangannya masih menggenggam alat pemukul gong. Setelah melihat siapa pelakunya, sang Mahapatih segera kembali ke istana untuk melaporkannya pada raja.

Ketika mendapat laporan dari Mahapatihnya itu, sang Prabu agak terkejut, sebab selain dirinya sendiri, di seluruh kerajaan hanya ada beberapa orang saja yang mempunyai kekuatan luar biasa yang mampu memukul gong pusaka itu hingga berbunyi. Sang Prabu kemudian berkata, “Anak siapa dia? Lekas panggil kemari!”

Sang Mahapatih kemudian kembali lagi ke gedung pusaka untuk membawa Raden Patah menghadap raja. Setelah Raden Patah dibawa menghadap baginda raja, Ki Juru Sawah yang juga masih di tempat itu menjadi terkejut sekali. Ia tidak menyangka kalau Raden Patah telah mengikutinya ke kota. Dan, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, Ki Juru Sawah segera berkata, “Ampun Baginda Prabu, hamba sama sekali tidak menyangka kalau dia ikut ke kota. Sudah berkali-kali hamba melarang dia ikut, tetapi rupanya secara sembunyi-sembunyi dia mengikuti perjalanan hamba.”

“Kau kenal anak muda ini, Ki Juru?” tanya Sang Prabu.

“Ya. Hamba mengenalnya,” jawab Ki Juru Sawah.

“Siapakah dia?” tanya baginda.

“Ia adalah anak asuhan hamba,” jawab Ki Juru Sawah.

“Lalu, anak siapa dia?” tanya baginda lagi.

“Dia adalah anak yang dilahirkan oleh Ratu Mayangsari.”

“Wah, kalau begitu dia adalah anakku,” kata baginda.

“Benar, Baginda Prabu,” sembah Ki Juru Sawah.

“Kalau begitu, biarlah dia tinggal di keraton ini,” kata baginda dengan nada gembira, sebab anak dari salah seorang selirnya itu telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah dan tampan.

Singkat cerita, sejak saat itu Raden Patah tidak lagi tinggal di rumah Ki Juru Sawah, melainkan tinggal di Keraton Majapahit. Selama tinggal di keraton, Raden Patah dengan tekun mempelajari berbagai macam ilmu, sehingga pada saat usianya menginjak dewasa ia telah menjadi seorang yang tidak hanya pandai dalam ilmu olah kanuragan, tetapi juga ilmu-ilmu tentang kenegaraan. Oleh karena itu, Prabu Brawijaya lalu mengutusnya untuk mengepalai wilayah jajahan Majapahit di Palembang.

Setelah beberapa tahun menjadi kepala wilayah jajahan di Palembang, pada suatu malam Raden Patah bermimpin didatangi dan di-Islamkan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga. Di dalam mimpinya itu Kanjeng Sunan Kalijaga juga berkata, “Jebeng1, sekarang sudah tiba saatnya kau kembali ke tanah Jawa. Tengoklah ayahmu yang kini telah lanjut usianya. Bawalah prajurit berjumlah seratus empat puluh orang. Tetapi ingat, kau jangan langsung menuju Majapahit, tetapi tinggallah di daerah Glagahwangi2 dan dirikanlah sebuah masjid di tempat itu.”

Setelah mendapat wisik3 dari Kanjeng Sunan Kalijaga, beberapa hari kemudian berangkatlah Raden Patah ke tanah Jawa, dengan membawa prajurit berjumlah seratus empat puluh orang. Setelah menempuh perjalanan yang panjang, sampailah rombongan itu di daerah Glagahwangi yang masih berupa hutan. Di hutan itu, Raden Patah beserta rombongannya mulai membangun sebuah masjid.

Oleh karena daerah Glagahwangi masih termasuk wilayah Kerajaan Majapahit, maka Raden Patah merasa perlu menjumpai ayahnya, untuk meminta izin membuka hutan dan mendirikan masjid. Dengan dasar itulah, maka Raden Patah beserta para pengiringnya berangkat ke Majapahit untuk menghadap Prabu Brawijaya.

Namun, karena mendapat laporan dari para telik sandi-nya yang menginformasikan bahwa Raden Patah sedang menuju ke kerajaan dengan membawa ratusan pengawal, entah mengapa Sang Prabu Brawijaya mengira bahwa anaknya itu akan menyerang Kerajaan Majapahit. Dan, entah mengapa pula sang Prabu lalu mengajak permaisuri beserta pengawalnya untuk melarikan diri dari Majapahit. Dalam pelarian ini sang Prabu juga membawa anjing kesayangannya.

Pelarian sang Prabu Brawijaya, permaisuri beserta para pengiringnya itu dari Kerajaan Majapahit menuju ke arah barat hingga sampai di wilayah Gunung Kidul. Sesampainya di tempat itu, sang Prabu menyuruh para pengiringnya membuka hutan dan mendirikan sebuah pedukuhan. Pedukuhan ini sekarang telah menjadi sebuah desa yang bernama Desa Gagang, termasuk dalam wilayah Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Saat Raden Patah beserta pengiringnya telah tiba di Majapahit, ia menjadi kecewa karena kerajaan telah kosong. Rupanya antara ayah dan anak tersebut telah terjadi suatu kesalah-paham. Raden Patah datang ke kerajaan dengan maksud ingin meminta izin untuk mendirikan masjid di Glagahwangi, sedangkan Prabu Brawijaya mengira kedatangan puteranya itu bertujuan hendak menyerang Majapahit. Oleh karena itu, Raden Patah beserta pengiringnya berusaha menyusul ayahandanya ke Gunung Kidul.

Setelah beberapa saat lamanya bermukim di Gunung Kudul, Prabu Brawijaya mendengar berita lagi bahwa rombongan Raden Patah sedang menyusulnya. Prabu Brawijaya yang semakin yakin bahwa puteranya itu ingin menyerangnya, kemudian pindah lagi ke sebuah bukit yang masih berada di kawasan Gunung Kidul. Di tempat yang baru itu ia mendirikan sebuah padepokan yang saat ini telah menjadi sebuah desa yang bernama Manggung4. Tujuan dari pendirian pedukuhan di atas bukit adalah agar apabila Raden Patah beserta para pengiringnya datang, dapat segera mengetahuinya.

Namun, setelah tinggal di bukit itu, sang Prabu beserta para pengawalnya menghadapi kesulitan. Di puncak bukit tidak ada sumber air, sehingga setiap ia dan permaisurinya memerlukan air, terpaksa pengawalnya harus pergi ke sumber air yang terletak di kaki bukit.

Sementara itu, Raden Patah yang berusaha menyusul telah sampai di Gunung Nglompong. Di daerah Gunung Nglompong ini ia mendapat keterangan dari penduduk bahwa Prabu Brawijaya bersembunyi di puncak bukit Manggung. Raden Patah juga mengetahui, bahwa di tempat persembunyiannya Prabu Brawijaya sering mengalami kesulitan karena tidak ada air. Oleh sebab itu, dengan kemampuan luar biasa yang dimiliki, Raden Patah lalu melemparkan sebuah genthong atau padasan yang penuh berisi air ke puncak Bukit Manggung.

Sewaktu sang Prabu secara tiba-tiba mendapati sebuah padasan yang telah berisi air di depan pondoknya, ia yakin bahwa itu adalah “ulah” anaknya. Ia menyangka Raden Patah sedang mengejeknya dengan memberikan genthong yang penuh berisi air yang memang sangat dibutuhkannya. Oleh karena itu, sang Prabu beserta permaisuri dan para pengawalnya meninggalkan bukit Manggung untuk mencari tempat persembunyian yang lain. Dan sejak saat itu, bukit tempat Prabu Brawijaya yang dilempari sebuah genthong oleh Raden Patah dinamakan sebagai Gunung Genthong. Dan, sampai saat ini genthong “pemberian” Raden Patah itu masih ada namun dindingnya sudah retak-retak, sehingga tidak dapat lagi digunakan untuk menampung air.

Begitulah, terus-menerus Sang Prabu Brawijaya senantiasa melarikan diri dan bersembunyi. Sedangkan Raden Patah pun juga terus saja mencari dan berusaha ingin menjumpai. Sampai suatu saat sang Prabu dapat tersusul oleh Raden Patah.

Singkat cerita, setelah mendengar penjelasan dari Raden Patah, maka seluruh kesalah-pahaman diantara mereka pun dapat diselesaikan. Dan, kepada puteranya itu sang Prabu berkata, “Baiklah, Patah. Ayahanda ingin berbicara. Kalau ayahanda harus menuruti kehendakmu untuk menganut agamamu, ayahanda tidak bersedia. Kalau kau memang memilih agamamu itu, tekunilah dengan sungguh-sungguh. Soal niatmu akan membangun masjid, laksanakan sebaik-baiknya. Bahkan ayahanda mengizinkan engkau membangun keratonmu di Glagahwangi. Setelah jadi, namakanlah Demak Bintara, agar negerimu kelak ramai dan berwibawa. Pindahkanlah seluruh isi Keraton Majapahit ke Demak Bintara.”

Setelah mendapat nasihat dari ayahandanya, Raden Patah lalu melanjutkan rencananya membangun masjid di Glagahwangi. Bahkan, sesuai dengan nasihat yang diterimanya, ia pun mulai mendirikan keraton. Saat keraton selesai di buat, barang-barang dari Keraton Majapahit lalu dipindahkan ke keratonnya yang dinamakan Demak Bintara.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.