6 Cerita Rakyat dari Sumatera Utara | Cerita Rakyat Nusantara

Halo Kawan, dalam artikel kali ini kami akan menyampaikan sebuah cerita rakyat dari Sumatera Utara yang mungkin Anda belum pernah mendengarnya. Yuk simak selengkapnya.

1. Cerita Rakyat Legenda Batu Gantung

Pada jaman dahulu kala di sebuah desa kecil di tepi Danau Toba hiduplah sepasang suami-isteri dengan seorang anak perempuannya yang cantik jelita bernama Seruni. Selain cantik, Seruni juga tergolong sebagai anak yang rajin karena selalu membantu kedua orang tuanya ketika mereka sedang bekerja di ladang yang hasilnya digunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.

Suatu hari, Seruni harus bekerja di ladang seorang diri karena kedua orang tuanya sedang ada keperluan di desa tetangga. Ia hanya ditemani oleh anjing peliharaannya yang diberi nama Si Toki. Sesampainya di ladang Seruni hanya duduk termenung sambil memandangi indahnya alam Danau Toba. Sementara anjingnya, Si Toki, ikut duduk disamping sambil menatap wajah majikannya yang tampak seperti sedang menghadapi suatu masalah. Sesekali sang anjing menggonggong untuk mengalihkan perhatian Seruni apabila ada sesuatu yang mencurigakan di sekitar ladang.

Sebenarnya, beberapa hari terakhir Seruni selalu tampak murung. Hal ini disebabkan karena Sang Ayah akan menjodohkannya dengan seorang pemuda yang masih tergolong sepupunya sendiri. Padahal, ia telah menjalin hubungan asmara dengan seorang pemuda di desanya dan telah berjanji pula akan membina rumah tangga. Keadaan ini membuatnya menjadi bingung, tidak tahu harus berbuat apa, dan mulai berputus asa. Di satu sisi ia tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya, namun di sisi lain ia juga tidak sanggup jika harus berpisah dengan pemuda pujaan hatinya.

Setelah merenung beberapa saat dan tanpa menghasilkan apa-apa, Seruni beranjak bangkit dari tempat ia duduk. Dengan berderai air mata ia berjalan perlahan ke arah Danau Toba. Rupanya ia sudah sangat berputus asa dan ingin mengakhiri hidupnya dengan cara menceburkan diri ke Danau Toba. Sementara Si Toki yang juga mengikuti majikannya menuju tepi danau hanya bisa menggonggong karena tidak tahu apa yang sedang berkecamuk di dalam benak Seruni.

Saat berjalan ke arah tebing di tepi Danau Toba, tiba-tiba ia terperosok ke dalam sebuah lubang batu besar hingga masuk ke dasarnya. Dan, karena berada di dasar lubang yang sangat gelap, membuat gadis cantik itu menjadi takut dan berteriak minta tolong kepada anjing kesayangannya. Namun karena Si Toki hanyalah seekor binatang, maka ia tidak dapat berbuat apa-apa kecuali terus-menerus menggonggong di sekitar mulut lubang.

Akhirnya gadis itu pun semakin putus asa dan berkata dalam hati, “Ah, lebih baik aku mati saja.”

Setelah berkata seperti itu, entah mengapa dinding-dinding lubang tersebut mulai merapat. “Parapat…! Parapat batu!” seru Seruni agar dinding batu semakin merapat dan menghimpit tubuhnya.

Melihat kejadian itu Si Toki langsung berlari ke rumah untuk meminta bantuan. Sesampainya di rumah Si Toki segera menghampiri orang tua Seruni yang kebetulan sudah berada di rumah. Sambil menggonggong, mencakar-cakar tanah dan mondar-mandir di sekitar majikannya, Si Toki berusaha memberitahukan bahwa Seruni dalam keadaan bahaya.

Sadar akan apa yang sedang diisyaratkan oleh si anjing, orang tua Seruni segera beranjak menuju ladang. Keduanya berlari mengikuti Si Toki hingga sampai ke tepi lubang tempat anak gadis mereka terperosok. Ketika mendengar jeritan anaknya dari dalam lubang, Sang Ibu segera membuat obor sebagai penerang karena hari telah senja. Sementara Sang Ayah berlari kembali menuju desa untuk meminta bantuan para tetangga.

Tak berapa lama kemudian, sebagian besar tetangga telah berkumpul di rumah ayah Seruni untuk bersama-sama menuju ke lubang tempat Seruni terperosok. Mereka ada yang membawa tangga bambu, tambang, dan obor sebagai penerangan.

Sesampainya rombongan di ladang, sambil bercucuran air mata Ibu Seruni berkata pada suaminya, “Pak, lubangnya terlalu dalam dan tidak tembus cahaya. Saya hanya mendengar sayup-sayup suara anak kita yang berkata: parapat, parapat batu…”

Tanpa menjawab pertanyaan isterinya, Ayah Seruni segera melonggok ke dalam lubang dan berteriak, “Seruniii…! Serunii…!”

“Seruni…anakku! Kami akan menolongmu!” sang ibu ikut berteriak.

Beberapa kali mereka berteriak, namun tidak mendapat jawaban dari Seruni. Hanya suara Seruni terdengar sayup-sayup yang menyuruh batu di sekelilingnya untuk merapat dan menghimpitnya.

Warga yang hadir di tempat itu juga berusaha untuk membantu dengan mengulurkan seutas tambang hingga ke dasar lubang, namun sama sekali tidak disentuh atau dipegang oleh Seruni.

Merasa khawatir, Sang Ayah memutuskan untuk menyusul puterinya masuk ke dalam lubang, “Bu, pegang obor ini! Saya akan turun menjemput anak kita!”

“Jangan gegabah, Pak. Lubang ini sangat berbahaya!” cegah sang isteri.

“Benar Pak, lubang ini sangat dalam dan gelap,” sahut salah seorang tetangganya.

Setelah ayah Seruni mengurungkan niatnya, tiba-tiba terdengar suara gemuruh dan bumi pun bergoncang dahsyat yang membuat lubang secara perlahan merapat dan tertutup dengan sendirinya. Seruni yang berada di dalam lubang akhirnya terhimpit dan tidak dapat diselamatkan.

Beberapa saat setelah gempa berhenti, di atas lubang yang telah tertutup itu muncullah sebuah batu besar yang menyerupai tubuh seorang gadis yang seolah-olah menggantung pada dinding tebing di tepi Danau Toba. Orang-orang yang melihat kejadian itu mempercayai bahwa batu itu adalah penjelmaan dari Seruni dan kemudian menamainya sebagai “Batu Gantung”.

Dan, karena ucapan Seruni yang terakhir didengar oleh warga hanyalah “parapat, parapat, dan parapat”, maka daerah di sekitar Batu Gantung kemudian diberi nama Parapat. Kini Parapat telah menjelma menjadi salah satu kota tujuan wisata di Provinsi Sumatera Utara.

2. Cerita Rakyat Legenda Danau Lau Kawar

Danau Lau Kawar terletak di Desa Kuta Gugung, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara. Danau ini terkenal akan airnya yang jernih dan tenang serta pemandangan alamnya yang indah. Namun, dibalik pesona keindahan tersebut tersimpan suatu kisah luar biasa mengenai asal usul terjadinya danau yang oleh sebagian masyarakat di sekitarnya diyakini kebenarannya. Kisahnya adalah sebagai berikut.

Alkisah, pada zaman dahulu kala Lau Kawar bukanlah sebuah danau seperti sekarang ini, melainkan sebuah desa yang bernama Kawar. Masyarakatnya hidup dari hasil bercocok tanam di ladang yang selalu subur walau tidak memakai pupuk atau obat-obatan lainnya. Suatu waktu, hasil panen mereka meningkat hingga dua kali lipat. Akibatnya, lumbung-lumbung mereka pun menjadi penuh. Bahkan, beberapa diantaranya ada yang harus menaruh hasil panennya di dalam rumah karena sudah tidak muat lagi di lumbung.

Atas keberhasilan panen itu, mereka lalu bergotong-royong mengadakan pesta adat sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pada hari pelaksanaan, Desa Kawar tampak ramai dan semarak. Para penduduk mengenakan pakaian yang berwarna-warni serta perhiasan yang indah. Dalam pesta adat itu warga Desa Kawar tampak bergembira ria kecuali seorang perempuan tua yang ditinggal seorang diri di dalam rumahnya. Ia tidak mengikuti pesta karena menderita lumpuh dan tidak dapat berjalan lagi. Sementara anak, menantu, dan para cucunya asyik sibuk mengikuti pesta dan tidak mempedulikannya lagi.

Sambil terbaring di atas pembaringannya, si nenek tua itu pun berkata, “Ya, Tuhan! Aku ingin sekali menghadiri pesta itu. Tapi apa dayaku. Jangankan berjalan, berdiripun aku sudah tidak sanggup lagi.”

Dalam keadaan demikian, ia hanya bisa membayangkan betapa meriahnya suasana pesta itu. Saat mendengar secara sayup-sayup suara gendang guro-guro didendangkan, teringatlah ia ketika masih remaja dan ikut menari berpasangan dengan para pemuda desa yang gagah dan tanpan. Namun, semuanya hanya tinggal kenangan saja. Kini, tinggallah siksaan dan penderitaan yang dialami di usia senjanya. Ia menderita seorang diri dalam kesepian. Tak seorang pun yang mempedulikannya.

Ketika tiba saatnya makan siang, seluruh warga yang tengah berpesta tersebut segera berkumpul di balai desa untuk menyatap berbagai macam makanan yang telah disiapkan. Saat mereka makan sesekali terdengar suara tawa karena di antara mereka ada saja yang membuat lelucon. Rasa gembira yang berlebihan membuat mereka lupa bahwa ada seorang diantara mereka yang tidak dapat mengikuti pesta karena keterbatasan fisiknya.

Orang itu adalah si nenek yang sudah sejak tadi merasa lapar. Ia sangat mengharapkan anak atau menantunya ingat dan segera mengantarkan makanan untuknya. Namun, setelah ditunggu-tunggu, tak ada seorang pun yang datang. Akhirnya, dengan sisa-sisa tenaga yang ada, ia mencoba merangkat ke dapur untuk mencari makanan. Tetapi setelah sampai di dapur ia tidak menemukan sedikitpun makanan karena anak-anak perempuannya sengaja tidak memasak pada hari itu.

Sambil merangkak kembali menuju pembaringannya si nenek meratap, “Ya Tuhan! Anak-cucuku benar-benar telah tega membiarkan aku menderita begini. Di sana mereka makan sampai kenyang, sedang aku dibiarkan kelaparan. Sungguh kejam mereka!”

Di tempat lain, saat pesta makan telah usai anak si nenek rupanya baru ingat kalau ibunya belum makan. Ia kemudian menghampiri isterinya dan berkata, “Isteriku! Apakah kamu sudah mengantarkan makanan untuk ibu?”

“Belum,” jawab sang isteri singkat.

“Kalau begitu, tolong bungkuskan makanan lalu suruh anak kita menghantarkannya!” perintah sang suami.

“Baiklah,” jawab sang isteri sambil berjalan ke arah makanan sisa pesta lalu membungkus beberapa diantaranya dan memberikan pada anaknya untuk di bawa pulang.

Sesampainya di rumah, si anak segera menyerahkan bungkusan makanan itu pada neneknya lalu berlari kembali ke tempat pesta. Alangkah senangnya hati sang nenek. Pada saat lapar yang teramat sangat, tiba-tiba saja ada yang membawakan makanan. Dengan perasaan gembira ia lalu membuka bungkusan itu. Namun betapa kecewanya ia ketika melihat bahwa isi bungkusan hanyalah makanan sisa yang sudah tidak utuh lagi.

“Ya Tuhan! Apakah mereka sudah menganggapku seperti binatang,” gumam sang nenek dengan perasaan kesal.

Sebenarnya bungkusan itu berisi daging panggang yang masih hangat dan utuh. Namun, di tengah perjalanan si cucu telah memakannya sehingga yang tersisa sebagian besar hanyalah tulangnya saja.

Si nenek yang tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya mengira anak dan menantunya telah tega melakukan hal itu. Ia merasa sangat terhina dan segera berdoa kepada Tuhan agar anak dan menantunya diberikan ganjaran yang setimpal.

Singkat cerita, setelah selesai mengucapkan doa secara tiba-tiba terjadi sebuah gempa bumi yang sangat dahsyat. Selanjutnya, langit menjadi mendung disertai guntur menggelegar dan tak lama kemudian turunlah hujan dengan lebatnya. Dalam sekejap mata, Desa Kawar yang subur dan makmur itu tiba-tiba tenggelam beserta seluruh penduduknya dan berubah menjadi sebuah danau seperti sekarang ini.

3. Cerita Rakyat Legenda Tuak

Pohon aren atau sugar palm mempunyai banyak sebutan. Di daerah Sumatera saja ada beberapa macam sebutan seperti: nau, hanau, peluluk, biluluk, kabung, juk, ijuk, dan bagot. Tumbuhan yang hidup subur pada daerah dengan ketinggian 500-800 meter di atas permukaan air laut ini memiliki manfaat yang beraneka ragam yang salah satunya adalah untuk dijadikan minuman keras yang disebut tuak.

Bagi masyarakat Batak, terutama yang berada di dataran tinggi, tuak tidak hanya digunakan sebagai minuman penghangat tubuh saja, melainkan juga memiliki fungsi sosial sebagai pelengkap dalam upacara-upacara adat tertentu, seperti: upacara ompu-ompu dan upacara manulagi. Dalam Upacara Ompu-ompu minuman tuak digunakan untuk menyirami beberapa jenis tanaman yang ditanam di atas tambak orang-orang yang sudah meninggal dunia. Sementara dalam Upacara Manulangi minuman tuak digunakan sebagai persembahan kepada arwah seseorang yang telah meninggal dunia.

Menurut kepercayaan sebagian masyarakat Batak, pohon aren atau sugar palm tidak hanya sebagai tumbuhan biasa yang menghasilkan tuak. Ia dipercaya sebagai jelmaan dari seorang gadis bernama Beru Sibou. Peristiwa penjelmaan gadis itu dikisahkan dalam cerita rakyat yang sangat terkenal di kalangan masyarakat Tanah Karo. Ceritanya adalah sebagai berikut.

Alkisah, pada zaman dahulu kala di sebuah desa di Tanah Karo hiduplah sepasang suami-isteri yang rukun dan bahagia bersama dengan dua orang anaknya yang masih kecil. Anak yang pertama laki-laki bernama Tare Iluh, sedangkan adiknya perempuan bernama Beru Sibou.

Suatu hari, Ayah dari Tare Iluh dan Beru Sibou menderita sakit yang parah hingga akhirnya meninggal dunia. Sepeninggal sang ayah, tentu saja sang ibu yang harus bekerja keras membanting tulang untuk menghidupi keluarga. Namun beberapa bulan kemudian, karena bekerja terlalu keras, wanita itu pun akhirnya jatuh sakit dan meninggal dunia. Dan, mulai sejak saat itu Si Tare dan adiknya hidup bersama adik perempuan dari ayah mereka.

Waktu pun berlalu. Si Tare Iluh tumbuh menjadi pemuda yang tampan dan gagah, sedangkan adiknya menjadi seorang gadis remaja yang cantik jelita. Oleh karena telah merasa menjadi seorang pemuda, Tare Illuh pun berhasrat ingin pergi merantau mencari pekerjaan ke daerah lain. Ia ingin memperoleh uang hasil keringatnya sendiri dan agar tidak membebani bibinya lagi.

Untuk itu, ia lalu memanggil adiknya, “Adikku, Beru. Kemarilah sebentar. Ada yang ingin aku sampaikan”

“Ada apa, Bang,” jawab Beru Sibou.

“Sekarang aku sudah dewasa. Oleh karena itu, aku ingin merantau untuk mencari nafkah agar tidak menyusahkan bibi lagi. Bagaimana pendapatmu?” tanya Tare Illuh.

“Lalu bagaimana denganku, Bang? Apakah engkau rela meninggalkanku?” Beru Sibou balik bertanya.

“Engkau di sini saja menemani bibi. Nanti jika telah berhasil mendapat uang yang banyak aku akan segera kembali,” bujuk Tare Iluh kepada adiknya.

“Baiklah, Bang! Tapi janganlah engkau lupa untuk segera kembali apabila telah berhasil,” kata Beru Sibou.

“Tentu, adikku!” kata Tare dengan penuh keyakinan.

Singkat cerita, sepeninggal abangnya Beru Sibou menjadi sedih karena merasa telah kehilangan segalanya. Gadis itu hanya bisa berharap agar Tare Iluh segera kembali dengan membawa uang yang banyak.

Namun setelah berminggu-minggu, berbulan-bulan, dan bahkan bertahun-tahun ia menunggu, ternyata Tare Iluh tetap tidak juga muncul. Hal ini membuatnya menjadi semakin sedih dan juga bingung. Ia tidak tahu apa yang terjadi dengan abangnya itu. Apa yang telah dilakukannya di perantauan? apakah ia baik-baik saja atau tidak?

Sementara di tempat lain, orang yang sedang ditunggu kedatangannya yaitu Tare Iluh sebenarnya telah mendapatkan pekerjaan yang layak dan memiliki uang yang cukup banyak. Tetapi karena ia mempunyai hobi baru, yaitu berjudi, maka uang yang telah didapatkannya berangsur-angsur menipis dan mulai berhutang di sana-sini. Dan, karena hutangnya semakin menumpuk dan tidak sanggup membayar lagi, maka oleh warga setempat Si Tare Iluh pun akhirnya dipasung.

Kabar mengenai dipasungnya Si Tare Iluh sampai juga ke telinga Beru Sibou. Dengan bekal seadanya ia pun pergi mencari Tare Iluh, meskipun tidak tahu arah mana yang dituju.

Setelah berjalan kaki tanpa arah menyusuri hutan belantara akhirnya Beru Sibou berjumpa dengan seorang kakek tua. Ia lalu bertanya, “Kek, apakah kakek kenal atau pernah bertemu dengan abang saya yang bernama Tare Iluh?”

“Hmm…Tare Iluh yah. Kakek tidak pernah bertemu dengannya. Tapi, sepertinya Kakek pernah mendengar namanya. Kalau tidak salah ia adalah seorang pemuda yang terkenal karena gemar berjudi…” jawab sang kakek sambil mengernyitkan dahinya.

“Abang saya itu kabarnya telah dipasung karena tidak mampu membayar hutang. Apakah Kakek tahu di daerah mana tempat abang saya dipasung?” tanya Beru Sibou.

“Maaf cucuku, kakek tidak tahu di mana tempatnya. Tapi kakek punya saran. Itu pun kalau engkau mau melakukannya,” jawab Sang Kakek.

“Apapun akan saya lalukan asalkan dapat bertemu lagi dengan Abang Tare Iluh, Kek,” jawab Beru Sibou bersemangat.

“Panjatlah sebuah pohon yang tinggi. Apabila telah sampai di puncaknya segeralah bernyanyi sambil memanggil nama abangmu. Barangkali ia bisa mendengarmu,” jawab Sang Kakek.

“Baiklah, Kek,” jawab Beru Sibou singkat.

“Kalau begitu Kakek pergi dulu ya cucuku. Semoga kamu beruntung,” kata Sang Kakek sambil berlalu dari hadapan Beru Sibou.

Beberapa saat setelah Si Kakek pergi, Beru Sibou segera mencari pohon yang dianggapnya cukup tinggi. Setelah mendapatkannya ia lalu memanjat hingga ke puncak dan mulai bernyanyi sambil memanggil-manggil nama Tare Iluh. Namun setelah berteriak-teriak selama berjam-jam tetapi tidak ada hasilnya, akhirnya Beru Sibou menjadi putus asa. Ia lalu mengangkat kedua tangannya dan berdoa kepada Tuhan, “Oh, Tuhanku. Tolonglah hambamu ini. Hamba bersedia mengorbankan jiwa dan raga demi kesejahteraan penduduk yang memasung Abang Tare Iluh asalkan mereka mau lepaskannya.”

Setelah berkata demikian, tiba-tiba saja angin bertiup kencang dan langit menjadi mendung yang disusul dengan turunnya hutan lebat diiringi suara guntur yang menggelegar. Sesaat kemudian, tubuh Beru Sibou mulai menjelma menjadi sebuah pohon, air matanya menjelmanya menjadi tuak atau nira, dan rambutnya menjadi ijuk yang saat ini masih dimanfaatkan untuk membuat atap rumah.

4. Cerita Rakyat Asal Usul Terjadinya Danau Toba

Di bagian utara Pulau Sumatera hiduplah seorang pemuda yang telah yatim piatu. Untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari sang pemuda hidup dari bertani dan memancing ikan. Suatu hari ia memperoleh hasil pancingan berupa seekor ikan yang sangat indah berwarna kuning keemasan. Ketika akan dipegang, ikan tersebut tiba-tiba berubah menjadi seorang puteri yang cantik jelita. Konon, sang puteri dahulu dikutuk menjadi seekor ikan karena telah melanggar suatu larangan. Ia baru akan berubah menjadi puteri kembali apabila ada manusia yang berhasil menyentuhnya.

Oleh karena terpesona akan kecantikan sang puteri, sang pemuda lantas melamarnya. Sang puteri menerima dengan syarat bahwa sang pemuda tidak boleh sekalipun mengungkapkan asal-usulnya. Singkat cerita, selama satu tahun mereka hidup sebagai pasangan suami-isteri dan dikaruniai seorang anak laki-laki. Namun, sang anak ternyata mempunyai sifat yang sangat aneh. Ia tidak pernah merasa kenyang.

Suatu hari, karena merasa lapar sang anak memakan habis hidangan yang disiapkan untuk seluruh keluarga. Sang ayah yang mengetahui kejadian tersebut segera berkata kesal, “Dasar anak keturunan ikan!”

Ungkapan kejengkelan tersebut ternyata berakibat fatal. Janji kepada isteri untuk tidak mengungkapkan asal-usulnya telah dilanggar. Secara tiba-tiba sang isteri beserta anak semata wayangnya menghilang secara gaib. Tanah bekas tempat mereka berpijak pun tiba-tiba mengeluarkan air yang makin lama makin besar dan akhirnya menjadi sebuah danau yang sangat luas. Dan, danau itu kemudian diberi nama Danau Toba.

5. Cerita Rakyat Asal Mula Danau Si Losung Dan Si Pinggan

dahulu di daerah Silahan, Tapanuli Utara, hiduplah sepasang suami-istri yang memiliki dua orang anak laki-laki. Yang sulung bernama Datu Dalu, sedangkan yang bungsu bernama Sangmaima. Ayah mereka adalah seorang ahli pengobatan dan jago silat. Sang Ayah ingin kedua anaknya itu mewarisi keahlian yang dimilikinya. Oleh karena itu, ia sangat tekun mengajari mereka cara meramu obat dan bermain silat sejak masih kecil, hingga akhirnya mereka tumbuh menjadi pemuda yang gagah dan pandai mengobati berbagai macam penyakit.

Pada suatu hari, ayah dan ibu mereka pergi ke hutan untuk mencari tumbuhan obat-obatan. Akan tetapi saat hari sudah menjelang sore, sepasang suami-istri itu belum juga kembali. Akhirnya, Datu Dalu dan adiknya memutuskan untuk mencari kedua orang tua mereka. Sesampainya di hutan, mereka menemukan kedua orang tua mereka telah tewas diterkam harimau.

Dengan sekuat tenaga, kedua abang-adik itu membopong orang tua mereka pulang ke rumah. Usai acara penguburan, ketika hendak membagi harta warisan yang ditinggalkan oleh orang tua mereka, keduanya baru menyadari bahwa orang tua mereka tidak memiliki harta benda, kecuali sebuah tombak pusaka. Menurut adat yang berlaku di daerah itu, apabila orang tua meninggal, maka tombak pusaka jatuh kepada anak sulung. Sesuai hukum adat tersebut, tombak pusaka itu diberikan kepada Datu Dalu, sebagai anak sulung.

Pada suatu hari, Sangmaima ingin meminjam tombak pusaka itu untuk berburu babi di hutan. Ia pun meminta ijin kepada abangnya.

“Bang, bolehkah aku pinjam tombak pusaka itu?”

“Untuk keperluan apa, Dik?”

“Aku ingin berburu babi hutan.”

“Aku bersedia meminjamkan tombak itu, asalkan kamu sanggup menjaganya jangan sampai hilang.”

“Baiklah, Bang! Aku akan merawat dan menjaganya dengan baik.”

Setelah itu, berangkatlah Sangmaima ke hutan. Sesampainya di hutan, ia pun melihat seekor babi hutan yang sedang berjalan melintas di depannya. Tanpa berpikir panjang, dilemparkannya tombak pusaka itu ke arah binatang itu. “Duggg…!!!” Tombak pusaka itu tepat mengenai lambungnya. Sangmaima pun sangat senang, karena dikiranya babi hutan itu sudah roboh. Namun, apa yang terjadi? Ternyata babi hutan itu melarikan diri masuk ke dalam semak-semak.

“Wah, celaka! Tombak itu terbawa lari, aku harus mengambilnya kembali,” gumam Sangmaima dengan perasaan cemas.

Ia pun segera mengejar babi hutan itu, namun pengejarannya sia-sia. Ia hanya menemukan gagang tombaknya di semak-semak. Sementara mata tombaknya masih melekat pada lambung babi hutan yang melarikan diri itu. Sangmaima mulai panik.

“Waduh, gawat! Abangku pasti akan marah kepadaku jika mengetahui hal ini,” gumam Sangmaima.

Namun, babi hutan itu sudah melarikan diri masuk ke dalam hutan. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk kembali ke rumah dan memberitahukan hal itu kepada Abangnya.

“Maaf, Bang! Aku tidak berhasil menjaga tombak pusaka milik Abang. Tombak itu terbawa lari oleh babi hutan,” lapor Sangmaima.

“Aku tidak mau tahu itu! Yang jelas kamu harus mengembalikan tombok itu, apa pun caranya,” kata Datu Dalu kepada adiknya dengan nada kesal.”

Baiklah, Bang! Hari ini juga aku akan mencarinya,” jawab Sangmaima.

“Sudah, jangan banyak bicara! Cepat berangkat!” perintah Datu Dalu.

Saat itu pula Sangmaima kembali ke hutan untuk mencari babi hutan itu. Pencariannya kali ini ia lakukan dengan sangat hati-hati. Ia menelesuri jejak kaki babi hutan itu hingga ke tengah hutan. Sesampainya di tengah hutan, ia menemukan sebuah lubang besar yang mirip seperti gua. Dengan hati-hati, ia menyurusi lubang itu sampai ke dalam. Alangkah terkejutnya Sangmaima, ternyata di dalam lubang itu ia menemukan sebuah istana yang sangat megah.

“Aduhai, indah sekali tempat ini,” ucap Sangmaima dengan takjub.

“Tapi, siapa pula pemilik istana ini?” tanyanya dalam hati.

Oleh karena penasaran, ia pun memberanikan diri masuk lebih dalam lagi. Tak jauh di depannya, terlihat seorang wanita cantik sedang tergeletak merintih kesakitan di atas pembaringannya. Ia kemudian menghampirinya, dan tampaklah sebuah mata tombak menempel di perut wanita cantik itu. “Sepertinya mata tombak itu milik Abangku,” kata Sangmaima dalam hati. Setelah itu, ia pun menyapa wanita cantik itu.

“Hai, gadis cantik! Siapa kamu?” tanya Sangmaima.

“Aku seorang putri raja yang berkuasa di istana ini.”

“Kenapa mata tombak itu berada di perutmu?”

“Sebenarnya babi hutan yang kamu tombak itu adalah penjelmaanku.”

“Maafkan aku, Putri! Sungguh aku tidak tahu hal itu.”

“Tidak apalah, Tuan! Semuanya sudah terlanjur. Kini aku hanya berharap Tuan bisa menyembuhkan lukaku.”

Berbekal ilmu pengobatan yang diperoleh dari ayahnya ketika masih hidup, Sangmaima mampu mengobati luka wanita itu dengan mudahnya. Setelah wanita itu sembuh dari sakitnya, ia pun berpamitan untuk mengembalikan mata tombak itu kepada abangnya.

Abangnya sangat gembira, karena tombak pusaka kesayangannya telah kembali ke tangannya. Untuk mewujudkan kegembiraan itu, ia pun mengadakan selamatan, yaitu pesta adat secara besar-besaran. Namun sayangnya, ia tidak mengundang adiknya, Sangmaima, dalam pesta tersebut. Hal itu membuat adiknya merasa tersinggung, sehingga adiknya memutuskan untuk mengadakan pesta sendiri di rumahnya dalam waktu yang bersamaan. Untuk memeriahkan pestanya, ia mengadakan pertunjukan dengan mendatangkan seorang wanita yang dihiasi dengan berbagai bulu burung, sehingga menyerupai seekor burung Ernga. Pada saat pesta dilangsungkan, banyak orang yang datang untuk melihat pertunjukkan itu.

Sementara itu, pesta yang dilangsungkan di rumah Datu Dalu sangat sepi oleh pengunjung. Setelah mengetahui adiknya juga melaksanakan pesta dan sangat ramai pengunjungnya, ia pun bermaksud meminjam pertunjukan itu untuk memikat para tamu agar mau datang ke pestanya.

“Adikku! Bolehkah aku pinjam pertunjukanmu itu?”

“Aku tidak keberatan meminjamkan pertunjukan ini, asalkan Abang bisa menjaga wanita burung Ernga ini jangan sampai hilang.”

“Baiklah, Adikku! Aku akan menjaganya dengan baik.”

Setelah pestanya selesai, Sangmaima segera mengantar wanita burung Ernga itu ke rumah abangnya, lalu berpamitan pulang. Namun, ia tidak langsung pulang ke rumahnya, melainkan menyelinap dan bersembunyi di langit-langit rumah abangnya. Ia bermaksud menemui wanita burung Ernga itu secara sembunyi-sembunyi pada saat pesta abangnya selesai.

Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Pada malam harinya, Sangmaima berhasil menemui wanita itu dan berkata:

“Hai, Wanita burung Ernga! Besok pagi-pagi sekali kau harus pergi dari sini tanpa sepengetahuan abangku, sehingga ia mengira kamu hilang.”

“Baiklah, Tuan!” jawab wanita itu.

Keesokan harinya, Datu Dalu sangat terkejut.

Wanita burung Ernga sudah tidak di kamarnya. Ia pun mulai cemas, karena tidak berhasil menjaga wanita burung Ernga itu. “Aduh, Gawat! Adikku pasti akan marah jika mengetahui hal ini,” gumam Datu Dalu. Namun, belum ia mencarinya, tiba-tiba adiknya sudah berada di depan rumahnya.

“Bang! Aku datang ingin membawa pulang wanita burung Ernga itu.

Di mana dia?” tanya Sangmaima pura-pura tidak tahu.

“Maaf Adikku! Aku telah lalai, tidak bisa menjaganya. Tiba-tiba saja dia menghilang dari kamarnya,” jawab Datu Dalu gugup.

“Abang harus menemukan burung itu,” seru Sangmaima.

“Dik! Bagaimana jika aku ganti dengan uang?” Datu Dalu menawarkan.

Sangmaima tidak bersedia menerima ganti rugi dengan bentuk apapun. Akhirnya pertengkaran pun terjadi, dan perkelahian antara adik dan abang itu tidak terelakkan lagi. Keduanya pun saling menyerang satu sama lain dengan jurus yang sama, sehingga perkelahian itu tampak seimbang, tidak ada yang kalah dan menang.

Datu Dalu kemudian mengambil lesung lalu dilemparkan ke arah adiknya. Namun sang Adik berhasil menghindar, sehingga lesung itu melayang tinggi dan jatuh di kampung Sangmaima. Tanpa diduga, tempat jatuhnya lesung itu tiba-tiba berubah menjadi sebuah danau. Oleh masyarakat setempat, danau tersebut diberi nama Danau Si Losung.

Sementara itu, Sangmaima ingin membalas serangan abangnya. Ia pun mengambil piring lalu dilemparkan ke arah abangnya. Datu Dalu pun berhasil menghindar dari lemparan adiknya, sehingga piring itu jatuh di kampung Datu Dalu yang pada akhirnya juga menjadi sebuah danau yang disebut dengan Danau Si Pinggan.

Demikianlah cerita tentang asal-mula terjadinya Danau Si Losung dan Danau Si Pinggan di daerah Silahan, Kecamatan Lintong Ni Huta, Kabupaten Tapanuli Utara.

Cerita di atas termasuk ke dalam cerita rakyat teladan yang mengandung pesan-pesan moral. Ada dua pesan moral yang dapat diambil sebagai pelajaran, yaitu agar tidak bersifat curang dan egois.

– sifat curang. Sifat ini tercermin pada sifat Sangmaima yang telah menipu abangnya dengan menyuruh wanita burung Ernga pergi dari rumah abangnya secara sembunyi-sembunyi, sehingga abangnya mengira wanita burung Ernga itu hilang. Dengan demikian, abangnya akan merasa bersalah kepadanya.

– sifat egois. Sifat ini tercermin pada perilaku Sangmaima yang tidak mau memaafkan abangnya dan tidak bersedia menerima ganti rugi dalam bentuk apapun dari abangnya.

6. Cerita Rakyat Legenda Putri Hijau

Alkisah diceritakan, pada zaman dahulu kala di Kesultanan Deli Lama hiduplah seorang puteri cantik bernama Putri Hijau. Kecantikan sang puteri ini ternyata sampai pula ke telinga Sultan Aceh yang berada di bagian ujung Pulau Sumatera. Sang Sultan kemudian mengajukan lamaran pada Putri Hijau. Namun sayang, lamaran tersebut ditolak oleh saudara Putri Hijau, yakni Mambang Yazid dan Mambang khayali. Penolakan tersebut menimbulkan kemarahan Sultan Aceh dan menyatakan perang melawan Kesultanan Deli Lama.

Konon, saat dalam peperangan itu seorang saudara Putri Hijau menjelma menjadi ular naga dan seorang lagi menjadi sepucuk meriam yang terus menembaki tentara Aceh. Sisa “pecahan” meriam itu hingga saat ini ada di tiga tempat, yakni di Istana Maimoon, di Desa Sukanalu (Tanah Karo) dan di Deli Tua (Deli Serdang).

Pangeran yang telah berubah menjadi seekor ular naga itu, mengundurkan diri melalui satu saluran dan masuk ke dalam Sungai Deli di satu tempat yang berdekatan dengan Jalan Putri Hijau sekarang. Arus sungai membawanya ke Selat Malaka dari tempat ia meneruskan perjalanannya yang terakhir di ujung Jambo Aye dekat Lhokseumawe, Aceh.

Singkat cerita, Putri Hijau akhirnya ditawan dan dimasukkan dalam sebuah peti kaca lalu dimuat ke dalam kapal untuk seterusnya dibawa ke Aceh. Ketika kapal sampai di ujung Jambo Aye, Putri Hijau mohon diadakan satu upacara untuknya sebelum peti diturunkan dari kapal. Atas permintaannya, harus diserahkan pula sejumlah beras dan beribu-ribu telur. Permohonan tuan Putri itu dikabulkan.

Namun, baru saja upacara dimula, tiba-tiba berhembus angin ribut yang maha dahsyat disusul oleh gelombang laut yang sangat tinggi. Dari dalam laut muncul abangnya yang telah menjelma menjadi ular naga. Dan, dengan menggunakan rahangnya yang besar itu, diambilnya peti tempat adiknya dikurung, lalu dibawanya masuk ke dalam laut.

Lagenda ini sampai sekarang masih dikenal dikalangan orang-orang Deli dan malahan juga dalam masyarakat Melayu di Malaysia. Di Deli Tua masih terdapat reruntuhan benteng dari Putri yang berasal dari zaman Putri Hijau, sedangkan sisa meriam, penjelmaan abang Putri Hijau, dapat dilihat di halaman Istana Maimoon, Medan hingga saat ini.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.