Cerita Rakyat: Sangkuriang dan Asal Usul Tangkuban Perahu (Lengkap dengan Video)

Sangkuriang adalah sebuah cerita rakyat yang menceritakan asal mula terbentuknya gunung Tangkuban Perahu. Ada banyak versi dari cerita yang begitu legenda di Jawa Barat ini, namun pada artikel ini akan diceritakan versi cerita yang paling lengkap dari Sangkuriang. Selamat membaca.

JARAN CERITA SANGKURIANG

Cerita ini bermula dari kesalahan yang dilakukan oleh sepasang dewa dewi yang bernama Tumang dan Wayung Hyang di khayangan, mereka melanggar aturan khayangan dan harus menerima hukuman dari pemimpin dewa khayangan.

Tumang yang merupakan dewa yang memiliki paras yang sangat tampan harus menerima hukuman dengan dirubah menjadi seekor anjing, sementara Wayung Hyang yang memiliki wajah sangat cantik dirubah menjadi seekor babi hutan. Keduanya pun diusir dari kayangan dan dikirim ke bumi dengan wujud tersebut. Mereka ditugaskan untuk senantiasa melakukan kebaikan selama menjalani hukuman tersebut.

Tumang yang menjalani hukuman sebagai seekor anjing ditemukan oleh seorang raja dermawan yang bernama Sumbing Perbangkara. Sumbing Perbangkara yang menyukai anjing tersebut akhirnya memutuskan untuk membawanya ke istana dan memeliharanya. Tumang pun mengabdikan dirinya sebagai anjing pemburu yang senantiasa selalu menemani raja Sumbing Perbangkara dengan setia kemana pun dia pergi. Karena raja tersebut memiliki hobi memburu sejak kecil, dia pun sering mengajak Tumang untuk menemaninya ke hutan dan membantunya untuk berburu hewan.

LAHIRNYA IBU SANGKURIANG

Suatu hari saat berburu di tengah hutan bersama Tumang, raja Sumbing Perbangkara tak dapat menahan rasa ingin buang air kecil. Mengingat hutan tersebut sangat jauh dari pemukiman warga, Sumbing pun memutuskan untuk buang air kecil di tengah hutan tersebut tepat dibawah sebuah pohon. Tanpa disadarinya, air kencing tersebut tertampung ke dalam sebuah batok kelapa yang juga berada di bawah pohon tempat raja Sumbing kencing. Dan disaat sedang buang air kecil itu raja Sumbing juga tidak menyadari bahwa saat itu spermanya juga ikut keluar bersamaan dengan air kencingnya itu. Raja Sumbing Perbangkara dan anjingnya si Tumang pun pergi meninggalkan hutan tersebut setelah berhasil mendapatkan hewan buruan mereka. Tanpa sepengetahuan Tumang, ternyata hutan tersebut adalah tempat tinggalnya dewi Wayung Hyang yang dihukum menjadi babi hutan. Mereka tidak bertemu pada saat itu.

Tidak selang berapa lama setelah Sumbing dan anjingnya Tumang meninggalkan hutan tersebut, Wayung Hyang yang merupakan seekor babi hutan merasa sangat kehausan dan sedang berjalan mencari air untuk segera menghilangkan dahaganya. Tiba-tiba Wayung Hyang menemukan batok kelapa yang terisi air yang tidak lain adalah air kencingnya raja Sumbing Perbangkara. Wayung Hyang yang sangat begitu kehausan pun tanpa pikir panjang langsung meminumnya sampai habis. Wayung Hyang pun merasa lega meskipun rasa air tersebut terasa aneh karena yang terpenting baginya adalah rasa hausnya kini sudah hilang.

Singkat cerita, berapa waktu kemudian Wayung Hyang sangat begitu terkejut karena mendapati dirinya telah hamil, dia tidak percaya dengan hal ini karena dia begitu yakin tidak pernah berhubungan dengan siapapun selama berada di bumi. Wayung Hyang tidak menyadari bahwa itu adalah hasil dari dia meminum air dari batok kelapa yang merupakan air kencing seorang raja Sumbing Perbangkara yang terdapat kandungan sperma di dalamnya. Dan ini berarti bahwa anak yang berada dalam kandungan Wayung Hyang tidak lain dan tidak bukan adalah anak dari Sumbing Perbangkara.

Setelah berbulan-bulan mengandung, akhirnya Wayung Hyang pun melahirkan seorang anak perempuan yang sangat cantik. Bayi mungil itu pun dirawatnya dengan baik. Namun pada suatu hari Wayung Hyang mulai memikirkan nasib bayi tersebut jika terus tumbuh bersama dirinya yang hanya seekor babi hutan. Dengan penuh kerelaan Wayung Hyang akhirnya memutuskan untuk meninggalkan bayi tersebut di tengah hutan. Dia meletakan bayi cantik itu disebuah batu besar yang tersembunyi di balik semak-semak. Wayung Hyang pun berdoa agar bayi tersebut bisa ditemukan oleh seseorang yang baik hati.

Tidak butuh waktu lama, doa Wayung Hyang pun langsung terjawab. Raja Sumbing yang merupakan anak dari bayi malang tersebut mengajak Tumang untuk berburu kembali ke hutan dimana Wayung Hyang tinggal. Dengan penuh semangat, Tumang pun ikut bersama Sumbing. Di saat sedang fokus membidik buruannya di tengah hutan, konsentrasi Sumbing seketika terganggu dengan suara tangisan seorang bayi yang terdengar begitu keras. Sumbing dan Tumang yang sangat penasaran berjalan menuju arah suara tangisan bayi tersebut. Tiba di depan sebuah semak-semak, suara itu mulai terdengar lebih keras. Sumbing pun memerintahkan Tumang untuk segera memeriksa dibalik semak-semak tersebut. Setelah masuk kedalam semak-semak, Tumang begitu terkejut melihat sesosok bayi cantik yang terbaring diatas batu besar. Tumang pun segera menggonggong dengan keras, Sumbing langsung menyusul Tumang dan mendapati seorang bayi yang berada tepat dihadapan Tumang sedang menangis keras.

Karena tidak mengetahui keberadaan orang tua dari bayi tersebut, Raja Sumbing memutuskan untuk merawatnya hingga akhirnya di angkatlah anak tersebut menjadi putrinya yang diberi nama Dayang Sumbi. Bersama raja Sumbing, Dayang Sumbi tumbuh dewasa dan menjadi putri yang memiliki paras yang sangat cantik. Tidak ada satu orang pun yang bisa menyaingi kecantikan Dayang Sumbi, sehingga masyarakat sekitar kerajaan pun berlomba-lomba untuk mendapatkan hati Dayang Sumbi. Dari semua pria yang datang mendekat, tak ada satu pun yang berhasil memikat hati Dayang Sumbi.

Dayang sumbi yang memiiki kegemaran dalam menenun, berkeinginan untuk segera meninggalkan istana karena dia melihat masyarakat yang tidak pernah menyerah dalam berlomba untuk meminangnya, segala macam cara mereka lakukan untuk bersaing satu sama lain. Melihat hal ini, Dayang Sumbi pun khawatir akan terjadi pertumpahan darah terutama jika dia memutuskan untuk memilih salah satu di antara mereka. Dia pun bermohon kepada ayahnya raja Sumbing Perbangkara untuk segera mengasingkannya dengan memberikan tempat tinggal di tengah hutan. Naluri Wayung Hyang yang merupakan seekor babi hutan nampaknya turun ke Dayang Sumbi sehingga Dayang Sumbi sangat mendambakan kehidupan di dalam hutan.

LAHIRNYA SANGKURIANG

Raja Sumbing awalnya menolak keras permintaan Dayang Sumbi, namun akhirnya sang raja luluh setelah melihat Dayang Sumbi yang sangat bermohon kepadanya dengan berbagai alasan. Raja Sumbing pun membangun sebuah tempat tinggal sederhana di tengah hutan untuk Dayang Sumbi. Merasa khawatir dengan Dayang Sumbi yang tinggal sendirian di tengah hutan, sang raja pun dengan penuh kerelaan memerintahkan anjing kesayangannya, Tumang, untuk menemani Dayang Sumbi ditempat tinggal barunya. Tumang pun bersedia menerima perintah tersebut.

Pada suatu malam saat sedang menenun ditempat tinggal barunya, gulungan benang Dayang Sumbi tiba-tiba terjatuh hingga keluar dari jendela rumahnya. Dayang Sumbi yang sangat ingin melanjutkan kegiatan menenunnya sangat ingin mengambil gulungan benang tersebut, akan tetapi dia sangat takut karena sudah tengah malam, apalagi tempat tinggalnya tersebut berada tepat ditengah hutan. Dayang Sumbi pun bersumpah jika ada yang bisa mengambilkan benang itu untuknya, jika itu perempuan maka akan dijadikannya saudara. Sebaliknya jika orang itu laki-laki maka akan dijadikannya suami.

Tak lama berselang datanglah Tumang yang sudah diperintahkan Raja Sumbing untuk pergi menemani Dayang Sumbi. Melihat gulungan benang milik Dayang Sumbi yang jatuh, Tumang pun segera memungutnya dan menyerahkannya ke Dayang Sumbi. Dayang Sumbi begitu terkejut, akan tetapi dia merasa bahwa dirinya harus menepati sumpah yang telah dia ucapkan sebelumnya. Tidak ingin mengingkari sumpah tersebut, Dayang Sumbi pun mengatakan akan menjadikan Tuming sebagai suaminya meskipun Tuming adalah seekor anjing.

Tanpa disadari Dayang Sumbi, hal ini mendatangkan keajaiban. Tumang yang merupakan jelmaan dewa yang dihukum, tiba-tiba berubah ke wujud aslinya sebagai pemuda yang sangat tampan. Dayang Sumbi sangat terkejut, dan akhirnya Tumang pun menjelaskan dirinya yang sebenarnya adalah dewa yang dikutuk. Tumang dan Dayang Sumbi pun memutuskan untuk menikah secara diam-diam dan hidup bahagia bersama.

Kemanapun Dayang Sumbi pergi, selalu ditemani tumang dalam wujud seekor anjing. Tumang hanya bisa berubah wujud menjadi manusia ketika tengah malam saat bulan purnama. Setelah lama menjalani rumah tangga, Dayang Sumbi dan Tumang akhirnya dikaruniai seorang anak tampan. Dayang Sumbi pun memberikannya dengan nama Sangkuriang. Di tengah rasa cinta antara Tumang dan Dayang Sumbi, Sangkuriang tumbuh menjadi anak yang cerdas, tampan, serta hebat dalam berburu.

Setiap hari Sangkuriang selalu pergi kehutan untuk berburu bersama Tumang. Sangkuriang tidak menyadari bahwa Tumang seekor anjing yang selalu menemaninya adalah merupakan ayah kandungnya sendiri, hal ini masih dirahasiakan oleh Dayang Sumbi sebagai permintaan dari Tumang.

Hingga pada suatu hari Dayang Sumbi meminta anaknya Sangkuriang membawakannya hati rusa untuk mereka makan. Melihat ibunya yang saat itu benar-benar ingin makan hati rusa, Sangkuriang pun berjanji akan membawakannya untuk mereka makan. Dengan ditemani Tumang, Sangkuriang segera pergi menuju hutan dengan penuh semangat.

Setelah lama berburu ditengah hutan, Sangkuriang sudah mulai frustasi karena belum juga berhasil mendapatkan seekor rusa. Tiba-tiba dihadapannya, melintas seekor babi hutan yang tidak lain adalah Wayung Hyang, Tumang yang menyadari hal itu tidak mampu mencegah Sangkuriang yang dengan penuh emosi melepaskan busur panahnya dan tepat mengenai paha Wayung Hyang. Wayung Hyang yang terluka parah, berusaha menahan kesakitan dan tetap berlari terpincang-pincang. Sangkuriang pun memerintahkan Tumang untuk segera mengejar Wayung Hyang yang sudah tidak berdaya. Tumang yang mengetahui bahwa babi hutan itu adalah Wayung Hyang pun enggan memenuhi perintah Sangkuriang. Wayung Hyang pun berhasil melarikan diri, Sangkuriang yang sangat emosi membentak Tumang dan mengarahkan busur panah kearah Tumang. Karena sudah tersulut emosi, Sangkuriang pun tanpa sengaja melepaskan busur panah yang langsung menancap ke tubuh Tumang. Pada saat itu Tumang pun tewas seketika.

Sangkuriang sangat panik dan ketakutan melihat Tumang yang sudah tidak bernyawa. Dia pun memutuskan untuk mengambil hati anjing tersebut untuk dibawakan untuk ibunya yang sudah menunggu lama di rumah.

Tiba di rumah Sangkuriang segera menyerahkan hati kepada ibunya. Dayang Sumbi begitu bahagia dan langsung segera memasak hati tersebut. Pada saat sedang lahapnya menyantap makanan, Dayang Sumbi teringat kepada Tumang, dia pun menanyakannya kepada sangkuriang. Sangkuriang dengan ketakutannya akhirnya mengakui bahwa telah membunuh Tumang dan hati yang telah dia bawakan sebenarnya adalah hatinya tumang. Dayang Sumbing sangat terkejut dan langsung mencaci maki sangkuriang, dalam emosinya Dayang Sumbing pun langsung memberitahukan bahwa Tumang adalah ayah kandung Sangkuriang. Sangkuriang yang tidak percaya akan hal tersebut pun berusaha membentak ibunya. Karena sudah tidak tahan lagi, Dayang Sumbi pun melayangkan sendok nasi tepat di kepala sangkuriang hingga berdarah. Tak terima dengan perlakuan ibunya, Sangkuriang pun memutuskan untuk minggat dari rumahnya.

Dayang Sumbi begitu terpukul dengan keadaan yang harus dia hadapi, karena pada hari itu dia kehilangan dua orang yang sangat dia cintai. Dayang Sumbi sangat menyesal karena telah memukul Sangkuriang. Hingga bertahun-tahun Dayang Sumbi terus menunggu Sangkuriang, namun Sangkuriang tetap tidak juga pulang ke rumah. Dia pun berdoa diberikan umur yang panjang agar bisa bertemu lagi dengan Sangkuriang suatu saat nanti. Doa Dayang Sumbi pun terjawab, dia diberikan kecantikan yang abadi sehingga tetap awet muda walaupun umurnya sudah mulai memasuki usia senja.

Dalam pengembaraannya, Sangkuriang bertemu dengan seorang kakek yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Kakek itu pun merawat Sangkuriang hingga tumbuh dewasa dan diberi nama Jaka. Suatu hari Sangkuriang yang sudah berganti nama menjadi Jaka tersebut berpamitan kepada kakek tersebut untuk kembali ke kampung halamannya. Sebelum sangkuriang pergi, kakek tersebut membekali dirinya dengan ilmu yang sangat tinggi. Sehingga Sangkuriang pun menjadi pemuda yang hebat dan memiliki ilmu tinggi dan mempunyai kemampuan memanggil serta memerintah jin.

Pada saat kembali ke kampung halamannya, Sangkuriang begitu terkejut melihat tempat tinggalnya yang dahulunya adalah hutan belantara kini sudah menjadi daerah yang ramai dan maju. Dia pun sudah tidak bisa mengenal rumahnya lagi, karena di daerah itu sudah banyak rumah yang dibangun.

Suatu hari Sangkuriang bertemu dengan seorang wanita yang sangat cantik yang tidak lain adalah ibunya sendiri. Mereka pun saling jatuh cinta, Dayang Sumbi tidak menyadari bahwa Jaka adalah Sangkuriang yang merupakan anaknya sendiri. Hingga pada suatu hari saat Sangkuriang ingin pergi memburu, Dayang Sumbi memperbaiki ikat kepala Sangkuriang. Betapa terkejutnya Dayang Sumbi mendapati bekas luka pada kepala Sangkuriang. Dia pun menanyakan bekas luka tersebut. Mendengar penjelasan Sangkuriang, Dayang Sumbi pun yakin bahwa Jaka adalah Sangkuriang, anak kandungnya sendiri yang sudah lama pergi meninggalkannya.

ASAL MULA GUNUNG TANGKUBAN PERAHU

Segala cara dilakukan Dayang Sumbi untuk meyakinkan Sangkuriang bahwa dirinya adalah ibu kandungnya sendiri yang tidak mungkin bisa dinikahinya. Melihat Sangkuriang yang tetap bersikeras ingin menikahinya, Dayang Sumbi pun memberikan Sangkuriang sebuah persyaratan yang berat agar bisa menikahinya, yakni dengan membuat sebuah perahu besar serta membendung aliran sungai hingga menjadi sebuah danau hanya dalam waktu satu malam. Yakin dengan kemampuan yang dimilikinya, Sangkuriang pun bersedia memenuhi persyaratan yang diajukan oleh Dayang Sumbi.

Pada saat malam tiba, Sangkuriang pun segera mengerahkan jin untuk membantunya. Dalam waktu cepat Sangkuriang beserta jin-jinnya sudah hampir menyelesaikan perahu besar serta membendung aliran sungai sehingga hampir menjadi sebuah danau. Dayang Sumbi pun diam-diam mengawasi pekerjaan Sangkuriang. Dayang Sumbi sangat terkejut melihat kemampuan Sangkuriang yang sudah hampir menyelesaikan pekerjaannya. Melihat hal itu Dayang Sumbi pun panik, dia segera meminta bantuan kepada masyarakat sekitar untuk membentangkan kain merah buatannya yang sangat besar dari arah timur. Keajaiban pun muncul, kain merah tersebut memancarkan cahaya layaknya matahari yang akan terbit. Mengetahui bahwa waktunya sudah habis, Sangkuriang pun menghentikan pekerjaannya yang hampir selesai, jin-jinnya pun segera menghilang karena akan datang fajar.

Emosi karena gagal memenuhi persyaratan Dayang Sumbi, Sangkuriang pun menghancurkan bendungan yang telah dia buat hingga menumpahkan seluruh air sungai ke daerah penduduk dan menyebabkan banjir yang sangat besar. Tidak hanya itu saja, Sangkuriang juga menendang perahu raksasa yang hampir selesai hingga melayang di udara dan jatuh dengan posisi terbalik. Perahu tersebut langsung berubah menjadi sebuah gunung yang dinamakan gunung Tangkuban Perahu, yang memiliki arti “perahu terbalik”.

Itulah kisah sangkuriang yang sangat melegenda di Jawa Barat.

Video Cerita Rakyat Sangkuriang dan Asal usul Tangkuban Perahu

Demikian lah dongeng sangkuriang cerita terjadinya gunung tangkuban perahu. Semoga bermanfaat.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.