2 Cerita Rakyat Nusa Tenggara Timur | Cerita Rakyat Nusantara

 

1. Cerita Rakyat Suri Ikun dan Dua Burung

Alkisah diceritakan, pada zaman dahulu di Pulau Timor hiduplah sepasang suami-isteri petani dengan empat belas orang anaknya yang terdiri dari tujuh orang laki-laki dan tujuh orang perempuan. Walau mereka memiliki kebun yang luas, namun hasil dari kebun tersebut selalu tidak pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh anggota keluarga. Hal ini bukan karena jumlah anggota keluarga yang terlalu banyak, melainkan karena tanaman ladang mereka sering dirusak oleh seekor babi hutan besar.

Untuk mengatasi gangguan babi hutan yang dianggap sebagai hama, sang petani menugaskan pada anak-anaknya yang laki-laki untuk bergiliran menjaga kebun. Namun, dari ketujuh orang anak laki-laki tersebut hanya Suri Ikun yang paling berani. Sedangkan saudara-saudaranya yang lain, baru mendengar suara dengusan sang babi hutan saja mereka langsung lari lintang pukang meninggalkan ladang.

Singkat cerita, suatu hari saat mendapat giliran menjaga kebun Suri Ikun berhasil memanah hewan itu hingga mati. Ia lalu membawanya ke rumah untuk dimasak. Sesampai di rumah, saudaranya yang paling tua diberi tanggung jawab oleh ayahnya untuk membagian daging hewan itu secara merata kepada seluruh anggota keluarga. Tetapi karena si sulung merasa iri dan dengki kepada Suri Ikun, maka ia hanya memberinya bagian kepada dari hewan itu yang sudah tentu tidak banyak dagingnya.

Tidak hanya itu, ia pun menyuruh Suri Ikun bersamanya mencari gerinda milik ayah meraka yang tertinggal di hutan. Waktu itu hari sudah menjelang malam. Dengan perasaan takut Suri Ikun berjalan mengikuti kakaknya. Di tengah perjalanan secara tidak sadar ia mengambil jalan yang berlainan arah. Makin lama ia pun makin masuk ke tengah hutan. Dan setelah tersadar, ia lalu memanggil-manggil kakaknya. Tetapi suara panggilan Suri Ikun bukan dijawab kakaknya melainkan oleh para hantu jahat yang berdiam di dalam hutan. Mereka sengaja menyesatkan Suri Ikun.

Tidak lama kemudian, mereka menangkap Suri Ikun. Ia lalu di kurung dalam sebuah gua yang gelap gulita. Hanya ada sebuah celah sempit tempat sinar matahari dapat masuk. Dari celah tersebut Suri Ikun melihat ada dua ekor anak burung yang sedang kelaparan. Ia lalu melemparkan makanannya ke arah mereka. Lama-kelamaan kedua burung itu tumbuh menjadi burung dewasa yang sangat besar dan kuat.

Dan sebagai ungkapan rasa terima kasih, kedua burung itu lalu membebaskan Suri Ikun dari sekapan para hantu. Tidak itu saja, secara gaib mereka lantas membuatkan sebuah istana yang lengkap dengan para pengawal dan pelayannya. Disanalah untuk selanjutnya Suri Ikun hidup berbahagia.

2. Cerita Rakyat Legenda Bukit Fafinesu

Di sebelah utara Kota Famenanu, Kabupaten Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur terdapat sebuah bukit bernama Fafinesu yang berarti Bukit Babi Gemuk. Ada suatu kisah menarik yang melatarbelakangi penamaan bukit itu. Kisahnya adalah sebagai berikut.

Pada zaman dahulu kala di pedalaman Pulau Timor ada tiga orang adik-beradik bernama Saku, Abatan, dan Seko. Mereka hidup dan tinggal bersama dengan kerabat ibunya, sebab Ayah dan ibu mereka telah tiada. Ayah ketiga orang ini meninggal dunia karena terjatuh ke jurang ketika sedang berburu babi hutan. Tujuh bulan kemudian Sang Ibu juga meninggal dunia karena kehabisan darah ketika sedang melahirkan Si Bungsu, Seko. Hal ini diperparah lagi ketika nenek yang mengasuh mereka juga ikut meninggal dunia karena dimakan usia ketka Si Bungsu baru berumur dua tahun.

Waktu pun berlalu. Walau hidup serba kekurangan, mereka senantasa rukun dan bahagia. Abatan tumbuh menjadi seorang remaja yang rajin dan cerdas. Ia sering menanam jagung dan ketela di ladang, mencari kayu bakar di hutan, dan memasak untuk kakak dan adiknya. Si Bungsu pun yang telah berumur lima tahun dan menjadi seorang anak yang penurut. Ia sudah dapat membedakan mana yang baik dan buruk sehingga kakak-kakaknya semakin bahagia.

Namun di tengah suasana yang rukun dan damai tersebut, suatu malam Si Bungsu tidak dapat memejamkan matanya. Tiba-tiba saja hatinya merasa rindu kepada kedua orang tuanya, sebab sejak bayi tidak pernah merasakan belaian kasih sayang dari ayah ibunya. Ia lalu menghampiri kakak sulungnya dan bertanya, “Kak Saku, ke manakah ayah dan ibu pergi? Kenapa mereka tidak pernah datang kemari?”

Karena tidak ingin membuat Si Bungsu bersedih, maka Saku menjawab, “Ayah dan ibu sedang pergi jauh, Adikku!. Suatu saat mereka akan pulang membawa makanan yang lezat-lezat untuk kita.”

Dongengan Saku ternyata membuat hati Si Bungsu menjadi tenteram kembali. Ia akhirnya tertidur pulas di samping kakaknya. Tetapi kini giliran Si Saku yang tidak dapat memejamkan mata karena sedih melihat Si Bungsu yang tidak pernah sekalipun bertemu orang tuanya. Ia lalu mengambil serulingnya dan berjalan ke arah bukit yang tidak jauh dari tempat tinggal mereka.

Sesampai di atas bukit, sambil menangis dan memandang langit ia pun berkata, “Ayah, Ibu! Kami sangat merindukan kalian. Mengapa begitu cepat kalian meninggalkan kami.”

Kemudian, ia mulai meniup seluring sambil sambil menyanyikan lagu kesukaannya.

Ama ma aim honi (Ayah dan Ibu)
Kios man ho an honi (Lihatlah anakmu yang datang)
Nem nek han a amnaut (Membawa setumpuk kerinduan)
Masi ho mu lo’o (Walau kamu jauh)
Au fe toit nek amanekat (Aku butuh sentuhan kasihmu)
Masi hom naoben me au toit (Walau kalian teah tiada, aku minta)
Ha ho mumaof kau ma hanik kau (Supaya Ayah dan Ibu melindungi dan memberi rezeki)

Saat sedang menghayat lagu tersebut, tanpa sepengetahuannya kedua roh orang tuanya turun dari langit. Melalui angin malam, roh Sang Ayah berkata, “Anakku, aku dan ibumu mendengarmu. Meskipun kta berada di dunia yang berbeda, kami akan selalu bersama kalian.”

Saku menjadi terperangah. Ia tidak tahu dari mana datangnya suara itu. Namun, sebelum sempat pulih dari keterkejutannya, tiba-tiba suara gaib itu terdengar lagi.

“Anakku, esok hari sebelum ayam berkokok ajaklah adik-adikmu menemui kami di tempat ini. Selain itu, engkau juga harus membawa seekor ayam jantan merah untuk dijadikan kurban!”

Singkat cerita, keesokan harinya ia pun menceritakan kejadian yang dialaminya semalam kepada adik-adiknya. Betapa gembiranya hati Si Bungsu mendengar cerita Si Saku. Ia sudah tidak sabar lagi ingin segera bertemu dengan kedua orangtuanya yang selama ini dirindukan.

Tepat tengah malam Saku bersama kedua adiknya berangkat menuju ke puncak bukit sambil membawa seekor ayam jantan merah pesanan kedua orang tua mereka. Setelah mereka tiba di puncak bukit, tiba-tiba angin bertiup kencang yang membuat pepohonan di sekitarnya meliuk-liuk seperti sedang menari.

Begitu tiupan angin berhenti, tiba-tba terlihat dua sosok bayangan berjalan menghampiri mereka.

“Ayah, Ibu!” seru Saku dan Abatan saat melihat bayangan itu.

Mengerti bahwa kedua sosok itu adalah orangtuanya, Si Bungsu segera berlari ke salah satu sosok dan memeluknya erat-erat sambil berkata, “Ibu, saya sangat merindukanmu.”

“Kami juga sangat merindukanmu,” jawab Sang Ibu singkat.

Kemudian Sang Ayah membawa isteri dan ketiga anaknya menuju ke dasar jurang. Sesampainya di sana, ia lalu menyuruh Si Seko untuk segera menyembelih ayam jantan merah yang dibawanya. Saat darah ayam itu menyentuh bumi, tiba-tiba ada dua ekor babi yang gemuk muncul di tengah-tengah mereka. Mereka segera mendekati kedua ekor babi tersebut dan mengelus-elusnya.

Selang beberapa menit kemudian ayam jantan mulai berkokok yang menandai datangnya pagi. Pada saat yang bersamaan bayangan kedua orang tua mereka tiba-tiba memudar dan akhirnya lenyap. Menyadari bahwa hari telah pagi ketiga bersaudara tersebut segera mengiring babi pemberian orang tua mereka menuruni bukit menuju ke rumah. Dan, mulai sejak saat itu mereka pun mulai memelihara babi untuk diternakkan. Selain itu, untuk mengenang peristiwa pertemuan tersebut mereka kemudan menamakan bukit itu dengan nama Bukit Fafinesu yang berarti Bukit Babi Gemuk.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.