4 Cerita Rakyat Nusa Tenggara Barat | Cerita Rakyat Nusantara

Halo Kawan, dalam artikel kali ini kami akan menyampaikan sebuah cerita rakyat yang berasal dari Nusa Tenggara Barat yang mungkin Anda belum pernah mendengarnya. Yuk simak selengkapnya.

1. Cerita Rakyat Bangau dan Kera

Alkisah, ada seekor burung bangau dan seekor kera hidup di dalam sebuah hutan. Sejak lama mereka bersahabat. Namun persahabatan mereka tidak bersifat resiprositas atau timbal balik yang saling menguntungkan. Dalam hal ini, Kera hanya sekadar memanfaatkan burung bangau untuk kepentingan dirinya sendiri.

Burung Bangau sering sekali membantu Kera mencari kutu-kutu yang menempel di bulunya. Selain itu, bila mereka ingin bepergian Sang Burung Bangau selalu terbang membawa Kera di punggungnya. Sementara Kera sendiri hanya duduk manis sambil melihat pemandangan alam yang ada dibawahnya. Begitulah bentuk persahabatan yang dijalin keduanya yang selalu menguntungkan Sang Kera.

Bahkan pernah suatu hari Kera bekerja sama dengan Bangau untuk menangkap ikan di sebuah kolam. Dengan susah payah Sang Bangau mencari dan menangkap ikan yang ada di kolam tersebut, sedangkan Sang Kera hanya duduk sambil mengumpulkan hasil tangkapan Bangau. Selesai penangkapan hasilnya dibagi dua. Padahal, sebelumnya Sang Kera telah menyembunyikan sebagian hasil tangkapan Sang Bangau, sehingga ketika dibagi dua hasilnya menjadi lebih sedikit lagi.

Kelakuan licik Sang Kera tersebut dilakukan beberapa kali sampai akhirnya kesabaran Sang Bangau habis. Hal ini terjadi ketika Sang Kera mengajaknya pergi ke Pulau Medang yang terkenal akan buah sawonya. Oleh karena Sang Bangau tidak makan buah sawo, Kera pun memperdayainya dengan mengatakan bahwa di pulau tersebut banyak terdapat belalang dan katak yang merupakan makanan kesukaan Sang Bangau.

Tergiur oleh rayuan Kera, Sang Bangau segera menyetujuinya. Padahal, jarak yang harus ditempuh menuju Pulau Medang lumayan jauh. Di sepanjang perjalanan, Kera selalu saja mengajak Sang Bangau Berbicara.

“Bangau sahabatku,” kata Sang Kera. “Nanti setelah sampai di Pulau Medang aku akan membuat perahu. Jadi, engkau tidak perlu lagi membawaku terbang. Kita dapat menaiki perahu bersama-sama.”

“Apakah engkau pandai membuat perahu?” tanya Sang Bangau dengan nada tidak percaya.

“Aku pernah pergi ke negeri orang-orang yang pandai membuat perahu. Tetapi saat ini aku hanya bisa membuat perahu dari bahan tanah liat. Nanti tolong bantu aku mengumpulkan tanah liatnya,” kata Sang Kera.

Setelah sekian lama terbang, barulah tampak Pulau Medang yang menghijau dari kejauhan. Sang Kera yang hanya duduk santai di atas punggung Bangau segera saja membayangkan buah-buah sawo matang yang harum serta manis rasanya.

“Cepatlah sahabatku, kita sudah hampir sampai,” kata Kera tidak sabar.

Namun apalah daya, Sang Bangau sudah tidak mampu terbang cepat lagi karena kelelahan akibat perjalanan jauh serta selalu diajak bercakap-cakap oleh Kera yang duduk dipunggungnya. Tetapi, dengan sisa tenaga yang dimilikinya akhirnya mereka sampai juga di pantai Pulau Medang. Mereka beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke tengah pulau untuk mencari “katak dan belalang”, seperti yang diceritakan Sang Kera. Padahal, tujuan sebenarnya adalah menemukan pepohonan sawo yang tengah musim berbuah.

Setelah sampai di tengah pulau yang dipenuhi pepohonan sawo, Sang Kera langsung memanjat salah satunya dan memakan buah-buah sawo matang yang bergelantungan. Ketika pohon sawo yang dipanjatnya sudah mulai habis buahnya, dia lalu meloncat ke pohon lain untuk mengambil sawo matang lainnya. Begitu seterusnya hingga perutnya kembung dan tertidur karena kekenyangan.

Sementara Sang Bangau yang masih kelelahan hanya menunggu di bawahnya sambil memperhatikan sekelilingnya kalau ada katak atau belalang lewat. Maklum, selain lelah, perut Sang Bangau juga lapar seperti Kera. Tetapi makanannya bukanlah buah sawo, melainkan katak, belalang, dan berbagai macam jenis serangga lainnya. Sayangnya, makanan “pokok” Sang Bangau tersebut ternyata tidak ada, sehingga dia pun lantas membangunkan Sang Kera yang sedang tertidur pulas di atas pohon.

“Hai Kera sahabatku, di bagian mana dari pulau ini yang banyak terdapat katak dan belalang seperti yang engkau katakan sebelum kita berangkat?” tanya Sang Bangau agak sedikit kesal.

“Dahulu di tempat ini banyak sekali terdapat katak dan belalang. Mungkin mereka sedang bersembunyi atau telah pindah di bagian lain dari pulau ini,” kata Kera berbohong.

“Kalau sampai besok tidak juga ada katak atau belalang aku akan pulang,” kata Sang Bangau mengancam. “Engkau tinggal saja di sini karena makananmu berlimpah.”

“Janganlah engkau begitu, sahabatku,” kata kera merajuk. “Manalah mungkin aku hidup sendirian di sini.”

“lalu aku harus makan apa?” tanya Sang Bangau sambil mendongkol.

Setelah berpikir sejenak akhirnya Sang Kera berkata, “Baiklah kalau itu maumu. Besok pagi aku akan ikut pulang denganmu.”

“Tubuhku masih lemah karena belum mendapat makanan. Jadi, mana mungkin aku membawamu terbang,” kata Sang Bangau bertambah kesal.

“Kalau begitu tunggu saja sampai kekuatanmu pulih lalu kita pulang,” kata Kera membujuk.

“Aku bisa mati kelaparan jika harus menunggumu. Lagi pula, engkau kan pandai membuat perahu? Jadi, buatlah perahu sendiri sehingga engkau bisa tinggal lebih lama dan puas memakan seluruh buah yang ada di sini,” jawab Sang Bangau.

Sang Kera terperanjat karena cerita bohongnya ternyata diingat oleh Sang Bangau. Oleh karena itu, dia lalu berkata, “aku memang pandai membuat perahu. Tetapi untuk mengumpulkan tanah liat sebagai bahan pembuatnya tidaklah mungkin dapat kukerjakan sendirian. Aku membutuhkan bantuanmu, wahai saudaraku.”

Bujukan Sang Kera ternyata ampuh memengaruhi pendirian bangau, sehingga dia rela membantu Kera mengumpulkan tanah liat sebagai bahan pembuat perahu. Selain itu, Bangau juga berpikir kalau pulang menggunakan perahu pasti akan lebih meringankan bebannya karena tidak harus terbang untuk pulang ke rumah.

Singkat cerita, perahu tanah liat rancangan Sang Kera pun jadi. Secara perlahan-lahan mereka mendorongnya ke laut untuk berlayar pulang. Di tengah perjalanan sesekali perahu diterjang ombak kecil. Tentu saja hal ini membuat nyali Kera menjadi ciut dan wajahnya pucat pasi karena takut perahunya hancur. Sebaliknya, Sang Bangau malah bernyanyi riang, “Curcur humat, curcur humat, bila hancur saya selamat, bila hancur saya selamat.”

Nyanyian Sang Bangau itu ternyata menjadi kenyataan. Ketika perahu hampir mencapai daratan Pulau Sumbawa, secara tiba-tiba datanglah badai disertai guntur dan hujan lebat. Ombak lautan pun menjelma menjadi gulungan-gulungan raksasa yang dalam waktu singkat berhasil memecahkan perahu tanah liat buatan Kera.

Melihat perahu hancur berantakan, Sang Bangau langsung mengepakkan sayapnya dan terbang menuju Pulau Sumbawa yang telah tampak di ujung cakrawala. Sementara Sang Kera yang tidak bisa terbang, berusaha menggapai sisa-sisa sisa tanah liat bekas perahu buatannya untuk dijadikan pelampung. Namun, karena hanya terbuat dari tanah liat, dalam sekejap sisa-sisa perahu itu akhirnya larut dengan air laut. Sang Kera yang tidak begitu pandai berenang, secara perlahan-lahan tenggelam dan mati ditelan ombak yang mengganas.

2. Cerita Rakyat Legenda Makam Embung Puntiq

Alkisah, pada suatu desa yang bernama Bayan, tinggallah sebuah keluarga. Sang ayah bernama Panji Bayan Ullah Petung Bayan, sedangkan anaknya bernama Panji Bayan Sangge. Suatu hari tatkala Panji Bayan Sangge masih kanak-kanak, entah karena apa, ia pergi meninggalkan desa kelahirannya untuk mengembara.

Setelah melewati berbagai lembah dan bukit, akhirnya Panji Bayan Sangge tiba di sebuah daerah yang bernama Batu Dendeng. Hutang memang harus dibayar, takdir juga harus dijalani. Singkat cerita, di Batu Dendeng Panji Bayan Sangge dijadikan anak angkat oleh sepasang suami-isteri yang tidak mempunyai anak, bernama Inaq Bangkol dan Amaq Bangkol. Ia dianggap dan diperlakukan seperti anak kandungnya sendiri. Ia tidak merasakan kejanggalan apapun juga. Inaq dan Amaq Bangkol dianggap sebagai orang tuanya sendiri. Mereka saling mengasihi, mencintai dan pada segi-segi tertentu saling menghormati. Hari berganti minggu, bulan demi bulan datang silih berganti, tahun demi tahun menyusul, akhirnya Panji Payan Sangge meningkat dewasa. Ia telah menjadi seorang pemuda.

Pada suatu hari ia mengemukakan niatnya kepada Inaq Bangkol untuk menggarap sebuah ladang. Setelah membuat petak ladang dan memagarinya, maka oleh Inaq Bangkol diberikan beberapa bibit tanaman seperti: jagung, berbagai jenis kacang, gandum dan lain-lain tanaman yang pantas atau cocok untuk di taman di ladang.

Demikianlah, setelah beberapa waktu bibit yang diberikan oleh Inaq Bangkol ditanam, bibit-bibit itu tumbuh dengan suburnya. Panji Bayan Sangge merasa sangat gembira. Ia semakin giat mengurus ladang.

Beberapa minggu kemudian, pemandangan pada ladang itu telah berwarna-warni oleh berbagai jenis bunga. Tampaknya tak lama lagi semua tanaman akan berbuah. Itu berarti semua pengorbanan dan jerih payah Panji Bayan Sangge tidak akan sia-sia.

Namun seperti kata pepatah, untung tak dapat diraih dan malang pun tak dapat ditolak. Pada suatu pagi yang cerah ketika Panji Bayan Sangge mendatangi ladangnya, ia menjadi terkejut bukan main. Semua bunga yang pada senja hari kemarin masih baik dan utuh, sekarang musnah semuanya. Panji Bayan Sangge segera pulang ke rumah dan menceritakan semua yang dilihat kepada ibunya.

“Ibu, tadi pagi ketika ananda ke ladang, semua bunga tanaman itu telah hilang. Kalau dikatakan itu adalah perbuatan babi atau kera, rasanya tak mungkin. Karena tak satu pun tangkainya yang patah. Karena itu ananda bermaksud untuk mengadakan pengintaian. Barangkali ada tangan-tangan jahil yang sengaja merusak tanaman kita.”

“Baik, bunda setuju dengan rencana itu. Jagalah dirimu baik-baik dan jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan. Bertindaklah dengan jujur dan tidak boleh berbuat kasar kepada siapapun. Segala persoalan pasti dapat diselesaikan dengan baik. Dengar dan perhatikan nasihat bunda ini.” Demikian kata-kata Inaq Bangkol kepada Panji Bayan Sangge sesaat sebelum berangkat ke ladang.

Pada malam harinya Panji Bayan Sangge mulai melakukan pengintaian. Dengan cermat ia mengawasi ladangnya. Semua sudut ladang tak lepas dari perhatiannya. Namun, sudah hampir semalam suntuk tak ada sesuatu pun yang mencurigakan. Hening, sepi, tak ada sesuatu atau seseorang yang mendatangi ladangnya.

Saat menjelang fajar, ketika Panji Bayan Sangge sedang bergulat dengan hebatnya menahan kantuk, tiba-tiba dari jurusan yang tak dapat dilihatnya, sembilan orang bidadari turun dari langit dan dengan asyiknya mengisap dan merusak bunga tanaman itu. Pengisapan dan perusakan bunga terus dilakukan dari satu pohon ke pohon yang lain. Melihat tingkah bidadari itu hati Panji Bayan Sangge menjadi gemas.

“Akan kuapakan perempuan-perempuan yang merusak tanamanku ini? Bila aku biarkan pasti bunga-bunga ini akan habis. Apakah hasilku nanti? Ah, lebih baik kutangkap saja barang seorang,” pikirnya. Dengan sigap, Panji Bayan Sangge menangkap salah seorang dari bidadari itu. Sang bidadari mengadakan perlawanan sekuat tenaga. Namun apa daya, Panji Bayan Sangge memiliki tenaga yang jauh lebih besar. Melihat peristiwa yang tak diinginkan itu, bidadari yang lain menjadi ketakutan dan melarikan diri. Panji Bayan Sangge segera membawa bidadari yang tertangkap itu pulang ke rumahnya.

Setelah tiba di rumah, ia mencari dan memberitahu Inaq Bangkol, “Ibu, dialah yang merusak tanaman kita di ladang. Hukuman apakah yang akan kita berikan kepadanya?”

“Anakku, bila bidadari ini merusak tanaman kita di ladang, ibu hanya berdoa, memohon kepada Yang Maha Kuasa, semoga ananda dijodohkan dengan dia, janganlah dihukum. Dia akan kujadikan anak dan juga menantu. Terjadinya peristiwa ini, hanyalah merupakan takdir semata. Terimalah dengan penuh tawakkal. Semoga kebahagiaan senantiasa meliputi kalian.”

Singkat cerita, Panji Bayan Sangge pun akhirnya mengawini bidadari itu. Tetapi selama berumah tangga, mereka tak pernah berbicara. Demikianlah, kehidupan mereka berlangsung beberapa lama sampai mereka memperoleh seorang anak.

Karena telah lama kawin, namun tidak pernah mendengar satu patah kata pun dari isterinya, Panji Bayan Sangge menjadi penasaran. Berbagai akal telah dicoba agar isterinya mau berbicara. Dan, sebab-sebabnya pun selalu diselidiki, mengapa ia membisu. Satu hal yang selalu menarik perhatian Panji Bayan Sangge, ialah apabila isterinya akan mengambil air ke sumur. Sebelum berangkat ia selalu masuk ke dalam rumah. Setelah itu barulah pergi ke sumur. Apa gerangan maksudnya? Ada apa di dalam rumah? Hal inilah yang ingin diketahui oleh Panji Bayan Sangge. Barangkali dengan mengetahui latar belakang peristiwa ini dia akan dapat mengetahui mengapa isterinya selalu membisu.

Pada suatu hari ketika selesai makan dan segala-galanya sudah dikembalikan ke tempatnya, ia memperhatikan apa yang akan dilakukan oleh isterinya. Benar juga. Isterinya masuk ke dalam rumah. Tak berapa lama, lalu keluar lagi dan pergi mengambil air ke sumur. Setelah diperkirakan isterinya sampai di sumur, yang letaknya agak jauh dari rumah itu, Panji Bayan Sangge masuk ke dalam rumah.

Setelah beberapa lama memperhatikan apa yang ada di dalam rumah, perhatian Panji Bayan Sangge tertuju kepada segulungan tikar. Ia segera membuka gulungan tikar itu. Dan apa yang didapatinya? Ia menemukan sebuah selendang yang tergulung dan sengaja disembunyikan di tempat itu. Selendang itu bernama Lempot Umbaq yang tak pernah dilepaskan oleh isterinya, kecuali pada waktu mengambil air. “Ada apa dengan selendang ini?” demikian pikirannya.

Dia yakin bahwa selendang itu sangat besar artinya bagi isterinya. “Kalau selendang ini kusembunyikan mustahil, isteriku tak akan menanyakannya. Dalam kesempatan itulah nanti aku akan berbicara dengannya.”

Maka, Lempot Umbaq itu disembunyikan di tempat lain. Setelah itu, Panji Bayan Sangge berpura-pura sibuk dengan pekerjaannya. Beberapa saat kemudian isterinya kembali dari sumur. Panji Bayan Sangge memperhatikan terus secara diam-diam apa yang akan dilakukannya. Setelah air ditaruh pada tempatnya, isterinya segera naik ke dalam rumah. Bukan main terkejutnya bidadari itu, karena Lempot Umbaq yang tadi ditaruh di bawah gulungan tikar sudah tak ada lagi di tempatnya. Ia tertegun dan berpikir sejenak. Kemudian, ia mencari ke setiap sudut di dalam rumah itu. Namun yang dicari tidak ditemukan.

Ia lalu keluar rumah. Dengan liar serta pandangan tajam ia terus mencari. Air matanya sudah tak dapat ditahan lagi. Ia mencari sambil menangis. Melihat itu, Panji Bayan Sangge mendekat sambil menegur isterinya, “Apa yang sedang kau cari isteriku? Bolahkah aku mengetahuinya? Barangkali aku dapat membantumu.”

Isterinya diam. Tak ada jawaban. Sikapnya tetap seperti sedia kala. Namun Panji Bayan Sangge tak berputus asa. Ia bertanya lagi, “Cobalah katakan apa yang sedang kau cari isteriku! Mungkin aku dapat menolongmu. Atau mungkin tak percaya pada diriku?”

Kali ini pun isterinya masih tetap membisu seribu bahasa. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya, hanya air mata yang terus mengalir. Panji Bayan Sangge bertanya lagi, “Telah beberapa kali kukatakan padamu. Katakanlah dengan sebenarnya, apakah yang sedang kau cari. Aku bersedia membantumu untuk menemukan kembali.”

Pada saat itulah isterinya menjawab dengan singkat. Dia hanya mengatakan “Lempot Umbaq”. Setelah berkata demikian, ia seketika menghilang tanpa bekas. Semua berlangsung dalam hitungan detik. Tak ada yang mengetahui ke mana perginya.

Kejadian itu membuat Panji Bayan Sangge menjadi bingung. Ia bingung memikirkan nasib isterinya yang tiba-tiba menghilang. Demikian pula nasib bayi yang ditinggalkan. Tidak terpikir olehnya ke mana harus disusukan. Dan, ke mana pula ia harus mencari dan meminta bantuan. Ia menunggu hingga tujuh hari, tetapi isterinya tidak muncul juga. Akhirnya ia berkata dalam hati, “Ah, bila aku hanya berpangku tangan, tak mungkin isteriku kembali. Dan anakku pasti akan mati. Lebih baik aku mencari upaya, supaya isteriku dapat kubawa kembali.”

Setelah berpikir lama, akhirnya Panji Bayan Sangge memutuskan untuk meninggalkan rumah dan mencari isterinya. Kepada Inaq Bangkol, ia berkata, “Ibu, sekarang ananda akan menyerahkan anakku ini kepada ibu. Ananda akan mencari upaya, agar isteriku dapat kubawa kembali. Entah ke mana ananda belum tahu dengan pasti. Mungkin berhasil, mungkin pula tidak. Ananda pasrahkan kepada Yang Maha Kuasa. Tetapi kelak bila anak ini dewasa, sedangkan ananda tak kembali, beritahukanlah siapa orang tuanya yang sebenarnya. Oleh karena itu doa restu ibu sangat ananda harapkan.”

Mendengar keinginan anak angkatnya itu, Inaq bangkol sangat terkejut dan bersedih hati. Ia sayang kepada anaknya, terlebih-lebih cucu angkatnya yang masih bayi itu. Namun, untuk menghalangi maksud Panji Bayan Sangge rasanya tidak mungkin lagi. Dengan perasaan berat ia melepaskannya sambil memanjatkan doa ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa semoga anaknya tetap dalam lindungan dan maksud perjalanannya dapat tercapai.

Setelah ditinggalkan, Inaq Bangkol merasa sedih. Selain itu, ia pun bingung tak tahu harus berbuat apa untuk menyusui cucunya. Ketika Inaq Bangkol sedang kebingungan itu, tiba-tiba ia mendengar suatu suara. “Hai, Inaq Bangkol, bila kamu ingin melihat cucumu itu selamat dan dapat menyusu pada dirimu sendiri, aku akan memberi petunjuk yang harus kau patuhi. Ambil dan gosokkan sekujur tubuhmu dengan daun ini. Sesudah itu peras dan minumlah airnya.”

Mendengar suara itu Inaq Bangkol segera mengambil daun yang tiba-tiba jatuh di hadapannya dan melaksanakan petunjuk dari suara gaib yang telah didengarnya. Dan, Air susu segera memancar dari kedua payudaranya. Akhirnya, sang cucu sudah dapat minum air susu kembali.

Sementara itu, Panji Bayan Sangge yang sedang dalam usaha mencari isterinya, telah lama berjalan dan terus berjalan tanpa suatu arah yang pasti sampai akhirnya ia berada di tengah-tengah hutan. Di hutan itu Panji Bayan Sangge kemudian duduk bersila untuk bersemedi. Setelah beberapa lama bersemedi, tiba-tiba ia mendengar suara gaib. “Hai, Panji Bayan Sangge, kalau kamu akan mencari isterimu kamu harus mempersiapkan syaratnya. Kamu harus mendapatkan merang yang berasal dari ketan hitam. Merang ini harus kamu bakar di atas sebuah batu. Sewaktu asapnya mengepul ke udara, lompatilah merang itu. Maka kamu akan menjumpai isterimu. Tetapi jangan kau bingung bila berhadapan dengan banyak perempuan yang rupanya sangat mirip dengan isterimu. Oleh karena itu, kamu kuberikan seekor lalat emas yang ditaruh di dalam sebuah kota emas pula. Kalau kesulitan dalam menentukan yang mana isterimu, lepaskanlah lalat ini. Di mana lalat ini hinggap dan tidak berpindah lagi, itulah isterimu.”

Setelah suara itu hilang, ia sadar kembali dan pikirannya dapat dipulihkan. Ketika itu ia pun segera mencari dan menyiapkan merang ketan hitam yang diperlukan sebagai syarat untuk bertemu dengan isterinya. Dengan tidak membuang waktu lagi, ia pun menaiki sebuah batu besar dan dibakarnyalah merang ketan hitam itu. Saat asap merang mulai mengepul ke udara, ia pun melompat. Dan, ketika berada di tengah-tengah asap, seketika itu juga ia membumbung tinggi ke udara, menuju suatu tempat yang tak dapat dijangkau oleh manusia. Bersamaan dengan habisnya asap merang itu tibalah ia pada suatu tempat yang ajaib sekali. Di hadapannya berdiri sebuah istana yang megah, dikelilingi tembok yang kokoh. Tatkala ia berada di dekatnya tiba-tiba pintu gerbang istana itu terbuka sendiri.

Panji Bayan Sangge kemudian memasuki gerbang istana itu. Sebelum memasuki bangunan istana, ia harus melewati halaman yang sangat luas. Saat berjalan di halaman itu, ia melihat seorang laki-laki paruh baya sedang duduk di Berugaq Sekapat. Laki-laki itu menegur, “Hai, orang muda, dari mana asalmu. Apa pula maksud kedatanganmu ke mari? Siapa yang membawamu, hingga berada di tempat ini?”

Dengan hormatnya Panji Bayan Sangge menjawab, “Maaf paman, kedatanganku kemari memang sengaja, untuk menyusul isteriku.”

Dengan terkejut, laki-laki itu bertanya, “Menyusul isterimu? Mana mungkin. Tak seorang pun dari anak-anakku pernah kawin. Jangankan kawin, keluar istana ini pun tak pernah. Berkatalah yang sebenarnya, jangan mengada-ada. Siapa yang memberi petunjuk, siapa yang mengatakan padamu dan di mana pula kamu pernah menjumpai anakku? Cobalah ceritakan kepadaku!”

Panji Bayan Sangge tetap menjawab dengan sikap yang pasti, “Dalam petunjuk sudah jelas, bahwa isteriku berada di tempat ini. Tak mungkin berada di tempat lain. Saya yakin benar bahwa isteriku pasti berada di tempat ini.”

Orang tua itu berkata, “Sekarang aku akan keluarkan semua anak-anakku. Cobalah engkau tunjukkan nanti, yang manakah kau anggap sebagai isterimu. Tetapi harus diingat, apabila nanti kau tak dapat menunjukkan dengan tepat kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu.”

“Saya sanggup,” kata Panji Bayan Sangge.

Maka lelaki tua itu pun mengeluarkan anak-anaknya yang berjumlah sembilan orang. Mereka didudukkan berderet, berhadapan dengan Panji Bayan Sangge. Agak bingung juga Panji Bayan Sangge melihat mereka yang semuanya sebaya dan mempunyai wajah yang hampir sama pula. Namun akhirnya ia dapat menguasai diri. Ia ingat akan kotak serta lalat emas yang terdapat di dalam sakunya. Dengan diam-diam kotak itu dibukanya. Lalat emas itu pun keluar lalu terbang di antara semua wanita yang berderet itu dan akhirnya hinggap di dada salah seorang di antara mereka. Sesudah lalat itu diam dan tidak berpindah lagi, maka Panji Bayan Sangge telah mengetahui yang mana isterinya. Dengan penuh kepastian Panji Bayan Sangge menunjuk salah seorang di antara kesembilan bidadari itu.

Laki-laki tua itu kemudian bertanya, “Dari mana kau dapat mengetahui bahwa dia itu adalah isterimu?”

Panji Bayan Sangge pun memberikan keterangan tentang kegunaan lalat yang dibawanya. Lalu katanya, “Lalat itu hinggap di dada isteri saya. Karena mencium bau amis yang keluar dari susunya, karena dia telah melahirkan seorang putera yang kini sedang diasuh oleh ibu saya.”

“Di mana kau memperoleh lalat itu?” tanya orang tua itu selanjutnya.

“Lalat itu diberikan oleh sebuah suara gaib ketika saya sedang bersemedi dalam mencari upaya untuk menemukan kembali isteri saya ini.”

“Nah, bila demikian halnya baiklah. Aku percaya sekarang. Tak ada hal lagi yang aku ragukan. Pertemuan kalian ini rupanya memang sudah menjadi suratan takdir. Tuhan telah menjodohkan kalian. Sekarang apa sebab kamu ditinggalkan oleh isterimu? Pernahkah kalian dahulu berbicara sewaktu kalian berkeluarga?”

“Tak sekali jua pun,” jawab Panji Bayan Sangge.

Jawaban ini makin menambah keyakinan orang tua itu, bahwa anak muda yang ada di hadapannya itu memang benar menantunya. Lalu orang tua itu memberikan keterangan selanjutnya. “Begini anakku, isterimu selalu membisu, disebabkan karena isterimu mengetahui bahwa dia belum memenuhi persyaratan. Persyaratan itu belum pernah dilakukan. Sekarang di tempat ini akan kita penuhi persyaratan itu. Adapun syarat itu ialah apa yang sering disebut dengan nama Umbaq Lempot. Syarat inilah yang dahulu dibutuhkan oleh isterimu. Di sinilah sekarang kita buat untukmu. Dan, inilah yang harus dilakukan oleh keturunanmu kelak. Cara membuatnya ialah dengan motif Ragi Saja (nama motif kain tenun Sasak). Jadi nama lengkap syarat itu adalah Umbaq Lempot Ragi Saja. Nah inilah kebutuhan utama untuk memenuhi hidup di dunia.”

Beberapa hari setelah Umbaq Lempot Ragi Saja selesai dibuat, Panji Bayan Sangge dan isterinya pun turun ke bumi. Mereka tiba di tempat yang sama ketika Panji Bayan Sangge membakar merang ketan hitam. Dari tempat itu, mereka kemudian pulang ke rumah orang tua angkat Panji Bayan Sangge untuk berkumpul lagi dengan putera mereka yang sudah lama ditinggalkan.

Setelah Panji Bayan Sangge bersama dengan isterinya kembali ke rumah, puteranya yang diberi nama Mas Panji Pengendeng pun sudah agak besar. Karena ibunya adalah seorang bidadari, maka Mas Panji Pengendeng tidak hanya tampan, melainkan juga mempunyai kekuatan-kekuatan tertentu yang membuatnya sakti mandraguna.

Singkat cerita, beberapa tahun kemudian, setelah Mas Panji Pengendeng itu menjadi dewasa, ia meminta izin kepada kedua orang tuanya untuk membuat dan menempati desa baru, yaitu Desa Selong Semoyong. Sebelum putera tunggalnya itu pergi, kedua orang tuanya memberitahukan syarat-syarat agar dapat hidup di dunia dengan aman dan sentosa, yaitu dengan membuat Umbaq Lempot. Selain itu, ada lagi syarat lain yang harus dilaksanakan, yaitu harus mendirikan sebuah Barugaq Sekepat. Pada Barugaq Sekepat inilah akan hadir para leluhur tatkala ada kegiatan-kegiatan atau upacara sedang dilakukan.

Setelah Mas Panji Pengendeng telah lama menetap di Desa Selong Semoyong dan telah beranak-pinak, terjadilah peperangan di Kerajaan Kelungkung di Pulau Bali. Sebelumnya Raja Klungkung pernah mendapat berita bahwa di bumi Selaparang terdapat seorang ksatria perkasa. Yang dimaksud tidak lain adalah Mas Panji Pengendeng sendiri. Maka dibuatlah surat oleh Raja Klungkung, meminta Mas Panji Pengendeng bersedia membantunya untuk menghadapi musuh.

Ketika undangan dibaca oleh Mas Panji Pengendeng, ia merasa malu jika tidak memenuhi undangan Raja Klungkung itu. Akhirnya undangan itu pun diterima dengan baik dan disanggupi bahwa ia akan pergi dan membatu Raja Klungkung. Keberangkatannya ke Kerajaan Klungkung itu tidak hanya membawa pasukan tentara atau laskar biasa, tetapi disertai juga oleh bala samar sebanyak empat puluh empat.

Setelah tiba di Klungkung dan disambut langsung oleh Raja, maka tanpa membuang waktu lagi ia minta ditunjukkan lokasi peperangan dan langsung maju berperang. Di tengah-tengah peperangan yang sedang berkecamuk, nasib malang menimpa Mas Panji Pengendeng yang terkenal sakti mandra guna serta sukar dicari tandingannya itu. Ia terjatuh akibat kakinya tersandung oleh dodotnya sendiri yang bermotif Benang Dua Ragi Poleng (nama motif kain tenun Sasak). Karena malu, ia kemudian memerintahkan para bala samarnya untuk menggotongnya keluar dari medang perang dan langsung kembali ke Lombok tanpa memberitahukan terlebih dahulu kepada Raja Klungkung.

Namun, saat sampai di tanah Lombok ia tidak pulang ke Selong Semoyong, tetapi menuju Gawah Toaq. Setelah tiga hari berada di Gawah Toaq, ia pun memerintahkan bala samarnya agar pergi ke Selong Semoyong untuk memberitahukan keluarganya.

Setelah berita itu tiba di Selong Semoyong, keluarganya sangat terkejut dan panik. Mereka lalu mempersiapkan semua kebutuhan, dan segera berangkat menuju Gawah Toaq. Saat seluruh keluarga telah berada di Gawah Toaq, mereka meminta agar Mas Panji Pengendeng bersedia dibawa pulang ke Selong Semoyong. Dan, kemauan keluarga ini dipenuhi Mas Panji Pengendeng. Mereka pun berjalan beriringan meninggalkan Gawah Toaq menuju Selong Semoyong.

Tatkala rombongan tiba di daerah Embung Puntiq, kondisi Mas Panji Pengendeng kelihatan makin parah. Mas Panji Pengendeng berkata, “Sebaiknya kita beristirahat di sini. Aku sudah terlalu payah dan mungkin tak dapat sampai ke Selong Semoyong. Oleh karena itu mendekatlah kemari semua anak-anakku dan yang lainnya. Dengarkan baik-baik. Seandainya nanti aku meninggal dunia di tempat ini, kuminta janganlah jenazahku dimakamkan ataupun dibakar. Agar kelak bila ada anak cucuku ingin menziarahiku, mereka terbebas dari perasaan enggan. Biarlah agar semua orang dapat berkunjung ke tempat ini. Bila mereka datang menziarahiku, hendaklah mereka berkeliling sekurang-kurangnya satu kali. Boleh juga dilakukan tiga, lima, tujuh ataupun sembilan kali. Maksudnya supaya anak cucuku yang bergama Islam kelak dapat meniatkan diri belajar tawaf di Mekkah. Juga aku pesankan pada kalian agar mengunjungi sekurang-kurangnya dua kali dalam setahun. Yaitu menjelang musim penghujan, ketika bibit padi sudah mulai disiapkan. Dan kedua, sewaktu menanam padi telah selesai. Melalui tempat inilah kalian memohon kepada Yang Maha Kuasa agar selalu diberikan rahmat-Nya. Dan, janganlah membawa alat-alat pecah belah. Tempat ini adalah hutan. Kalau kalian terjatuh akan menimbulkan kerugian. Cukuplah dengan membawa takilan saja. Lauk pauknya janganlah mewah. Yang penting kalian tetap datang ke tempat ini pada waktu yang telah kusebutkan tadi. Satu hal lagi yang terlarang bagimu kemari adalah mamakai kain sebangsa Ragi Poleng, karena penderitaanku ini akibat tersandung dodot Benang Dua Ragi Poleng dalam peperangan di Klungkung.”

Selesai mengucapkan wasiat itu, Mas Panji Pengendeng meminta disiapkan tempat tidur. Ia ingin beristirahat karena merasa lukanya bertambah parah. Setelah tenda dan tempat tidurnya siap, Mas Panji Pengendeng dipapah dan dibaringkan di situ. Beberapa saat kemudian, para pengiring mengira bahwa Mas Panji Pengendeng sedang tidur dengan pulasnya. Mereka tidak menyadari bahwa junjungannya itu telah tiada. Mas Panji Pengendeng telah meninggalkan dunia yang fana ini dan segera menghadap Tuhan.

Pagi harinya, setelah tahu bahwa Mas Panji Pengendeng telah wafat, seluruh rombongan menjadi panik. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan terhadap jenazah Mas Panji Pengendeng. Akan dibawa kembali ke Selong Semoyang, tak mungkin karena wasiat sudah digariskan lain. Sampai siang hari mereka bingung tak tentu apa yang harus dilakukannya. Tetapi tatkala akan menjenguk jenazah, ternyata jenazah itu tidak ada di tempatnya. Hilang entah ke mana, yang tinggal hanyalah tempat tidurnya saja. Kain penutup jenazah juga tidak ada lagi. Peristiwa ini cocok benar dengan wasit yang telah diberikan. Jenazahnya jangan dikuburkan atau dibakar. Rupanya peristiwa inilah yang dimaksudkan. Maka, oleh masyarakat Selong Semoyang pada tempat di mana Mas Panji Pengendeng meninggal dunia dan akhirnya menghilang dibuat sebuah makam. Dan, makam itu hingga saat ini terkenal dengan nama Makam Embung Puntiq.

3. Cerita Rakyat Raga Dundang

Tersebutlah sebuah cerita tentang seorang pemuda bernama Raga Dundang yang mempunyai kerbau sebanyak seratus tiga puluh ekor. Kerbau yang terbesar bernama si Pendok dan yang paling kecil diberi nama si Pendek Gendang. Kerbau-kerbau itu sering digembalakan oleh Raga Dundang di sebuah gunung yang terkenal dengan nama Gunung Tela. Akibat dari seringnya kerbau-kerbau itu mendatangi Gunung Tela, maka di salah satu bagian lereng gunung itu terbentuk sebuah alur yang dari kejauhan tampak bagaikan sebuah sungai yang membelah gunung.

Sedangkan apabila kerbau-kerbaunya ingin berkubang, maka Raga Dundang akan membawa mereka ke sebuah muara sungai yang berada di pantai yang bernama Selong. Di sanalah kerbau-kerbau itu minum dan berkubang sepuas-puasnya. Setelah puas berkubang, Raga Dundang kemudian akan menggembalakan mereka ke sebuah padang rumput yang bernama Panoq. Padang rumput yang berada di Desa Rembitan ini dipilih karena letaknya yang relatif dekat dengan muara jika dibandingkan dengan padang rumput yang ada di Gunung Tela.

Pada saat menggembalakan kerbau-kerbaunya di padang Panoq inilah ia selalu didatangi oleh seorang lelaki yang usianya baru sekitar 17 atau 18 tahun. Lama kelamaan, karena sering bertemu dan berbincang maka terjadilah suatu persahabatan di antara mereka. Dan, sejak saat itu Raga Dundang tidak lagi menggembalakan kerbau-kerbau miliknya di Gunung Tela, melainkan ke padang Panoq agar ia dapat berjumpa dan bertukar pikiran dengan lelaki muda itu.

Suatu hari saat mereka bertemu pada hari Jumat, lelaki muda itu mengajaknya untuk bersholat Jumat. Namun karena khawatir kalau kerbau-kerbaunya akan berkurang dan ia sebenarnya juga belum mengetahui secara pasti siapa lelaki muda yang menjadi sahabatnya itu, maka ia pun berkata, “Bukannya aku menolak ajakanmu itu sahabatku, tetapi apabila kerbau-kerbau ini aku tinggalkan kemungkinkan besar jumlahnya akan berkurang karena dicuri orang.”

“Mengapa hal itu engkau risaukan. Biarkanlah kerbau-kerbau itu ditempat ini. Semoga atas perlindungan Tuhan, tak seorang pun akan mengganggunya,” jawab sang lelaki muda.

“Kalau ucapanmu benar, baiklah. Aku akan turut bersamamu.”

Kedua pemuda itu pun kemudian berangkat bersama-sama menuju ke arah barat. Sang lelaki muda berjalan di depan, sedangkan Raga Dundang mengikutnya dari belakang. Sepanjang perjalanan mengikuti sahabat barunya itu Raga Dundang merasa dirinya berjalan sangat cepat di atas lautan yang luas. Dalam hatinya ia merasa heran, takjub dan sekaligus takut dengan apa yang sedang dialaminya. Namun ia tidak berani bertanya dan hanya mengikuti sahabatnya dari belakang sambil berdoa agar selamat sampai ke tujuan.

Beberapa saat kemudian sampailah mereka di sebuah masjid besar yang bertingkat dua. Sang lelaki muda lalu berkata pada Raga Dundang, “Engkau sholat di dekat pintu masuk masjid ini saja. Aku akan sholat di atas.”

“Masjid ini begitu besar dan jumlah jemaahnya pun sangat banyak. Aku khawatir kita tak dapat bertemu lagi. Dan, apabila kita tidak berjumpa kembali, bagaimana aku akan pulang?” tanya Raga Dundang.

“Jangan takut. Aku akan mencarimu. Nah, sekarang sholatlah di sini!” kata lelaki muda itu sambil berlalu meninggalkan Raga Dundang.

Singkat cerita, setelah sholat Jumat Raga Dundang hanya diam di tempatnya semula. Ia tidak berani keluar dari masjid karena takut kalau tidak dapat berjumpa lagi dengan pemuda sahabatnya. Dari tempatnya duduk ia selalu mengawasi dengan teliti setiap orang yang turun dari lantai atas masjid. Namun setelah sekian lama mengawasi, hatinya menjadi gundah karena tidak juga melihat sahabatnya.

Di saat hatinya semakin bertambah gundah, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundaknya sambil berkata, “Raga Dundang marilah kita pulang.”

Mengetahui yang menepuk pundaknya adalah sahabatnya, Raga Dundang menjadi gembira. Mereka pun segera pulang kembali menuju padang Panoq. Dalam perjalan pulang itu mereka melewati lagi lautan luas hanya dengan berjalan kaki. Dan, walau langkah kakinya dirasa sangat cepat, namun ia tidak merasakan lelah sedikit pun.

Sesampainya kembali di padang Panoq Raga Dundang melihat kerbau-kerbaunya masih lengkap seperti semula. Mereka lalu berbincang sejenak di bawah sebuah pohon yang rindang hingga hari menjelang sore. Setelah itu mereka berpisah. Raga Dundang kembali ke rumah sambil menggiring kerbau-kerbaunya. Sedangkan si pemuda misterius pulang ke arah barat.

Keesokan harinya mereka bertemu kembali di padang Panoq. Saat mereka sedang asyik berbincang datanglah seorang perempuan yang diutus oleh ibu Raga Dundang untuk membawakan makan siang bagi anaknya. Setelah makanan siap dihidangkan Raga Dundang mempersilahkan lelaki itu untuk makan bersama. Lelaki muda itu hanya memakan hidangan yang berupa nasi dan sayur-mayur, sebab ia berpantang memakan lauk-pauk yang berasal dari makhluk bernyawa.

Selesai makan mereka lalu berbincang-bincang kembali sambil mengawasi kerbau-kerbau yang digembalakan. Dalam perbincangan itu Raga Dundang mengeluh pada si pemuda bahwa saat ini sedang banyak terjadi pencurian binatang ternak. Para pencuri ternak biasanya melakukan aksinya secara berkelompok, sehingga dalam sekali pencurian dapat membawa tiga atau empat ekor ternak sekaligus. Hal ini membuat dirinya menjadi khawatir, sebab agak sulit baginya apabila harus menjaga seluruh ternaknya terus-menerus sepanjang hari.

Mendengar keluh kesah Raga Dundang, sang pemuda menjadi kasihan dan kemudian mengeluarkan sebuah tongkat dari balik punggungnya untuk diberikan kepadanya. Menurutnya tongkat yang diberi nama Lego Bereng ini sangat berguna untuk menghalau orang-orang yang akan mencuri ternaknya. Namun sang pemuda mengharapkan agar tongkat yang diberikannya digunakan dengan sangat hati-hati, sebab apabila tongkat itu dipukulkan pada makhluk hidup maka yang dipukul akan berubah menjadi batu untuk selama-lamanya.

Singkat cerita, sejak diberi tongkat Logo Bereng hidup Raga Dundang menjadi lebih tenang dan tidak merasa takut lagi kalau kerbau-kerbau miliknya akan diambil orang. Namun hal itu hanya berlangsung selama beberapa minggu saja sebelum terjadi suatu malapetaka yang menimpa dirinya sendiri. Malapetaka yang menimpa Raga Dundang berawal tatkala ia sedang berada di muara sungai dekat pantai Selong untuk memandikan kerbau-kerbau miliknya. Waktu itu setelah sekian lama berkubang, si Pendok (kerbau yang terbesar) tetap tidak mau keluar dari air. Kelakuan si Pendok yang merupakan pemimpin kelompok tentu saja diikuti pula oleh teman-temannya, sehingga seluruh kerbau tetap berada di dalam air.

Melihat kejadian itu Raga Dudang menjadi heran. Biasanya apabila si Pendok sudah merasa puas berkubang ia akan mengajak kawan-kawannya ke darat untuk langsung menuju ke padang Panoq. Namun karena hari itu terlalu panas, maka mungkin si Pendok enggan untuk keluar dari kubangannya. Dan, agar si Pendok tidak berlama-lama di kubangan, maka Raga Dundang pun segera turun menghampirinya. Tetapi si Pendok tidak memperdulikan kedatangan Raga Dundang. Ia terus saja berkubang dengan enaknya.

Karena setelah dihampiri si Pendok seakan tidak peduli, maka tanpa disadari Raga Dundang memukul punggung si Pendok dengan tongkat Lego Bereng. Seketika itu juga si Pendok berubah menjadi batu. Kemudian Raga Dundang menghampiri kerbau yang ada di samping si Pendok. Namun karena kerbau itu tidak mau bangun, maka Raga Dundang memukulkan tongkatnya lagi sehingga kerbau itupun juga menjadi batu. Begitu seterusnya, satu per satu kerbaunya dipukul dengan tongkat Lego Bereng hingga seluruhnya berubah menjadi batu.

Setelah semuanya menjadi batu barulah Raga Dundang sadar akan kekhilafannya. Ia menjadi sangat menyesal dan tidak tahu harus berbuat apa. Apabila kejadian ini ia laporkan pada orang tuanya, tentu saja mereka tidak akan percaya dan menilai bahwa itu hanyalah akal-akalannya saja karena tidak dapat mempertanggung-jawabkan perbuatannya.

Oleh karena sudah sangat bingung, maka akhirnya ia memutuskan untuk memukul dirinya sendiri dengan tongkat Lego Bereng. Namun sebelum perbuatan itu dilakukan, ia mengeluarkan kata-kata wasiat yang berbunyi: “Semoga pada masa yang akan datang tempat ini berguna bagi orang banyak. Sapi, kerbau, kuda ataupun kambing yang kurus karena tak nafsu makan, akan menjadi sehat dan gemuk bila diberi minum dengan air yang dimbil dari tempat ini. Dan, apabila ada orang yang menderita encok dan sakit kepala mau meminum air dari tempat ini maka penyakitnya akan sembuh.” Selesai mengucapkan kata-kata wasiatnya, lalu tongkat Lego Bereng dipukulkan ke tubuhnya sendiri. Seketika itu juga Raga Dundang berubah menjadi batu.

Beberapa hari kemudian ketika Raga Dundang tidak kunjung pulang ke rumah, orang tuanya menjadi sangat khawatir. Oleh karena itu ibu Raga Dundang menyuruh suaminya untuk mencari ke tempat-tempat yang biasa didatangi Raga Dundang ketika sedang menggembalakan kerbau-kerbaunya. Ibunya merasa khawatir kalau Raga Dundang telah diganggu atau dicelakakan oleh kawanan pencuri ternak yang sedang marak di desanya.

Sang ayah pun segera berangkat mencari Raga Dundang. Tujuan pertamanya adalah ke Gunung Tela, namun di tempat itu ia tidak menjumpai Raga Dundang. Kemudian ia pergi lagi menuju ke padang Panoq. Di tempat itu ia berjumpa dengan pemuda misterius sahabat Raga Dundang. Ayah Raga Dundang lalu mendekati si pemuda dan bertanya, “Hai anak muda, adakah engkau melihat seorang pemuda yang biasa menggembalakan kerbaunya yang berjumlah sekitar 130 ekor di sini?”

“Dia sedang berada di muara laut Selong,” kata si pemuda singkat.

Mendengar keterangan lelaki muda itu, Ayah Raga Dundang langsung pamit untuk menuju ke laut Selong. Tetapi alangkah kecewanya ia tatkala tiba di muara laut Selong yang dijumpainya hanyalah batu-batu besar yang sebagian besar bentuknya mirip kerbau. Di antara sekian banyak batu tersebut ada sebuah batu yang mirip seperti orang yang sedang berdiri yang merupakan penjelmaan dari Raga Dundang.

Mula-mula ayah Raga Dundang merasa kesal karena tidak menemukan anaknya. Ia pun kemudian duduk di sebuah batu besar sambil memandang ke arah batu-batu yang berbentuk seperti kerbau itu. Namun setelah agak lama memperhatikan seluruh batu di tempat itu, terutama batu yang berbentuk seperti manusia sedang berdiri, maka akhirnya ia sadar bahwa batu-batu tersebut merupakan penjelmaan dari anak dan kerbau-kerbaunya. Ayah Raga Dundang menjadi terkejut setengah mati dan hampir pingsan, namun ia berhasil menguasai diri dan langsung berlari pulang untuk menceritakan kejadian itu kepada isterinya.

4. Cerita Rakyat Legenda Batu Nong

Di Kabupaten Sumbawa, tepatnya di Sungai Lengkong, Desa Lekong, Kecamatan Alas, terdapat sebuah batu besar, bulat, tinggi, bagian atasnya datar, dan seakan menggantung pada tebing sebuah bukit. Sesuai dengan namanya yaitu “nong” yang dapat diartikan sebagai “melihat ke bawah dari atas”, orang dapat melihat pemandangan di sekelilingnya dengan jelas apabila berada di atas batu nong. Namun haruslah berhati-hati karena jika dilihat dari bawah posisi batu nong sangatlah “mengkhawatirkan.” Apabila terjadi suatu getaran di perut bumi, kemungkinan batu tersebut akan runtuh.

Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar Kecamatan Alas, batu nong bukanlah sekadar batu biasa yang terbentuk oleh alam. Batu nong memiliki “sejarahnya” sendiri yang tersaji dalam sebuah cerita rakyat. Berikut ini adalah kisahnya.

Alkisah, tersebutlah sebuah negeri makmur, aman, dan damai. Di negeri ini tidak pernah terdengar perselisihan di antara penduduknya. Mereka, baik laki-laki maupun perempuan, mempunyai hak yang sama, kecuali sebuah larangan bagi seorang laki-laki mencuci pantat anaknya yang baru selesai buang air besar. Larangan atau tabu mencuci pantat anak ini diyakini benar oleh warga masyarakat karena konon dapat mendatangkan malapetaka bagi yang melanggarnya.

Suatu hari, terdengarlah berita bahwa negeri tetangga akan mengadakan sebuah perhelatan besar. Sudah barang tentu berita ini disambut gembira oleh semua orang, tidak terkecuali sebuah keluarga di negeri yang mempunyai tabu “aneh” itu. Sang Isteri dalam keluarga itu merengek pada suaminya agar diizinkan menonton keramaian. Alasannya, sejak kawin hingga anaknya tidak menyusu lagi belum pernah mendapat kesempatan menonton keramaian.

“Bolehkah saya menonton keramaian di negeri tetangga?” tanya Sang Isteri.

“Kalau nanti anak kita buang air besar bagaimana?” tanya Sang Suami.

“Saya tidak akan menginap. Tunggu saya datang saja baru dibersihkan,” kata isterinya lagi.

“Baiklah kalau engkau tetap bersikeras hendak menonton,” kata suaminya mengalah.

Perkiraan Sang Isteri ternyata salah karena untuk dapat mencapai lokasi keramaian di negeri tetangga dibutuhkan lebih dari satu hari perjalanan. Dan, ketika sampai di sana dia pun lupa pada anak dan suaminya hingga tidak terasa telah tiga hari waktu berlalu.

Sementara di rumah, Sang suami sudah mulai tidak tahan mencium bau yang sangat busuk. Bau itu keluar pantat anaknya yang telah tiga kali buang kotoran. Oleh karena sudah tidak kuat lagi, dia lalu membawa anaknya ke kamar mandi untuk dibersihkan. Dia tidak menyadari kalau hal itu merupakan sebuah tabu yang dapat mendatangkan malapetaka berupa kutukan.

Malam harinya, kutukan itu pun datang. Sekujur tubuh Sang suami secara perlahan mulai bersisik, tangan dan kakinya mengerut dan akhirnya menjadi seekor naga yang berkepala manusia. Barulah dia sadar kalau telah melanggar tabu, tetapi apa hendak dikata, nasi pun telah menjadi bubur.

Beberapa hari setelahnya, Sang isteri pulang bersama teman-teman sekampungnya. Sesampainya di rumah, dia terkejut dan langsung menjerit melihat tubuh suaminya yang telah beralih wujud menjadi seekor naga.

Agar isterinya tidak sedih bercampur malu, Sang Suami berkata, “Wahau Isteriku, janganlah engkau bersedih. Ini semua akibat perbuatanku yang secara tidak sengaja membasuh pantat anak kita. Aku sudah tidak tahan mencium bau busuk dari kotoran yang dikeluarkan anak kita”.

“Lalu aku harus berbuat bagaimana,” tanya Sang isteri kebingungan.

“Sekarang belilah sebuah tempayan besar di pasar. Kemudian, masukkanlah aku dalam tempayan itu dan taruh di tepi sungai,” kata Sang suami.

Dengan perasaan sedih bercampur penyesalan, Sang isteri pun menuruti perintah suaminya. Dan, sejak saat itu setiap hari dia selalu pergi ke tepi sungai untuk mengantarkan makanan bagi suaminya. Hal itu dilakukannya selama bertahun-tahun hingga suatu hari terjadilah peperangan dengan negeri tetangga. Seluruh penjuru negeri menjadi porak-poranda hingga mengakibatkan banyak orang kehilangan nyawanya.

Sementara yang masih hidup berusaha mengungsi untuk menyelamatkan diri masing-masing. Ada yang bersembunyi di dalam hutan, ada yang bersembunyi di puncak gunung, dan ada pula yang memanfaatkan sungai untuk pindah ke tempat lain menggunakan perahu. Diantara para pengungsi yang menggunakan perahu tersebut adalah isteri Sang Naga.

Sang isteri bersama puluhan orang lainnya berlayar selama berhari-hari mencari daerah yang dianggap aman. Rombongan pengungsi itu tidak sadar kalau ada sebuah tempayan besar berisi seekor ular naga yang selalu mengikuti hingga mereka berhenti di suatu tempat dekat muara Sungai Lekong, Sumbawa bagian barat.

Malam harinya ketika sebagian pengungsi sudah terlelap dalam gubuk-gubuk sederhana yang masih bersifat sementara, tiba-tiba Sang pemilik perahu merasa perutnya mulas dan ingin buang air besar. Dengan tergopoh-gopoh, dia berjalan menuju perahunya untuk buang air di tepi muara sungai. Tetapi sebelum sempat melaksanakan hajatnya, dia terkejut karena melihat sebuah tempayan besar yang menghalangi aliran air sungai.

Sang pemilik perahu menjadi lebih terkejut lagi ketika mendengar sebuah suara dari dalam tempayan, “Aku harus pindah ke tebing di bukit itu. Tubuhku sudah tidak muat lagi dalam tempayan ini.”

Belum sempat hilang dari rasa keterkejutannya, tiba-tiba Sang pemilik perahu melihat tempayan itu terbang dan menempel pada tebing di dekat para pengungsi mendirikan gubuk. Ketika telah menempel di tebing, berangsur-angsur tempayan tersebut berubah menjadi sebuah batu besar.

Pagi harinya, ketika seluruh pengungsi sudah bangun dari tidurnya, Sang Juragan Perahu langsung menceritakan pengalamannya yang luar biasa itu. Penasaran akan cerita Sang Juragan Perahu, para pengungsi pun lantas beramai-ramai naik ke bukit. Setelah sampai di atas bukit, sebagian diantaranya berdiri di atas batu besar itu. Dari atas batu ternyata mereka dapat melihat alam semesta yang terbentang indah, terutama daratan yang berada di bawahnya. Oleh karena takjub, batu tersebut kemudian mereka beri nama Batu Nong yang dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai “batu tempat melihat ke bawah dari atas”.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.