2 Cerita Rakyat dari Kalimantan Timur | Cerita Rakyat Nusantara

Kalimantan Timur mempunyai banyak cerita rakyat, Nah dalam artikel kali ini kami akan menyampaikan 2 cerita rakyat dari Kalimantan Timur yang mungkin Anda belum pernah mendengarnya. Yuk simak selengkapnya.

1. Cerita Rakyat Legenda Naga Erau dan Putri Karang Melenu

Dahulu kala di Kampung Melanti, Hulu Dusun, berdiamlah sepasang suami istri yang bernama Petinggi Hulu Dusun dan Babu Jaruma. Usia mereka sudah cukup lanjut, namun belum juga mendapatkan keturunan. Mereka selalu memohon kepada Dewata agar dikaruniai seorang anak sebagai penerus keturunannya.

Suatu hari, keadaan alam di sekitar Hulu Dusun menjadi sangat buruk. Hujan turun dengan sangat lebat selama tujuh hari tujuh malam. Petir menyambar silih berganti diiringi gemuruh guntur dan tiupan angin yang cukup kencang. Tak seorang pun penduduk Hulu Dusun yang berani keluar rumah, termasuk Petinggi Hulu Dusun dan istrinya.

Pada hari yang ketujuh, persediaan kayu bakar untuk keperluan memasak keluarga ini sudah habis. Untuk keluar rumah mereka tak berani karena cuaca yang sangat buruk. Akhirnya Petinggi memutuskan untuk mengambil salah satu kasau atap rumahnya untuk dijadikan kayu bakar.

Namun, ketika Petinggi Hulu Dusun membelah kayu kasau, alangkah terkejutnya ia melihat seekor ulat kecil sedang melingkar dan memandang kearahnya dengan matanya yang halus, seakan-akan minta dikasihani dan dipelihara. Pada saat ulat itu diambil Petinggi, keajaiban alam pun terjadi. Hujan yang tadinya lebat disertai guntur dan petir selama tujuh hari tujuh malam, seketika itu juga menjadi reda. Hari kembali cerah seperti sedia kala, dan sang surya pun telah menampakkan dirinya dibalik iringan awan putih. Seluruh penduduk Hulu Dusun bersyukur dan gembira atas perubahan cuaca ini.

Ulat kecil tadi dipelihara dengan baik oleh keluarga Petinggi Hulu Dusun. Babu Jaruma sangat rajin merawat dan memberikan makanan berupa daun-daun segar kepada ulat itu. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, ulat itu membesar dengan cepat dan berubah menjadi seekor naga.

Suatu malam, Petinggi Hulu Dusun bermimpi bertemu seorang putri yang cantik jelita yang merupakan penjelmaan dari naga tersebut. Sang putri berkata, “Ayah dan bunda tak usah takut dengan ananda. Namun, karena ananda sudah besar dan menakutkan orang di desa ini, izinkanlah ananda untuk pergi. Buatkanlah sebuah tangga agar ananda dapat meluncur ke bawah.”
Pagi harinya, Petinggi Hulu Dusun menceritakan mimpinya kepada sang istri. Mereka berdua lalu membuatkan sebuah tangga yang terbuat dari bambu.

Ketika naga itu bergerak hendak turun, ia berkata dan suaranya persis seperti suara putri yang didengar dalam mimpi Petinggi semalam, “Bilamana ananda telah turun ke tanah, maka hendaknya ayah dan bunda mengikuti kemana saja ananda merayap. Disamping itu ananda minta agar ayahanda membakar wijen hitam serta taburi tubuh ananda dengan beras kuning. Jika ananda merayap sampai ke sungai dan telah masuk kedalam air, maka iringilah buih yang muncul di permukaan sungai.”

Sang naga pun merayap menuruni tangga itu sampai ke tanah dan selanjutnya menuju ke sungai dengan diiringi oleh Petinggi dan isterinya. Setelah sampai di sungai, berenanglah sang naga berturut-turut 7 kali ke hulu dan 7 kali ke hilir dan kemudian berenang ke Tepian Batu. Di Tepian Batu, sang naga berenang ke kiri 3 kali dan ke kanan 3 kali dan akhirnya ia menyelam.

Di saat sang naga menyelam, timbullah angin topan yang dahsyat, air bergelombang, hujan, guntur dan petir bersahut-sahutan. Perahu yang ditumpangi petinggi pun didayung ke tepian. Seketika keadaan menjadi tenang kembali, matahari muncul kembali dengan disertai hujan rintik-rintik. Petinggi dan isterinya menjadi heran. Mereka mengamati permukaan sungai Mahakam, mencari-cari dimana sang naga berada.

Tiba-tiba mereka melihat permukaan sungai Mahakam dipenuhi dengan buih. Pelangi menumpukkan warna-warninya ke tempat buih yang meninggi di permukaan air tersebut. Babu Jaruma melihat seperti ada kumala yang bercahaya berkilau-kilauan. Mereka pun mendekati gelembung buih yang bercahaya tadi, dan alangkah terkejutnya mereka ketika melihat di gelembung buih itu terdapat seorang bayi perempuan sedang terbaring didalam sebuah gong. Gong itu kemudian meninggi dan tampaklah naga yang menghilang tadi sedang menjunjung gong tersebut. Semakin gong dan naga tadi meninggi naik ke atas permukaan air, nampaklah oleh mereka binatang aneh sedang menjunjung sang naga dan gong tersebut. Petinggi dan istrinya ketakutan melihat kemunculan binatang aneh yang tak lain adalah Lembu Swana, dengan segera petinggi mendayung perahunya ke tepian batu.

Tak lama kemudian, perlahan-lahan Lembu Swana dan sang naga tenggelam ke dalam sungai, hingga akhirnya yang tertinggal hanyalah gong yang berisi bayi dari khayangan itu. Gong dan bayi itu segera diambil oleh Babu Jaruma dan dibawanya pulang. Petinggi dan istrinya sangat bahagia mendapat karunia berupa seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Bayi itu lalu dipelihara mereka, dan sesuai dengan mimpi yang ditujukan kepada mereka maka bayi itu diberi nama Puteri Karang Melenu. Bayi perempuan inilah kelak akan menjadi istri raja Kutai Kartanegara yang pertama, Aji Batara Agung Dewa Sakti.

2. Cerita Rakyat Asal Usul Danau Lipan

Pada zaman dahulu kala di suatu daerah Muara Kaman, sekitar 120 kilometer arah hulu Tenggarong, ibukota Kabupaten Kutai Kartanegara merupakan sebuah lautan. Tepi lautnya ketika itu berada di Berubus, yang saat ini bernama Kampung Ulu atau Benua Lawas. Pada saat itu di Barubus ada sebuah sebuah kerajaan yang bandarnya sangat ramai dikunjungi orang.

Kerajaan itu tidak hanya terkenal karena bandarnya saja melainkan juga karena ada seorang puteri cantik jelita yang bernama Putri Aji Bedarah Putih. Dinamakan demikian, tak lain karena bila sang puteri makan sirih dan menelan air sepahnya, maka tampaklah air sirih yang merah itu mengalir melalui kerongkongannya.

Kejelitaan dan sekaligus keanehan Putri Aji Berdarah Putih terdengar pula oleh seorang raja yang ada di daratan Cina. Merasa tertarik, Sang Raja Cina beserta bala tentaranya segera berangkat menggunakan sebuah jung besar untuk meminang Putri Aji Berdarah Putih.

Singkat cerita, sebelum menyampaikan pinangannya, Raja Cina terlebih dahulu dijamu dengan santap bersama oleh Sang Putri yang ternyata tidak hanya cantik melainkan juga pandai dan bijaksana. Dalam acara makan bersama itu Sang Putri merasa kaget sekaligus jijik melihat cara makan Raja Cina beserta beberapa orang pengawalnya. Mereka makan dengan cara menyesap, yaitu tidak mempergunakan tangan melainkan langsung dengan mulut seperti binatang.

Perbedaan budaya tersebut membuat Putri Aji Berdarah Putih merasa tersinggung. Dia merasa telah dilecehkan oleh Raja Cina. Alhasil, ketika selesai makan bersama dan lamaran Raja Cina diajukan, serta merta Sang Putri menolak dengan penuh murka sambil berkata, “Betapa hinanya seorang putri berjodoh dengan manusia yang cara makannya saja menyesap seperti anjing.”

Pernyataan itu tentu saja membangkitkan kemarahan luar biasa pada Raja Cina. Sudah lamarannya ditolak mentah-mentah, hinaan pula yang diterima. Ia pun segera menuju ke jung untuk kembali dengan segenap bala tentaranya guna menghancurkan kerajaan dan menawan Sang Putri. Perang dahsyat pun terjadi.

Namun, dalam perang tersebut bala tentara Aji Berdarah Putih tidak dapat menangkis serbuan tentara Raja Cina yang mengamuk dengan garangnya. Sang Putri yang menyaksikan jalannya pertempuran yang tidak seimbang merasa sedih bercampur geram. Ia merasa bahwa peperangan itu akan dimenangkan oleh tentara Raja Cina. Sang Putri segera memakan sirih pinang seraya berucap, “Kalau benar aku ini titisan raja sakti, maka jadilah sepah-sepahku ini lipan-lipan yang akan memusnahkan Raja Cina beserta bala tentaranya.”

Selesai berkata demikian, diseburkannyalah sepah dari mulutnya ke arah peperangan yang tengah berkecamuk. Dan, dalam sekejap mata sepah sirih Sang Putri tadi berubah menjadi ribuan ekor lipan berukuran sangat besar yang langsung menyerang pasukan Raja Cina.

Satu demi satu bala tentara Raja Cina yang gagah perkasa itu dibinasakan. Sisanya, termasuk Raja Cina, segera lari lintang pukang menuju jung hendak meninggalkan Muara Kaman. Tetapi ternyata pasukan lipan tidak memberi kesempatan mereka untuk meninggalkan Muara Kaman Hidup-hidup. Dengan bergelombang mereka menyerbu terus sampai ke perahu jung hingga Raja Cina beserta seluruh pengawalnya tewas. Raja beserta para pengawalnya itu akhirnya di tenggelamkan bersama dengan jung mereka.

Dan, tempat jung Raja Cina tenggelam yang saat ini telah mendangkal dan menjadi daratan dengan padang yang luas kemudian diberi nama dengan Danau Lipan.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.